Always be grateful

Always be grateful
Just enjoy the path...

Dear YOU

Hello pals!

You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life

Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.

So, enjoy the pieces of mine ^^

Friday, December 16, 2011

That chemistry come again...

Aku memiliki rasa itu lagi. Seakan semuanya terasa dejavu. Dari sekian banyak yang tak melihatnya, aku melihatnya dan memperhatikannya tepat di saat aku tiba di sana. Dia dengan segala pesonanya menyihirku. Sepanjang acara aku selalu mengagumi pesonanya yang membuatku bersemangat menjalani acara itu. 

Kamu bagai batu di tepi pantai yang diam dan tenang meski ombak berlarian ke arahmu.
Kamu seperti bintang yang bersinar terang diantara bintang-bintang lainnya.
Tak sepatah katapun mampu kuucapkan kepadamu.

Aku kembali merasakan itu. Namun apalah artinya pertemuan itu. Kini, kita kembali ke dunia masing-masing. Apalah makna rasa itu. Semu. Kosong.

Sampoerna Best Student Visit 2011 13-15 Desember 2011

Locations : Novotel Surabaya, House of Sampoerna, Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna, Internal Cultural Center Pandaan, PT. HM Sampoerna, Tbk.


Here I was.. Met and make friends with best students from 23 universities all around Indonesia...


UNPAR team!


So much fun and happy.. Cherish the chance and the moments with them...

Day 1: Fun Learning and House of Sampoerna visit



Fun Learning Activities


House of Sampoerna


Surabaya! City of heroes





Day 2: Amazaing Race at Pusat Pelatihan Kewirausahaan Sampoerna and farewell party at International Cultural Center Pandaan
Amazing Race team- KANCIL
ICC Pandaan


Day 3: Meeting managament at PT. HM Sampoerna, Tbk.












Actually I think I'm not the best from my university, there are lots of friends better than me, but I'm just the lucky one who got the opportunity to join that program.

3 days.. hmm.. that's really short time to know each other, moreover my short term memory can't even remember 69 names. But I did enjoy those moments with them. Learned how to tolerate others, how to work with others from different cultures, how to make joke from different styles. 

Photograph capture the moments and make the memories remain eternal...

Hope one day in future we can meet together again, Friends! Good luck and keep in touch :D


PT HM Sampoerna, Tbk,

5th month in 21st

Aloha.... hmmm,., this is really hectic month i think... tapi aku sungguh menikmatinya dan tak sabar menanti bulan terakhir di tahun ini... Skripsi harus aku selesaikan dalam bulan ini sehingga waktuku cukup tersita untuk itu. Mengenai kerjaan, entah bisa disebut aku telah resign atau tidak, yang pastinya aku tidak terlalu banyak mengurus lagi. Mungkin inilah saatnya untuk melepas. :D Bulan ini juga bisa dikatakan bulan hedon. Pengeluaranku habis untuk biaya bolak-balik jakarta dalam rangka interview kerja dan tentunya big sale yang telah menyambut akhir tahun. Di akhir bulan November, kelas seminarku mengadakan pesta perpisahan. Pada malam itu, kami seakan menjadi dekat sekali, dan aku tak yakin rasa seperti itu akan berlanjut. Seperti pepatah yang mengatakan, jika mudah dekat, maka akan mudah berpisah. Jika rasa itu mudah dibangun, maka akan mudah juga hilang. Yah, tapi diriku telah terbiasa dengan semua hal yang tak abadi itu bahkan cenderung bersifat sementara. Sakit, hancur, dan sedih telah menjadi makananku sehari-hari, bukan? Aku tidak akan mempermasalahkan itu semua karena bahkan hati ini telah mati rasa menemani semua. Jadi, cukup mengikuti harus tanpa berharap yang terlalu. Awal bulan Desember, aku masih disibukkan oleh penyelesaian skripsi sehingga tiga hari berturut-turut aku menyelesaikan untuk menyerahkannya kepada dosen pembimbing. Syukurlah, drafku telah disetujui oleh dosen ko-pembimbing. Minggu pertama bulan terakhir tahun ini, aku berbagi kasih kepada anak-anak SLB dengan memberikan mereka donat. Tak penting aku memberikannya sendiri atau tidak, yang terpenting mereka dapat menikmatinya dan merasa bahagia. Sisa tiga minggu selanjutnya bisa jadi akan menyenangkan atau membosankan. Sekali lagi, nikmati aja dan tetap bersyukur!

Saturday, November 26, 2011

Berpacu dengan Waktu

"Bekerjalah menurut passion, maka kamu akan lebih cepat berkembang"

Satu bait kalimat itu sering kudengar dari berbagai orang dengan profesi apapun. 

"Idealisme itu perlu, tetapi ketika kamu dihadapkan pada keputusan sulit, kadang kamu terpaksa harus meruntuhkannya"

Mungkin kalimat di atas sesuai kondisiku saat ini. Ya, aku termasuk orang yang cukup idealis selama ini. Namun, untuk hal pekerjaan aku belum menemukan sisi idealisku. Aku berpikir terus menerus dan merenungkan idealisme seperti apa yang hendak kubangun, apakah sama seperti pemikiran banyak orang yaitu bekerja menurut kesenangan kita sehingga kita akan lebih menikmatinya dan karier kita akan lebih cepat berkembang. Belakangan ini aku memperoleh sebuah pemikiran baru, mungkin bagi kebanyakan orang tidak akan terpikir, tetapi saya memikirkannya.

"Kesuksesan terutama adalah memberikan kebahagiaan kepada kedua orangtuaku di hari-hari tua mereka. Untuk apa waktu, tenaga, dan pikiran yang kuhabiskan, jika aku tak mampu mewujudkan itu."

Dua puluh satu tahun, kedua orangtuaku telah tanpa pamrih membesarkanku dan memberikan kebahagiaan terindah yang pernah ada dalam kehidupan ini. Kini aku harus berpacu dengan waktu memberikan kebahagiaan kepada kedua orangtuaku. Pada awalnya aku bimbang memilih pekerjaan yang menurut passion kah? Atau kebalikannya gaji yang menjanjikan? Mostly, teman-temanku mungkin akan mengambil pilihan pertama sesuai dengan idealisme mereka. Tapi bagiku, aku akan memilih pilihan kedua. Aku telah memikirkannya berulang-ulang dan dasarnya cukup kuat untuk memutuskan.

Waktuku tak banyak, begitu juga dengan kedua orangtuaku. Waktu yang kumaksud di sini adalah waktu yang bisa kufokuskan untuk membahagiakan mereka sepenuhnya. Mungkin jika hari ini aku terlahir sebagai seorang pria, aku akan mengambil pilihan pertama. Sebaliknya, aku adalah wanita yang menurutku fase 20 akan terasa amat singkat untuk banyak peristiwa dalam kehidupan. Dalam lima tahun kurang, aku memiliki target memberikan hadiah untuk pernikahan perak bagi kedua orangtuaku. Hadiah itu membutuhkan uang dalam jumlah besar karena aku berencana menghadiahkan mereka jalan-jalan ke negara yang mereka inginkan. Itu sebabnya aku mengatakan bahwa waktuku tak banyak, begitu juga dengan mereka. Orangtuaku bertambah tua hari ke hari, umur seseorang tak bisa ditebak, aku tak tahu apa yang akan terjadi esok hari. Untuk itu, secepat mungkin aku akan mengumpulkan uang. Jika aku memilih kerja dengan gaji kecil meski sesuai kesenanganku, butuh waktu lama sehingga ketika terkumpul uang tersebut, kedua orangtuaku bahkan tak bisa menikmatinya lagi. Selain itu, aku ingin mengembalikan investasi pendidikan selama perkuliahanku. Mungkin banyak orang mengatakanku gila karena mengukur kesuksesan dengan cara seperti ini. Hingga saat ini, cara yang paling rasional yang kutemukan adalah cara ini. Sekian jumlah uang telah dihabiskan orangtuaku pada pendidikan s1 ku, seandainya aku mampu mengembalikan jumlah tersebut, maka aku dapat dikatakan berhasil, terlepas dari nilai uang yang akan berubah dari waktu ke waktu. Jerih payah orangtuaku untuk memperolah uang pendidikanku akan sama nantinya ketika tiba saatnya aku mengumpulkan uang dengan bekerja. Cara ini adalah cara penilaian yang paling kuantitatif. 

Aku mengatakan waktuku tak banyak untuk fokus kepada kedua orangtuaku. Karena pada fase 20 ini kebanyakan wanita akan menemukan pasangan hidupnya kemudian menikah. Di saat memutuskan menikah, hidup tidak lagi sendiri, sebagai wanita, aku harus menghormati pasangan hidupku. Ketika dia tidak menyetujui karierku, maka berhentilah jenjang karierku. Ketika aku menikah dengannya, aku tak hanya menikah dengan dia seorang, tetapi dengan seluruh keluarganya. Fokusku akan terbagi antara keluargaku, pasanganku, dan keluarganya. Untuk itu, mengapa aku lebih memilih memperoleh gajiku setinggi mungkin di awal, karena bisa jadi jenjang karierku tidak akan panjang. Jika suatu waktu di masa depan, aku telah mewujudkannya, aku akan memilih bekerja menurut passion. Mungkin pemikiranku ini aneh dan jarang. Tapi yang terpikirkan hingga sekarang adalah ini. Meski berat pekerjaan itu, asalkan hasilnya sebanding, tidak akan menjadi masalah. 

"Kadang tidak semua hal yang kita inginkan kita dapatkan, tetapi berusahalah menyukai apa yang telah kita dapatkan" 

Kalimat ini yang selalu mengingatkanku untuk bertahan dalam setiap kondisi yang menyulitkanku. Berusahalah menyukainya dan tetap bersyukur.

Saturday, November 12, 2011

11.11.11

Then, it’s today. 11.11.11 3 couples of eleven and six of one. This unique and beautiful date has magic to make everyone wish for this special day. I wondering whether it’ll make our wishes come true but some people say nothing wrong, at least they have try. So, I’ll make my wishes too today. Standard and simple wishes that been always in my praying everyday. Why? Because for me, today is no different with yesterday or tomorrow, it’s just lucky to have a beautiful name that make it so precious. It still has morning, noon, till night, 24 hours, 1440 minutes, 86400 seconds. And after all, it’s just a day with unique name.

Sebenarnya 11 bagiku adalah besf of the best, yang kuambil dari sebuah novel. Di atas kutipan beberapa kalimat yang kutulis di tumblr milikku pada hari yang unik itu. Sebuah tanggal yang memberi harapan kepada banyak orang. Bahkan pukul 11.11 siang dan 11.11 malam orang-orang begitu menantikan saat itu dan membuat sebuah harapan. Aku malah tidak menantikan saat-saat itu karena menurutku hari itu adalah hari yang biasa saja hanya dia beruntung berada di tanggal unik dan bahkan menjadi hari pernikahan banyak pasangan. Hari yang dipilih pasangan-pasangan tersebut untuk memulai bingkai baru dalam hidup mereka. Hari itu juga banyak dirayakan orang dengan berbagai perayaan. Nah, bagaimana dengan diriku?

Jumat, 11/11/11, diriku membuka mata dan menyadari enam jam telah berjalan di tanggal bagus itu. Aku mengecek telepon genggamku dan mulai mengetik beberapa baris kalimat di tumblr dan juga twitter. Setelah itu aku berangkat ke kampus untuk menemui dosen pembimbing skripsiku. Setelah bimbingan kami berbagi cerita lain, tentang apa yang harus kulakukan setelah lulus nanti, jalan mana yang dipilih, dan lain sebagainya. Setelah itu, aku pulang ke kos dan mulai memasak untuk makan siang. Hari itu aku vegetarian, bukan untuk merayakannya tanggal unik itu tetapi untuk mengganti hari sebelumnya yang tidak kulaksanakan dan bahkan aku lupa kapan terakhir aku melaksanakan disiplin itu. Ketika memasak, ada salah seorang teman baruku mengajakku untuk menemaninya nonton. Kalau kamu benar-benar mengenal diriku, sobat, aku sangat berusaha tidak menolak ajakan teman-temanku. Mengapa? Alasannya sangat sederhana, karena aku tahu bagaimana rasa kecewa itu ketika ajakanmu ditolak dan bahkan lebih sakit jika terjadi berulang kali. Aku pun mengiyakan dan segera menyelesaikan masakanku dan makan siangku tentunya. Aku segera berangkat menemuinya yang telah lebih awal tiba. Kami mengobrol hingga sejam saat menunggu film. Sebuah film petualang Tin Tin cukup menghibur dan lucu. Selesai nonton, kami langsung pulang dikarenakan hari sudah sore. Kembali ke kamar kosku, aku membaca novel dan ada salah seorang teman kampusku ingin curhat sehingga aku pun mendengarkannya. Yah, aku selalu punya waktu dan uang untuk pergi bersama teman-temanku. Untuk teman-temanku baik dekat maupun tidak, aku selalu berusaha memberikan yang terbaik. Tetapi diriku selalu tidak menerima balasan yang sama bahkan bisa dikatakan buruk, Tidak apa-apa, karena aku tahu sesungguhnya aku masih memiliki beberapa teman yang benar-benar tulus kepadaku. Dan malam itu pun aku tidur lebih awal dengan lelap...

Wednesday, November 9, 2011

4th month in 21st

I'd like to tell you time moves extremely fast this month. I really wish I can make it slower or even stop it. That's impossible, even in a  dream I can't stop the time.

Mengapa aku lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Jawabannya sangat sederhana, negara ini, Indonesia, tanah kelahiranku, dalam darahku mengalir dan aku dibesarkan di Indonesia, Dengan demikian, menulis dalam bahasa sendiri bukankah yang paling mudah? Mungkin sebagian orang menemukan bahwa akan lebih mudah menulis dalam bahasa asing lainnya. Itu juga hal yang sangat bagus, karena dapat berlatih dan memiliki kemampuan bahasa asing yang lain. Entah mengapa dari dulu aku tetap menyenangi menulis dalam bahasa yang sudah mendarah daging ini.

Baiklah, mari kuberbagi cerita mengenai bulan keempat. Seperti di awal kuutarakan bulan ini berjalan cepat, bulan ini juga kusebut sebagai bulan pemulihan. Bukan karena aku ingin aku lama pulih sehingga ingin waktu berjalan lambat, ini semua dikarenakan aku menghabiskan sebagian bulan ini kembali ke kampung halaman, Yah, diriku memilih melarikan diri sejenak dari semua rutinitas dan kehidupan di Bandung secara mendadak. Aku memilih tidak mengumbar kepulanganku, hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Begitu juga dengan teman-temanku di Medan yang sedikit kaget mendengar berita kepulanganku. Sesungguhnya aku bukan sengaja menyinggung dan mengecewakan semua orang yang merasa pantas diberitahu soal ini. Aku hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri, untuk berpikir jernih, untuk meluapkan segala tekanan, dengan berkumpul bersama mama, orang yang paling tidak bisa kubayangkan bagaimana perasaanku jika aku kehilangan beliau. Katakanlah ini kemelekatan,. Aku menyadari secara penuh, perpisahan itu akan datang dan kini aku belum siap, aku masih membutuhkannya berada di sampingku dan mendukungku sepenuhnya. Dua minggu kuhabiskan hanya bersama kedua orangtuaku dan empat orang temanku yang sungguh menunjukkan niat yang benar-benar ingin bertemu denganku, Sama sekali aku tak bermaksud mengatakan yang lain kurang berniat, sesungguhnya setiap orang memiliki kesibukan dan prioritas berbeda, No hurt feeling. Kepulanganku kali ini benar-benar mengistirahatkan tubuh dan jiwaku secara total. Sakit hati itu mungkin untuk yang terakhir kalinya. Berterimakasih kepada dia yang pernah menjadi sahabatku yang paling baik telah memberikan pukulan keras dan menorehkan luka terdalam sehingga membuatku setegar dan sekuat ini untuk ke depannya. 

Mama selalu mengajarkan padaku "memberi lebih baik menerima" dan mengajarkan arti berbagi yang sesungguhnya. Menolong orang yang benar-benar membutuhkan perhatian dan kasih sayang kita, bukan hanya sebagai pujian. Nilai-nilai yang ditanamkan di keluargaku membuatku yakin bahwa selama yang kulakukan tidak merugikan orang lain maka pada akhirnya akan ada sesuatu yang baik menunggu. That's called karma. Aku mencurahkan segala tenaga, pikiran, dan semangat untuk pekerjaan ini. Saatnya telah tiba menyerahkannya kepada orang lain, Meski yang kuperoleh tak seberapa, namun aku belajar banyak hal. Aku bersyukur mendapat kesempatan itu,. Pekerjaan ini telah kuanggap bagai anakku sendiri, Aku ingin orang lain yang mengambil alih kewajibanku mampu menyayangi dan menjaganya layaknya diriku bahkan lebih baik sehingga membuatnya berkembang menjadi lebih baik lagi. 

Memasuki bulan November aku melamar ke beberapa perusahaan, dan beberapa dari mereka mengundangku untuk menjalani tes dan wawancara. Target jangka pendekku hanya lulus di bulan Februari nanti, utuk ke depannya aku belum tahu ke mana kakiku melangkah. Mama, dosen, dan kakakku berkata padaku untuk mencoba semua kesempatan dan ikutilah jalan, aku akan menemukan jalan yang ingin kutempuh nantinya. 

Kembali lagi aku mengucap kata "bersyukur" memiliki orang-orang seperti mereka yang mendukungku dengan tulus, 
Untuk teman-teman yang memandang rendah diriku dan secara tidak sengaja mengejekku aku juga bersyukur karena aku akan membuktikan bahwa aku punya nilai tersendiri yang patut diperjuangkan, 
Untuk teman-teman yang tidak mendukungku, tidak apa-apa, aku tetap bersyukur karena kalian mengajariku untuk berusaha sendiri dan mengandalkan diri sendiri.
Untuk teman-teman yang merasa bersaing denganku, aku bersyukur aku memiliki saingan, tetapi bukankah semua orang memiliki porsinya masing-masing.
Untuk teman-teman di Sekolah Luar Biasa, aku bersyukur diberi kesempatan bagiku untuk berbagi setiap bulan. Meski tak bertemu langsung, aku bahagia kalian menerima pemberianku.
Untuk semua orang yang melayani diriku dari hari ke hari, aku bersyukur karena tanpa kalian aku akan makin repot mengurusi keseharianku.

Pengarang buku "9 Summers 10 Autums" , Iwan Setiawan dan Billy Boen, motivator dan orang sukses muda di Indonesia memberikan pandangan yang membuatku merasa yakin bahwa aku memiliki "sesuatu" yang tidak dimiliki orang lain, Berharap suatu saat aku bisa menjadi orang-orag hebat seperti mereka tentunya dengan pemikiran-pemikiran hebat yang menginsiprasi banyak orang. Mereka tidak peduli dengan ejekan, cibiran, dan cemooh orang lain di masa lalu, Mereka hanya tekun menjalani apa yang mereka yakini. And you see guys, they are great people with great ideas. Nothing's wrong! It's just not the moment in the past, but now and future, enjoy the result.

Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya, everything happens for reason, you just need to figure out the reason.
Sebaris kalimat menutup bulan keempat ini dengan senyum hangat dan pribadi baru yang telah pulih dan lebih tegar.

Wednesday, October 12, 2011

3rd month in 21st

Tak terasa sudah bulan ketiga. Bulan September terasa amat sangat cepat karena banyak hal manis dan pahit bercampur menjadi satu. Satu kata untuk menghibur diri "bersyukur". Merelakan dia yang telah pergi, menyambut yang telah datang, dan berbagi dengan mereka yang kekurangan. Bulan ini aku menjalani ketiga hal tersebut. Masih disibukkan dengan pekerjaan dan kuliah, keseharian yang akan segera berakhir beberapa bulan ke depan. "Sudah cukup" mendampingi kata "bersyukur" di atas yang membuatku tidak lagi menuntut banyak hal. Bulan ini bulan yang cukup menyenangkan. :D

Saturday, October 1, 2011

Welcome October! Different Side of Thinking

No offense... Just a sharing...

Tadi pagi mendapat inspirasi menulis. Sudah lama tidak mendapat ide untuk menulis. Yah, seperti biasa, ide selalu didapat saat aktivitas di kamar mandi :D


Atasan vs Bawahan
Yang dimaksud di sini bukan pasangan dalam berpakaian lho, tetapi dalam makna lain yaitu dalam hubungan pekerjaan. Kadang seorang bawahan lebih hebat dari atasan. Mengapa? Seorang atasan seringkali hanya memerintah dan ingin tahu semuanya beres sesuai dengan jadwal dan tentunya sesuai dengan keinginannya. Padahal tak jarang, banyak hambatan selama proses pengerjaan. Kadang seorang atasan berharap terlalu banyak terhadap bawahan untuk mengerjakan sesuai dengan keinginannya tanpa melihat kemampuan bawahannya. Sebenarnya bawahan merupakan orang yang lebih hebat, karena lebih memahami yang sedang dijalani atau dikerjakannya, menghadapi hambatan untuk menyelesaikannya tepat waktu dan berusaha untuk memenuhi keinginan atasannya.  Meski bagi atasan, itu hal yang sepele, yang bisa dikerjakan dengan mudah, tidak demikian bagi bawahan, yang membutuhkan waktu dan tenaga untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh agar hasilnya memuaskan. Seorang atasan kerap kali menuntut banyak hal kepada bawahannya dan memarahi jika tidak diselesaikan sesuai dengan keinginannya. Sekali lagi, jika bawahan lebih pintar daripada atasan dan kemampuannya lebih, dia tidak akan menjadi bawahan. Di sini kita tentunya tidak membahas faktor keberuntungan. Mungkin bagi seorang atasan itu hal yang sangat mudah, amun karena tidak turut dalam pengerjaan, tidak akan menyadari betapa rumitnya dan masalah yang muncul dari hal sederhana itu. Menyepelekan merupakan hal harus dihindari, karena dengan adanya rasa seperti itu kita tidak akan pernah bisa memposisikan di posisi orang lain. Meski secara garis besar itu hal yang sederhana, bisa saja komponen-komponen di dalamnya rumit. Oleh karena itu, tak heran banyak bawahan yang kemudian menjadi atasan, sementara tidak semua atasan mampu menjadi bawahan.

Baik vs Jahat
Definisi baik dan jahat yang kumaksudkan di sini bukan baik dan jahat yang berkaitan dengan kriminal yang membahayakan nyawa orang lain, melainkan bagaimana seseorang mengenakan topeng di panggung sandiwara dunia ini. Orang yang baik disenangi oleh orang lain dan memiliki banyak teman di sekitarnya karena dirinya akan sering membantu dan selalu menyenangkan hati orang lain. Itu hal yang baik, bukan? Sementara orang yang jahat akan dihindari dan ditakuti oleh orang lain karena dia tidak ringan tangan dan tak segan menegur serta teman-temannya hanya sedikit karena yang bisa bertahan dengannya adalah orang-orang yang benar-benar mengenal dirinya. So which mask do you choose? Banyak orang mengatakan susah menjadi orang baik. Aku melihat kebalikannya, lebih susah menjadi orang jahat. Banyak orang bisa berpura-pura baik meski sebenarnya tidak sebaik itu. Tetapi, tak sering orang bisa berpura-pura jahat padahal sebenarnya tidak sejahat itu. Aku sungguh kagum terhadap orang yang memilih mengenakan topeng jahat sehingga dia dibenci dan ditakuti banyak orang karena sering menegur dan mengomel. You know, sometimes we need those kind of persons. Kita kadang butuh orang-orang seperti itu untuk mengingatkan kita bahwa apa yang kita kerjakan ada salahnya dan tidak selalu sempurna atau dipuji hanya sekedar untuk membuat kita bahagia. Kita butuh orang yang membuat kita takut untuk melanggar suatu aturan yang membosankan. Kita butuh orang seperti itu untuk merendahkan hati kita bahwa apa yang kita kerjakan bisa saja tidak berarti bagi orang lain. Mereka tidak membantu ketika jatuh, malah menyuruh kita untuk bangkit sendiri, karena sesungguhnya kita mampu untuk bangkit. Aku mengenal beberapa orang seperti itu, dengan segala sikap yang ditunjukkannya, itu bagi kebaikan semua orang, hanya bergantung pada cara kita menerimanya. Aku tak pernah membenci, menghindar, atau bahkan takut dengan orang seperti iu, sebaliknya aku kagum terhadap mereka. Mereka orang-orang yang kuat dan hebat. Mereka harus menelan banyak makian, kebencian, dan penghindaran orang-orang. Mereka harus memiliki mental untuk menghadapi teror dari orang yang membenci mereka. Semua itu merupakan tekanan luar biasa yang harus mereka hadapi untuk mengenakan topeng sebagai orang yang dianggap jahat. Di luar mereka harus terlihat judes dan tegas, tetapi di dalamnya mereka mengorbankan sisi baik mereka dan memunculkan sisi jahat untuk mendidik orang-orang di sekitar agar menjadi lebih baik. Aku sungguh kagum dengan orang-orang seperti itu. Menurutku, jauh lebih susah berperan sebagai orang jahat, karena di dunia ini hampir semua orang ingin berperan menjadi malaikat bukan?

Pada dasarnya semua hal baik, hanya tergantung cara kita memandang, apapun pilihan yang kita pilih dan apapun peran kita, tetaplah bersyukur.


Bersyukur kusadari sebagai hal yang penting. Ketika bersyukur, tidak akan ada kesedihan, kekecewaan, kehilangan, karena masih banyak orang lain yang lebih sedih, lebih kecewa, dan lebih kehilangan.
Bersyukur membantu mengontrol diri dari keserakahan. Saat kita bersyukur, kita akan cukup dengan kekayaan, pekerjaan, dan fisik yang kita miliki, karena masih banyak orang lain yang susah hidupnya, menganggur, dan cacat.
Bersyukur setiap detik nafas kehidupan masih bisa dihirup, jantung masih berdetak, nadi masih berdenyut, panca indra masih bergerak, seluruh fungsi tubuh masih beraktivtas.
Bersyukur hingga saat ini masih beruntung dengan segala keadaan.
Bersyukur masih memiliki orang-orang yang disayangi di sekitar.


Melepas atau merelakan tidak kalah penting. Ibarat pasangan dari bersyukur menurutku. Di samping kita bersyukur, kita harus mampu melepas karena tidak ada yang kekal di dunia ini.
Melepas kekecewaan dan sakit hati.
Melepas kekayaan yang hilang.
Melepas orang-orang yang dikasihi yang telah meninggal.
Sungguh susah melepas karena pada dasarnya manusia memiliki sifat kemelekatan akan suatu objek. Dengan berlatih terus menerus, akan mampu melepas karena tak ada satupun yang abadi.


Ada satu ayat yang kuingat ketika aku terpuruk, yaitu:
"Mencari, maka Anda tidak akan menemukan."
"Berharap, maka Anda akan kecewa."
"Memiliki, maka Anda akan kehilangan."
"Sadari dan kembangkan agar batin seimbang."

Wednesday, September 14, 2011

2nd month in 21st

Maafkan keterlambatan diriku untuk bercerita padamu. Bulan ini jadwalku lumayan padat. Aku harus membereskan banyak kerjaan sebelum liburan lebaran. Setelah pekerjaan beres, aku harus berangkat ke Surabaya selama seminggu untuk masalah pekerjaan. Jujur, aku bersyukur dapat menginjakkan kaki ke kota itu setelah sekian lama, namun aku kurang menikmati karena harus megurus pekerjaan. Yah, liburan terasa tidak berlibur. Aku merasa berat melakukannya karena itu seharusnya tidak menjadi tanggung jawabku karena pekerjaan itu bukan bagianku. Orang-orang yang justru di bagian itu malah asik berlibur. Aku merasa ini tidak adil. Tapi bagaimanapun aku menjalaninya. Surabaya, kota yang sangat panas, kaya akan kuliner, dan tempat shopping yang cukup banyak. Aku pun tergoda menghedon di sana, Kepulanganku ditunda sehari dan sangat tidak beruntung pesawatku didelay. Malam pukul 10 aku baru tiba di Bandung. Sepulang dari Surabaya, aku harus membereskan laporan-laporan dan membereskan pekerjaan yang kutinggalkan di Bandung. Setelah itu aku kembali disibukkan dengan kegiatan kuliah. Aku mengambil skripsi dan seminar di semester ini dan sangat malas untuk memulainya. Mungkin aku memang tipe deadiners sejati. Bulan kedua ini merupakan bulan yang sibuk.

Thursday, August 18, 2011

1st month in 21st

Salam hangat kuhaturkan kepadamu, Sobat!

Bulan pertama di usiaku yang ke-20 sungguh sangat padat dan berwarna. Minggu pertama aku merayakannya dengan teman-teman di Sekolah Luar Biasa yang sudah kuceritakan di tulisan sebelumnya. Minggu-minggu selanjutnya aku disibukkan dengan persiapan menjelang pembukaan cafe. Kabar baiknya adalah proposal skripsi ku telah diterima dan aku akan memulai karyaku. Pekerjaanku berjalan dengan lancar dan menguras hampir seluruh energiku. Rasanya selama tiga bulan ini aku tidak merasakan liburan yang sesungguhnya. Bulan ii juga diriku menikmati setiap orang-orang yang berada di sampingku. Orang-orang yang tak kusangka akan menemani bulan istimewaku. Terima kasih kepada mereka semua, terlepas dari mereka yang meninggalkanku. Jika bisa menghentikan perjalanan bulan ini, aku sungguh ingin dan itu adalah hal yang tidak mungkin. Aku harus berjalan dan melangkah ke bulan berikutnya. Semoga di depan sana akan lebih banyak hal manis lagi yang menanti dan segala hal pahit mampu kuatasi dengan sebaik mungkin.

Friday, August 5, 2011

i am weird.

Sobat, ini bukan kali pertama aku merasakan diriku ini aneh. Aku pernah menceritakannya kepada mama bahkan sambil bercanda aku berpikir bahwa mungkin aku perlu berkonsultasi ke psikolog untuk mengecek apakah diriku termasuk anak autis. Aku jarang menyukai hal yang disukai orang lain. Entah mengapa, aku selalu berbeda pandangan dengan orang lain. Mungkin aku memiliki keanehan sendiri. 

Mereka memilih magang di Kantor Akuntan Publik yang bergengsi, diriku malah memilih magang di perusahaan kecil yang masih CV yang bahkan tidak mendapat gaji.

Mereka memilih bercerita ke teman-teman ceweknya ketika ada masalah, kamu tahu tempat kumenceritakan keluh kesah, hanya kepadamu.

Mereka memilih berteman dengan teman-teman yang asyik, diriku memilih berteman dengan orang-orang yang kesepian dan membutuhkanku, yang pada akhirnya ketika mereka bangkit aku akan ditinggalkan.

Mereka memilih baju-baju indah dan bermerk untuk dikenakan, aku memilih menabung untuk pergi berlibur.

Mereka memilih pergi berlibur ke tempat-tempat terkenal akan shopping dan kehidupan modernnya, diriku memilih berlibur ke tempat tenang atau terkenal dengan keindahan alam dan sejarahnya.

Mereka tidak perlu susah memikirkan berapa uang yang habis bulan ini, sementara aku harus mengatur pengeluaran untuk menabung.

Mereka tidak perlu takut kehidupan setelah kuliah nanti, sementara aku harus mulai memikirkan dari sekarang karena papa sudah mewanti-wanti.

Mereka mengejar IP dan nilai yang sesempurna mungkin dan menghalalkan segala cara, aku malah menuntut tinggi sebuah kejujuran.

Mereka memilih bergaul dengan yang sebaya karena lebih nyaman, aku memilih bergaul dengan yang jauh di atasku karena lebih nyaman.

Mereka memilih merayakan ulang tahun dengan pesta yang mewah, aku memilih berbagi kebahagiaanku bersama anak-anak di Sekolah Luar Biasa.

Mereka memilih memberi kejutan dengan mengerjai orang yang berulang tahun, aku lebih memilih hal unik yang mampu kupersembahkan.

Mereka merasa bahagia ketika yang berulang tahun basah-basahan dan muka penuh tepung, bagiku sebuah senyuman dan terima kasih dari dia telah berharga.

Mereka merasa tersanjung ketika diberi hadiah mewah, bagiku sebuah ucapan sudah lebih dari cukup.

Pandanganku selalu berbeda dari kebanyakan orang. Kepada siapapun yang membacanya, tidak perlu tersinggung kalau dirimu bukan bagian dari "mereka" yang kusebutkan di atas. Semuanya hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman sepihak, tidak ada maksud menyinggung siapapun. Aku hanya sekedar ingin berbagi dengan dirimu, Sobat. 

Terlepas dari segala keanehan yang ada pada diriku. Apakah aku tidak percaya diri? Iya, itu jawabannya. Meski berulang kali orang yang memahami diriku mengatakan bahwa seharusnya aku bangga dengan keunikan itu. Sungguh, diri ini bukan merasa unik melainkan aneh. Sebenarnya dua kata itu memiliki arti serupa hanya konotasi positif dan negatif yang membedakannya. Diriku juga begitu bagi sebagian orang yang menganggapnya positif akan memandang diriku unik, sementara yang lainnya akan berkata diri ini aneh. Aku tidak akan tersinggung. Ini karena aku sadar sepenuhnya diriku memang aneh. Pola pikir dan prinsip yang lain daripada sebagian besar membuat diri ini kadang merasa tidak nyaman. Tak jarang aku sedih akan hal itu. Namun untuk mengubah semua itu sungguh bukan hal yang mudah. Kalau kamu berpikir aku tidak mencoba mengubahnya, kamu salah besar Sobat. Banyak kebiasaanku yang tidak sama dengan lainnya dan sering kali aku mencoba belajar kebiasaan mereka. Tetap saja, diri ini merasa jauh lebih tidak nyaman. Banyak hal yang sangat sulit sekali diubah, dan ketika aku bertanya pada diriku "apakah salah". Aku tidak mampu menjawab dengan pasti sebuah jawaban "iya". Untuk itu, aku hanya menjalani proses ini dan berusaha menikmati serta mensyukuri semuanya.

Monday, August 1, 2011

Happiness and sadness is one packet

Hari ini permulaan sebuah minggu sekaligus bulan yang baru. Hari ini aku hampir menutupnya dengan sempurna jika hal itu yang tak sengaja kuketahui merusak semuanya. Yah, aku hanya manusia biasa yang memiliki hati yang rapuh. Hal itu berulang kali membuatku terpuruk. Aku ingin melupakannya sungguh. Aku ingin mengenyahkannya dari hidupku agar dia tidak lagi memporakporandakan hatiku. Aku benci hal itu berulang lagi terjadi. Tidak bosan-bosannya mengganggu ketenangan hidupku. Apakah hal itu? Hanya diriku yang tahu. Biarlah orang lain menebaknya, hanya diriku yang paling tahu. 

Aku benci dibohongi. Aku benci dengan hal yang disembunyikan dariku. Bagiku, itu jauh lebih sakit daripada sebuah keterusterangan. Tidakkah mereka tahu akan hal itu? Apakah begitu susah sebuah keterusterangan? Mungkin aku harus menebalkan perasaan agar tidak merasakan sakit. Aku menyesal tidak dapat menyelamatkan seluruhnya. Mungkin jodoh kami berakhir hingga di sini. Meski harapanku dulu jauh dari kenyataan ini, namun yang terjadi beginilah adanya. Aku lelah menyelamatkannya sementara di pihak lain tidak merespon. Sudahlah, ini semua lebih dari cukup menghancurkan diriku. Trauma? Mungkin saja, aku tak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Yang pasti, aku tidak akan mempercayai siapapun hingga aku mempercayai dia dan dia. Berkali-kali, aku jatuh dan terbangun oleh orang yang menolongku. Orang yang kuinginkan terus di sampingku, ternyata hanyalah orang yang sementara datang untuk meninggalkanku pada akhirnya. 

Kebahagiaan dan kesedihan datang sepaket. Beginilah hidup, bukan? Ketika ada kebahagiaan datang, aku boleh berbahagia dan menikmatinya, tetapi di sisi lain aku harus bersiap menyambut kesedihan yang menyusul. Aku tahu benar bahagia atau sedih bergantung pada pikiran, yah kekuatan pikiran. Percayalah padaku, itu hal yang teramat susah dilaksanakan. Aku harus banyak berlatih agar ketika kesedihan itu bisa kutanggapi dengan hati lapang. Melepas, hal wajib yang harus dilakukan. Aku harus berkata pada diriku sendiri, aku bisa melepaskan dan aku harus melepaskan.

Melepas kejadian-kejadian manis yang pernah kami lalui...
Melepas kejadian-kejadian pedih yang pernah aku alami...
Melepas mereka yang pernah menjadi harapanku...
Melepas mereka yang tak lagi membutuhkanku...

Sunday, July 17, 2011

Another MY DAY- Simple celebration at SLB

They're my happiness at least for this one day

My dream came true. Birthday cake made from donuts.

Lola! the unfortunate child. I love her :D

My birthday is also her happiness


I love these moments...

Almost forgot ate mine because of happiness


LOLA!! My favorite child there.. :D
I'm 21st. I seldom celebrate my day... But this year.. I'm far away from home so I celebrated with my friends here. Yeah.. I choose Sekolah Luar Biasa. Why? I'll tell you here...

I'm normal.. I have a pair of hands, legs, eyes, ears, a nose and mouth. I'm grateful to be born as a normal human, so do them. But only one thing they don't have. It's normal mind, they can't think like me, they only can understand simple things so that their life looks so simple. Besides they don't have love of a family, they still can happy with their friends. Eat, sing, study, sleep together. This place, they call HOME. No family, no love, just a place that give them warm from those people who have great hearts to take care of them...

Let me tell you... When i came to that place, they show me their beautiful, shining and happy face. Can you imagine how they miss people share time with them? I am speechless. For me, smiles on their faces are really more than enough for me. Celebrating and playing with them is really wonderful thing for me. I made a good decision celebrating my 21st birthday here...

Thanks to Buddha. I had a chance to share my happiness with them.
Thanks to my family. I still have my lovely ones who still supported me from far and i can back to a place called HOME whenever I want.
Thanks to PVVDers. You all have done a great work preparing this simple celebration.
Thanks to KMBers. You all have helped me to make these come true.
Thanks to UNPARers. You all have shared time to celebrate my day.
Thanks to Dotzers. You all have supported me this recent months.
Thanks to SLB. You all have made my day become more perfect with your smiles.
Thanks to everyone who have participated in preparing consumption and everything.
This is a really simple celebration, not luxurious one. But for me, it's really touch my heart. Sharing my happiness with my them, make them feel my day too. Sharing my love to them only few hours. Seeing their smiles make me speechless. I just did a little thing but i can see the power of happiness from them.


Playing together and seeing their smiles :D
Appreciate what i have got, normal body, normal mind, family, friends, stuffs. 


This album i present to you... Just wanna share a little story of my life...



With Elsa n my lovely Lola :D
They make my dream come true: Birthday cake from donuts and simple celebration with kids...

Thanks to every person and every little thing joined to one of wonderful moments in my life.

Saturday, July 16, 2011

Sign

I’m praying to Buddha… Let’s time reveal everything. Waiting for the sign. The one for me is he who will come to me with that kind of flower.

Selesai sudah satu cerita, aku harus melanjutkan langkahku ke cerita selanjutnya. Kembali lagi ke kebiasan menyibukkan diri. Mungkin aku termasuk tipe orang yang senang akan kesibukan. Begitu pula kata mama, aku ini tipe pekerja keras yang meski sudah seharusnya bisa tenang dan nikmati tetapi tetap saja mau kerja. Aku menyukai pekerjaanku ini, untuk itu ide kreatifku muncul. Sementara skripsi, sungguh malas memulainya. Aku ingin lulus Februari nanti. Seharusnya aku masih memiliki satu tahun hingga pertengahan tahun depan, tapi diri ini telah mencapai masa jenuh sehingga ingin menyelesaikannya dalam setengah tahun ini.

Dia.. Dia.. Dia.. Saat ini aku hanya berdiam di tempat. Aku telah menyisipkan permohonan dalam setiap doaku. Orang itu akan datang dengan tanda jenis bunga itu. Untuk itu, siapapun yang berada di sampingku, aku hanya bersyukur masih memiliki dan masih berarti bagi mereka. Aku sudah lelah memulai. Aku sudah letih  berinisiatif terhadap siapapun itu, baik dekat atau biasa saja. Aku sudah mencapai tahap jenuh itu. Aku tidak lagi memiliki semangat itu. Yang ada di otakku sekarang adalah pemikiran lain tentang masa depanku. Sekarang hal yang tak penting akan kuenyahkan dari hidupku. Meski ku tak tahu ke mana kaki ini akan melangkah, aku akan mengikuti jalannya arus.

I’m praying to Buddha… Let’s time reveal everything. Waiting for the sign. My way will appear and make a road for me...

Wednesday, July 13, 2011

I called it MY DAY!

With Fiffy my besty and partner :D
Me with my cake :D Thanx for morning surprise

With Fiffy n Zhong :D
With my friends from TYPSS, We;re having audition
With New Friend
Reading wish card
With Agnes
With Christa
My 1st cake :D


My 2nd cake :D


My 3rd cake :D






My Lucky Number :p




Saturday, July 9, 2011

09.07.11

Finally, this is today! Last month in 20th and I"m officially 21st now.
Am I happy? I'm so happy. I think words can't describe what kind of feeling I have now. 

Hari ini, 9 Juli 2011 penggenapan kisah setahun umur ke-20 yang kurangkai lewat cerita singkat setiap bulannya. Hari ini tiba juga akhirnya. Seperti yang telah kuceritakan sebelumnya, hari ini aku mengakhiri dan aku memulai sesuatu. Inilah kehidupan bukan? Keduanya membuat kubahagia. Akan kuceritakan padamu sobat mengenai kisah hari ini yang telah membuatku letih namun senang.

Pagi tadi, aku mendapat kejutan dari salah seorang sahabatku bersama pacarnya dan seorang teman. Mereka bertiga pagi-pagi mengetuk pintu kamar kosku dengan membawa kue ulang tahun dan menyanyikan lagu happy birthday. Setelah itu mengucapkan selamat ulang tahun dan berbincang sebentar di kosanku. Setelah itu, aku mulai bersiap-siap. Setibanya di lokasi acara, pesertanya cukup banyak. Alhasil, aku mendapatkan nomor peserta 51. Kuberdoa dalam hati semoga nomor ini membawa keberuntungan bagiku. Lamanya acara yang diselingin acara-acara lain membuat lesu menunggu. Akhirnya tiba giliranku. Aku nervous, tentu saja. Meski hanya satu menit berbicara depan kamera tetap saja kegugupan itu ada. Awalnya aku merasa gugup namun akhirnya mampu menyelesaikannya dengan lancar. Aku merasa beban berat terangkat dan lelah. Pulang ke kosan, ada kejutan dari teman-teman kontrakanku yang lama. Untuk pertama kalinya mereka memberi kejutan hangat bagi diriku. Semakin jauh., semakin dekat. Di sela-sela itu, datang lagi seorang teman yang memberi hadiah berupa barang yang sangat aku sukai. Sungguh aku bahagia sekali. Kemudian, ada kabar dari temanku tentang hasil audisi. Dan, kamu tebak, Sobat? Aku lolos audisi ini. Rasanya amat sangat bahagia. Belum berakhir kejutan hari ini, datang dua orang teman baikku mengantarkan teman baru bagiku. Aku tak tahu barus berkata bagaimana untuk menggambarkan perasaanku yang terlampau bahagia ini. 

A greeting is more than enough for me...

Sungguh bagiku sebuah ucapan sudah cukup berarti. Teman-temanku menghadiahkanku berbagai kejutan di ulang tahun ku kali ini yang mungkin akan menjadi terakhir kalinya. Tahun-tahun sebelumnya aku selalu pulang ke kota kelahiranku dan merayakan bersama mereka yang selalu menceriakan hari-hariku. Tahun ini aku merayakannya di kota ini, kota tempat kumenuntut ilmu yang sudah memasuki tahun ketiga ini dan mungkin akan menjadi tahun terakhir di kota ini. Who knows? 

Aku sangat bersyukur mereka masih memberi perhatian dan kepedulian pada diriku. 
Aku sangat bersyukur mereka masih bersedia meluangkan waktu memberi kejutan kecil bagiku.
Aku sangat bersyukur kami masih berteman hingga hari ini.
Aku sangat bersyukur aku masih berarti bagi mereka.

Thursday, July 7, 2011

2 days more...

Dua hari lagi aku akan menggenapkannya...
Dua hari lagi aku akan memulai untuk pertama kalinya...

Mengapa tanggal keduanya harus bertepatan.. Tapi mungkin baik juga.. Dengan demikian aku tak perlu mencari kegiatan untuk mengisi tanggal itu, setidaknya kesempatan untuk kecewa lebih sedikit. Yah, aku merayakannya dengan mengikuti lomba. Tahun lalu aku masih ingat, aku merayakan bersama mereka, yang walaupun jauh selalu menanyakan kabarku. Kami semua kembali berkumpul pada musim liburan seperti ini. Aku membuat keputusan untuk tidak kembali ke kota kelahiranku. Mungkin aku membuat sebuah keputusan yang salah, karena hingga sekarang banyak kejadian yang mungkin tidak akan terjadi jika aku pulang. Menyesal? Yah sedikit, tapi dibanding dengan pengalaman yang kudapatkan, setidaknya itu sangat wajar. Aku mendapatkan pengalaman yang banyak bergabung dengan perusahaan kecil ini. Tak peduli berapa pendapatan yang kuterima, kukerahkan seluruh tenaga dan ideku untuk memajukannya. Aku merasa lebih menikmati pekerjaan seperti ini daripada di kantor akuntan publik. Yah, aku belum mencoba di KAP, jadi siapa tahu aku akan menikmatinya juga. Apapun itu, aku hanya menghargai apa yang kudapat sekarang ini, sebuah pekerjaan yang menyenangkan meski hanya status magang. Aku menikmati hari-hari sibuk yang kulewati. Meski sebulan terakhir ini hidupku semakin tidak beraturan. Kehidupan spiritualku kacau karena aku terlalu lelah dan malas. Mereka yang biasanya di sampingku hilang mendadak karena liburan. Apapun yang terjadi, apapun yang mendorongku untuk menyesal, aku tetap berusaha bersyukur dengan semuanya. Kerenggangan hubungan, pembatalan liburan, tertundanya proses segalanya, apapun itu aku tetap bersyukur mengenal dan pernah memiliki mereka dalam cerita hidupku. 

Friday, June 24, 2011

Count down 2 weeks...

Terima salam sapaku sobat, terhitung dua minggu menuju penggenapan kisah satu tahun usia ke-20. Dari bulan pertama hingga menuju bulan terakhir ini telah terjadi banyak sekali hal. Bahagia, sedih, tangisan, keceriaan, semuanya menyatu. Beginilah hidup. Setahun ini sungguh kurasakan waktu yang amat sangat cepat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Apa karena pengaruh aku menulis kisah diriku sebulan demi sebulan sehingga tak terasa waktu berlari. Aku menikmati tiap bulan, tiap minggu, tiap hari, tiap jam, tiap menit, dan tiap detik dari kisahku. Rangkaian cerita yang kususun bulan demi bulan yang mengukir kesan tersendiri ketika aku membaca ulang. Untuk itu, aku merencanakan akan terus menulis kisahku di usia-usia selanjutnya. Mungkin aku terlalu malas untuk menulisnya sehari demi sehari seperti yang dulu kulakukan. Biarlah kisah sebulan kutuangkan dalamm sebuah tulisan untuk berbagi denganmu, Sobat. Aku hanya ingin berbagi, tak lebih dari itu. Tak ada maksud untuk menarikmu ikut dalam kesedihanku atau terlarut dalam kisahku. 

Aku sadar diriku memang kurang berjodoh dengan orang-orang. Entah mengapa, meski aku sudah berusaha bersikap sebaik mungkin kepada semua orang, but it doesn't work. Jika dibanding dulu, diriku sudah jauh mengalami kemajuan. Terutama orang-orang sebaya denganku, entah mengapa aku tak bisa menjalin hubungan dekat yang lama. Mengapa demikian? Hingga saat ini aku belum menemukan jawaban yang pasti. Sementara terhadap orang-orang yang usianya di atas diriku, hubunganku dapat berlangsung lama. Ketika aku yakin bahwa sahabatku ini adalah orang yang benar-benar akan selalu di sampingku ketika aku membutuhkannya. Sekali lagi, aku kecewa. Yah, setiap kali berharap maka kamu akan kecewa. Pernyataan itu terbukti dari satu kasus ke kasus lainnya. 

Sahabatku yang satu telah memiliki seseorang sekarang. Dia tidak seperti dulu lagi, yang lebih sering sendiri ke mana-mana, sama seperti diriku. Dulu, kami sering pergi menghabiskan waktu bersama. Perubahan itu selalu ada. Sekarang, dia selalu ditemani ke mana-mana. Dia tidak lagi merasakan yang namanya kesepian. Dia tidak lagi membutuhkanku. Sudah ada seseorang itu, sudah cukup baginya. Aku juga sadar diri dan kadang merasa tidak nyaman berada di antara mereka berdua.

Sahabatku yang satu lagi yang kuyakin kali itu aku tidak akan salah, karena kuyakin dia akan selalu bersama diriku. Ternyata tidak demikian, belakangan karena kesibukan atau karena tidak ada kegiatan bersama membuat hubungan kami agak renggang. Dia seperti asik dengan dunianya sendiri yang tak kupahami. Aku tak bisa berbuat apa-apa, Tidak mungkin kita bisa memaksa seseorang untuk tetap berada di samping kita bukan? Aku sudah berusaha sebisa mungkin, melakukan yang terbaik yang bisa kulakukan. Tapi jika dia merasa tidak nyaman dan memilih mundur, itu haknya dia. 


When you are alone because they leave you, believe it, there will be another they come and walk together with you. No worry, just smile. Everything happens for reason.


Ketika ada yang pergi, akan ada yang menggantikannya. Ketika aku jatuh dan merasa diriku sendiri, selalu ada orang yang menawarkan bantuan, menghiburku, dan menemani diriku meski hanya sementara. Aku bersyukur memiliki pahlawan-pahlawan ini. Yeah, I call them my heroes. Aku juga bersyukur pernah mengalami masa-masa manis bersama para sahabatku. Kenangan itu akan selalu mendapat ruang di hatiku.

Dia, dia, dan dia. Dari diantara banyak dia. Saat ini, aku hanya bisa menunggu. Menunggu sesuatu hal tak pasti. Yah, mungkin bagi sebagian orang itu sangat menyiksa, tetapi bagi diriku, aku akan berusaha membuatnya menjadi hal yang sangat menyenangkan dengan aktivitas yang kulakukan sekarang. Fokusku ke dia akan berkurang, hingga muncul sebuah kepastian. Itu karena aku telah terlalu banyak kecewa dan aku lelah berharap. Yang bisa kulakukan hanya menunggu kepastian itu datang. Jika dia tak kunjung tiba, berarti dia memang bukan untukku. 



Thursday, June 23, 2011

Apa aku membutuhkannya?

Aku sering kali bertanya pada diriku apa yang aku butuhkan? Popularitas? Kekayaan? Kecantikan? Kepintaran? Karir yang bagus? Benarkah aku membutuhkan semua itu untuk hidup bahagia? Bohong kalau kukatakan aku tak membutuhkan itu semua. Aku ini manusia biasa yang tak lepas dari hal duniawi seperti itu. Siapa yang tidak suka dengan popularitas? Banyak orang ingin dikenal hingga menghalalkan segala macam cara. Aku tak memilih jalan seperti itu. Aku ingin dikenal atas pencapaianku, hal yang kuhasilkan. Kekayaan? Uang itu bukan segalanya sobat, tapi segala hal di dunia ini membutuhkan uang. Sakit, makan, tempat tinggal semua tak terlepas dari uang. Kalau kamu memiliki uang dan terdeteksi menderita penyakit parah setidaknya bisa memperpanjang masa hidupmu dengan berbagai peralatan dan obat medis. Kecantikan? Semua orang ingin memilikinya dan melakukan segala cara untuk mempercantik penampilannya. Begitu juga dengan aku, aku ingin tampil menarik. Kepintaran? Aku tidak ingin dicap bodoh. Meski kadang aku sering kali dicap begitu di pergaulan karena ketinggalan suatu tren. Karir yang bagus? Itu idaman hampir semua orang yang lulus. Aku? Masih belum ada bayangan ke mana kakiku ini akan melangkah. Ke perusahaan yang diincar oleh  teman-temanku dimana aku akan terlihat sangat bangga bisa masuk ke sana. 

Why I should compete something that you don't want? Let others. Then what do I need? Popularity, wealth, good career? Just to get respect and show others, "hey, it's me!" Is that all I want? I'm not sure. Till now I don't have an answer from a simple question "What do I need?"

Wednesday, June 22, 2011

17 days to go...

Tepat 17 hari lagi aku akan menggenapkan kisah 12 bulanku di umur ke-20. Apa yang kurasakan? Senang? Bahagia? Yang pastinya aku bersyukur. 
Bersyukur hingga saat ini aku masih bernafas dan dapat menikmati indahnya dunia ini.
Bersyukur hingga saat ini aku masih memiliki organ lengkap untuk beraktivitas,
Bersyukur hingga saat ini aku masih memiliki kedua orangtuaku dan keluarga yang selalu mendukungku.
Bersyukur hingga saat ini aku masih memiliki teman-teman yang berada di sampingku untuk menghiburku.
Bersyukur hingga saat ini aku masih mendapatkan bantuan dari orang-orang mulai dari makanan, minuman, pakaian, dan tempat tinggal serta segala kebutuhanku.
Aku bersyukur aku masih hidup.

Dalam waktu singkat selama seminggu ini aku telah mengalami banyak perubahan. Benda itu kumiliki. Akhirnya benda itu berada di tanganku dan menemani keseharianku. Hingga kini aku masih dalam tahap menyukainya. Mama yang memaksaku untuk memiliki benda itu agar alasan klise itu tak lagi menjadi alasan. Oh sungguh mamaku luar biasa. Dia sekarang kini telah mengalami perubahan. Aku harus berkata apa, tidak ada yang kekal di dunia ini. Aku menyesal dan berharap segalanya akan tetap seperti itu. Mama mengingatkanku untuk tidak bercerita rahasia kepada siapapun lagi. Kalau memang aku berada dalam masalah, ceritakan kepada beliau saja. Sungguh luar biasa bukan mamaku? Beliau seakan takut aku terluka, sedih, dan depresi. Mamaku memang mama paling baik. Aku bersyukur memiliki mama seperti beliau. Beliau sungguh mengagumkan dan aku harus belajar banyak dari beliau. 

Aku saat ini sedang sibuk bekerja. Melupakan yang satu memang tidak mudah tapi aku berhasil. Sementara kehadiran satunya lagi yang membuat kami bertiga terlihat kacau dan membuatku tak bisa memejamkan mata hingga larut malam akhirnya berhasil kulewati. Aku melemparkan fokusku sepenuhnya kepada pekerjaan dan berusaha mengembangkannya. Begitulah diriku, ketika depresi selalu mencari pelarian ke pekerjaan. Untuk saat ini sebagian besar waktuku habis di pekerjaan. Yah, aku seperti kembali ke kehidupanku yang dulu. Mungkin ini memang akan lebih cocok dengan diriku. Setelah itu, berlibur sebentar dan sibuk lagi. Mungkin aku memang menikmati kehidupan seperti ini. Mungkin memang diriku sesuai dengan pola kehidupan seperti ini. Good,bad, who knows?

Tuesday, June 21, 2011

I don't know.

Aku tak tahu apa ini, aku tak tahu disebut apa ini, terlebih lagi aku tidak tahu rasa apa ini.

Aku merelakannya, sungguh, jika saja dia berterus terang padaku. Aku bukan orang bodoh yang tak mampu melihat dan tak mampu merasakan. Segalanya terasa nyata di pandanganku. Namun tetap saja, dia hanya berdiam menganggap semuanya tak berarti sementara sikapnya berkata lain. Apa harus yang kuperbuat? Menutup mata menganggap semuanya hanya semu?

Dia datang dari masa lalu, muncul di tengah-tengah kami. Dia telah berhasil membuat segalanya berubah, aku dan juga dia. Dia terlihat beda. Aku kenal dekat dengannya, aku bisa merasakan perubahannya oleh karena dia. Apa aku harus memejamkan mata dan tidak merasakannya?

Mereka berdua sungguh membuatku bingung dengan sikap mereka yang sudah tertebak tapi tak ada satu katapun yang keluar dari mulut mereka yang membuktikannya, Apa yang aku harus kulakukan? Aku tak tahu. Aku seperti orang bodoh di tengah mereka. Aku seperti orang bingung dan tidak tahu apapun yang terjadi. Untuk itu aku lebih milih diam karena aku tak tahu apa yang harus kulakukan dan bagaimana aku harus bersikap. Aku tak tahu.

Sunday, June 12, 2011

It's over now but not the end

Dan inilah akhir dari semuanya...
Tangisan ikut memeriahkan perpisahan yang aku sendiri tak merencanakannya...
Aku tak ingin menyakitinya... namun sayangnya aku telah menyakitinya...

Dia tidak mampu menerima keputusanku untuk mengakhiri semuanya. Aku mengerti karena ini terlalu mendadak. Sebenarnya aku ingin sekali menunda pernyataanku. Tapi, aku takut, aku takut jika aku menunda semalam, aku tak menemukan waktu yang lebih tepat untuk menyatakannya lagi, atau aku bahkan tidak cukup kuat untuk menyatakannya sehingga membuatku semakin tertekan. Katakanlah aku ini egois, aku membuatnya shock mendadak, aku bahkan membuatnya menangis. Aku lebih memilih dia marah-marah seperti biasa daripada seperti ini. Lewat suara aku bisa merasakan kesedihannya. Oh, aku ini memang jahat sekali. Aku benar-benar tak kuasa untuk melanjutkannya. Aku sudah mempertimbangkan ini berhari-hari. Beberapa malam ini aku sering bergadang, tak bisa tidur nyenyak. Aku hanya merasa semalam akan lebih baik, setidaknya sebelumnya kami masih sempat pergi bersama. Namun, mungkin saja itu lebih sakit daripada ada masalah, beradu mulut, dan berakhir. Aku benar-benar tak bermaksud membuat semuanya menjadi lebih sakit, meski kenyataannya demikian. Dia harus benar-benar merelakanku. 

Ungkapan dia semalam membuatku menjadi semakin bersalah untuk menyatakannya. Meski dia tidak mengatakannya, aku sudah tahu semuanya. Diri ini tetap tak mampu melanjutkan. Mulai hari ini kami akan menjalani hari-hari masing-masing. Aku tahu pasti dia belum bisa melepasku. Aku yakin sang waktu akan menyembuhkan segalanya. Kembali kuberserah pada sang waktu. Tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada ucapan selamat malam, tidak ada yang menanyakan kabar. Aku pasti bisa melewati semuanya. Ini akan menjadi lebih baik. Aku harus yakin akan hal itu. Begitu juga dengan dia. Aku harus kuat. Everything will be ok in the end, if it's not ok, then it's not the end. 

Saturday, June 11, 2011

Benda Itu

Benda itu, hungga sampai tahap ini aku menyatakan aku membencinya. Aku tak akan menggunakannya hingga suatu saat aku dituntut pekerjaan untuk menggunakannya. Jujur, kuakui benda itu cukup bermanfaat bagi yang berjauhan untuk mendekatkan diri tentunya jika keduanya menggunakan benda itu. Jika tidak, malah akan menjauhkan yang mendekat. Hingga saat ini, aku belum menemukan alasan yang tepat mengapa harus menggunakannya. Hanya sekedar dekat dengan orang lain, hanya sekedar gosip, hanya sekedar ngobrol, dan aku harus menghabiskan biaya yang tetap setiap bulan untuk menggunakannya, belum lagi harga benda itu memang sudah cukup mahal. Alasan klise yang sangat kubenci adalah "agar lebih mudah berhubungan" dan "butuh buat pergaulan". Yah, budaya sini yang memang sangat mudah teracuni oleh sebuah tren membuat benda itu semakin bersinar.

Benda itu membuat perubahan drastis.
Benda itu mengubah kebiasaan orang.
Benda itu mendirikan dinding pemisah bagi orang lain yang tak menggunakannya.
Benda itu meningkatkan keegoisan seseorang.

Memang tidak semua orang begitu, tapi yang kualami hampir setiap dari temanku berlaku seperti itu. Yang tidak? Hanya bisa terhitung dengan jari. Sungguh, benda itu telah menghipnotis semua yang penting menjadi tidak penting dan semua yang tidak penting menjadi penting bagi sesama penggunanya. Gosip-gosip semakin gencar beredar dan omongan orang dari belakang sangat sukses berjalan terutama bagi orang yang tak menggunakannya. Aku tidak akan tahu apa omongan orang di belakangku dan bergosip menggunakan benda itu. Bukan berprasangka buruk, tapi kadang feeling merupakan suatu hal yang bisa membuat mu memiliki perasa yang lebih sensitif. Apabila itu terjadi beberapa kali dan sempat terbukti tepat beberapa kali, haruskah kamu mengenyahkan feeling yang kamu peroleh? Itu seperti anugerah bagi dirimu. Hingga saat ini dari orang-orang yang kukenal sebagai pengguna benda itu, hanya segelintir yang tidak berubah. Yang ketika aku membutuhkannya, tetap merespon. Sisanya, mereka akan bertindak seolah masa bodoh dengan kebutuhanku dan seakan diriku yang salah tidak menggunakan benda itu. Bukankah itu egois sekali? Yah, mungkin alokasi biaya yang dikeluarkan hanya untuk akses sesama pengguna. Aku sangat membenci itu. Mungkin persahabatan dan kedekatan dengan sahabat hanya sebatas benda itu juga. Salah seorang sahabatku telah menjadi penggunanya, kita lihat saja perubahan dari dirinya. Aku sungguh sudah mempersiapkan mental menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Seorang sahabat lagi masih tetap setia dengan benda yang dia miliki, untuk itu tidak ada masalah dengan cara kami berhubungan. 

Benda itu sungguh memiliki kuasa yang luar biasa...
Mendekatkan orang yang baru kenal...
Menjauhkan orang yang dulu dekat...
Kuakui kehebatan benda itu...

Dengan perawakan yang kecil...
Dengan segala yang dimilikinya...
Dia sukses membodohi diriku...
Dia sukses membuat perubahan drastis...

Dengan benda itu seolah orang membentuk dunia mereka sendiri...
Tak peduli dengan kebutuhan orang lain yang di luar lingkaran...
Aku terlihat seperti orang bodoh, yang memiliki feeling, tapi tidak bisa membuktikannya.
Au sungguh membenci benda itu.

Friday, June 10, 2011

Right Time, Right Moment, Right Place, but not Right Man

Dia hadir di saat aku mulai memberi kesempatan diri ini untuk berbagi dengan orang lain.
Dia hadir ketika aku telah meluangkan waktu untuk seseorang, tidak lagi egois, telah mundur dari segala aktivitas yang menghabiskan hampir semua waktuku.
Dia hadir di tempat yang aku butuh seseorang. untuk alasan yang klise, kemungkinan aku akan kesepian.

Untuk iu, ku mempersilahkannya untuk menapaki bagian dari hati ini yang cukup pribadi. Seiring berjalan waktu, ternyata semua tidak seindah anganan, ternyata perbedaan itu tak mampu tertutupi. Keegoisan masing-masing membuat jarak itu kian membesar. Hingga kini tak kutemukan jembatan yang sesuai untuk menghubungkannya. Aku lelah mengalah terus menerus. Aku letih diam ketika ada konflik. Aku tak kuat menganggap bahwa semuanya akan baik-baik aja. Kenyataan telah berkata lain. Keluarga dan teman-teman juga turut membantuku melihat bahwa segalanya tak bisa dipertahankan lagi. Sudah cukup segala keletihan, kekesalan, dan kebohongan terhadap diri sendiri. Mungkin memang semua harus usai dan melanjutkannya dengan cerita yang lain, bukan cerita yang selama ini kami ukir. Aku memiliki pemikiranku sendiri, perasaan, dan prinsip sendiri yang hingga saat ini tidak sesuai dengannya dan itu tak bisa dipaksakan. Bukankah masih banyak pilihan di luar sana? Kami hanya tidak bisa bersama untuk merangkai kisah yang satu ini. Dia hanya ibarat orang yang muncul di saat yang tepat ketika aku memulai menerima pribadi lain untuk singgah dalam hatiku tapi sayangnya bukan untuk menetap. Menyesal? Tidak. "Bagaimana kamu tahu rasa kue itu enak jika kamu tak pernah mencobanya?". Begitu juga dengan kisah ini, aku telah mencobanya, seluruh yang kurasakan, baik atau buruk, siapa yang tahu? Melihat sosok dirinya, aku mulai memperbaiki emosi dalam diri dan berusaha menekannya turun secara perlahan. Ketika melihat cerminan diriku dalam dirinya, aku belajar mengalah, diam, dan tidak membalas. Itu membuat pribadiku menjadi lebih baik. Setidaknya dari segala yang kualami, ada sesuatu yang bermanfaat bagi diriku. Meski pada awalnya banyak yang telah mengingatkan untuk tidak memulai kisah ini dengan dirinya, namun entah mengapa aku memberinya kesempatan. Atau mungkin lebih tepatnya kesempatan untuk diriku sendiri? Apapun itu, aku telah menjalani semuanya, aku telah melewatinya. dan telah berusaha yang terbaik. Sisanya, aku serahkan kembali kepada waktu untuk memutuskannya. Waktu kembali yang akan menjawab sebuah kata tanya "Kapan?" untuk benar-benar mengakhiri segalanya dan menyimpan sebagai salah satu kerangka kehidupanku yang berkesan.