Always be grateful

Always be grateful
Just enjoy the path...

Dear YOU

Hello pals!

You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life

Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.

So, enjoy the pieces of mine ^^

Sunday, May 22, 2011

Waktu menyembuhkan segalanya...

Waktu menyembuhkan segalanya. Menyembuhkan perasaan tidak bisa sekilat makanan cepat saji. Butuh waktu, butuh proses. Akhirnya setelah sekian lama aku berusaha, aku berhasil, Sobat. Aku berhasil bangkit dan tak lagi merasakan perih itu. Semalam aku makan malam di sebuah restoran Jepang yang dulu setiap berkunjung ke sana aku selalu bersama dengan sahabatku. Aku belum pernah mengajak orang selain dia untuk pergi ke sana. Semalam untuk kali pertamanya aku mengajak orang lain ke sana dan apa yang kurasakan? Aku tidak merasakan kesedihan lagi bahkan perih yang dulu ada setiap mengingat tempat-tempat yang pernah kami kunjungi seakan meluap. Iya, waktu telah menyembuhkan segalanya. Cukup sudah kesedihan lebih dari satu semester. Kami telah ibarat dua penumpang yang berada di perahu berbeda dengan tujuan berlayar yang berbeda. Biarlah kami masing-masing menjalani dengan senang hati. Dia telah memilih dia untuk menemaninya, aku tidak memaksa, mungkin sampai di sanalah ikatan jodoh kita. Untuk ke depannya, aku tak akan membiarkan satu orang pun yang menggantikan posisinya lagi. Ini kedua kali aku merasakan trauma itu dan tak akan ada orang ketiga lagi. Meski setiap orang berbeda, namun aku tak mampu membiarkan diri ini mengambil peluang yang bisa menyebabkan luka untuk ketiga kalinya. Yah, beginilah diriku sekarang, perasaan sudah kebal terhadap semua kenangan tentangnya. Berterima kasih kepada sang waktu yang telah berhasil menyembuhkan segalanya. Aku berdoa semoga dia mendapatkan kebahagiaannya bersama dia yang mungkin dia tidak merasakannya saat bersamaku. 

Friday, May 13, 2011

Lensa Merekam Sesaat

Dulu aku bukan orang yang penggila foto segala hal, melainkan foto diriku sendiri, bisa dikategorikan narsis. Sekarang, entah mengapa aku lebih suka mengambil foto segala sesuatu yang ada di sekitarku. Aku merasa foto bisa merekam momen yang indah itu sesaat dan membuatnya abadi dalam wujud foto. Aku bisa dikatakan orang yang cukup mudah melupakan. Satu-satunya cara yang paling mudah membuatku mengingat kembali peristiwa masa lalu adalah lewat foto. Tahukah kamu sebuah foto bisa mengatakan beribu kata yang tak dapat terucap. Dia mampu membawa jiwa ini seakan terbang ke masa itu, masa yang menorehkan kenangan yang telah dilewati. Foto dapat membuat waktu seakan berhenti sejenak dan merekamnya. Ah, mungkin aku telah jatuh cinta pada foto. Iyah, aku tidak ingin melewatkan momen indah dan lucu di sekitarku. Aku tidak ingin lupa aku telah mencoba makanan dan minuman apa saja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku bersama dengan orang-orang yang kusayangi. Aku tidak ingin tempat-tempat indah yang kukunjungi hanya sebatas melewati mata. Aku ingin membuatnya tetap nyata, tetap hidup, tetap berkesan, meski hanya berada dalam foto. Wajah ceria, senyum manis, makanan menggoda, minuman menyegarkan, tempat-tempat menarik, alam yang luar biasa indah, akan kujadikan abadi selamanya dalam foto. Tak peduli, bagus tidaknya karya fotomu, yang terpenting adalah ketika melihat kembali foto itu, kamu merasakan perasaan yang sama. Foto itu mengulang sesuatu yang telah lalu.

Lensa yang kecil mampu menangkap berbagai momen dalam hidup. Jadi teringat beberapa temanku yang gemar dengan dunia fotografi. Mereka terus berlatih menghasilkan karya-karya menakjubkan, menyajikan segala keindahan dunia ini mulai dari manusia, flora, fauna, hingga keseluruhan alam melalui sebuah karya foto. Lensa beberapa dari mereka sempat merekam wajahku, mengambil setiap garis wajahku, setiap gestur tubuhku, dan setiap senyumanku. Meski sekarang telah berpisah, momen itu akan tetap ada pada mereka, dan ada padaku tentunya.

Aku akan terus merekam lewat lensa dalam diam...
Dengan begitu aku tak akan melupakan...
Dengan begitu momen itu tetap akan kurasakan...
Seakan aku berkuasa akan waktu meski hanya sebatas memori...

Berakhir sampai di sini...

Aku di sini. Engkau di sana. Berhadapan dalam diam. Hanya menatap dengan wajah tak berekspresi.
Mungkin segalanya memang harus berakhir sampai di sini...

Menyesal? Mungkin. Sakit? Pasti. Menyayangkan? Tentu saja.
Bertahun-tahun canda tawa, keluh kesah, berbagi dengan dia. Aku tak merasa sendiri, tak ada kesempatan untuk diriku bahwa aku merasakan yang namanya kesepian. Terima kasih pada dirinya yang senantiasa menemaniku. Orang yang kucari ketika aku merasa bosan, orang yang kucari ketika aku merasa tertekan, orang yang kucari ketika aku merasa kesal, orang yang kucari ketika aku merasa ingin meluapkan emosi, dan orang yang kucari ketika aku merasa sakit. Hal yang tak kusangka segalanya berakhir seperti ini. Orang yang paling dekat denganku, kini menjadi orang yang paling jauh dariku. 

Ku tak mengerti, tak tahu sejak kapan, diriku dan dirinya kini telah berada dalam perahu yang berbeda. Tak lagi mendayung bersama. Entah siapa meninggalkan siapa. Sekarang kita hanya ibarat dua penumpang dari perahu berbeda yang hanya akan saling menatap ketika kedua perahu bertemu di lautan luas.


Diriku di benaknya telah tergantikan oleh orang lain yang mungkin lebih segalanya dariku. Dengan segala kelebihan diri orang itu, membuat dia tak lagi berada di sisiku. Aku ingin menerimanya dengan lapang hati. Sungguh. Meski itu sulit sekali, hubungan bertahun-tahun yang kubina dengan perjuangan melawan traumaku kini berakhir sama dengan pengalaman perdanaku. Kali ini aku benar-benar takkan pernah mencoba lagi dan aku takkan lagi mampu percaya dengan hubungan seperti itu. Keinginan untuk menata kembali? Tentu, bahkan sering kali melintas di pikiranku. Namun aku menyadari dengan segala kekurangan yang kumiliki, aku hanya mampu berdiam. Berdiam di tempat sekarang kuberpijak dan melihatnya jalan menjauh tanpa berusaha berbuat apa-apa. Kaki ini seakan tak bisa bergerak, mulut ini seakan tak bersuara, dan hati ini seakan amat perih. Tubuhku hanya kaku menatapnya. Memang mungkin seharusnya semua berakhir sampai di sini. 

Aku telah kehilangan dirinya, harus bagaimana? Saatnya menata kembali puing diri ini dan berjalan sendiri. Harus kuat menghadapi dunia karena tak ada lagi seorang sobat yang senantiasa menopang....

Aku di sini. Dia di sana. Terpisah jarak yang semakin jauh. Tubuh kaku, memandang dirinya tanpa ekspresi. Segalanya mungkin memang harus berakhir sampai di sini...



Penuh dan Kosong

Aku bingung... terdiam.. dan termangu.. Ada apa dengan diri ini.. Aku tak merasakan diriku seutuhnya.. Tubuh ini terasa kosong namun pikiran tidak lelahnya berpikir dan dengan liar berlari ke segala penjuru...


Pernahkah kau merasa penuh dan kosong di saat yang bersamaan? 
Aku merasakannya sekarang. Rasanya seperti orang bodoh.
Aku benci saat ini. Ketika aku tidak melakukan apa-apa. Tubuh ini diam.. kosong.. 
Aku benci saat ini. Ketika aku tidak melakukan apa-apa. Pikiran ini melayang sesukanya...

Pernahkah kau mengalami bahwa tak ada seorangpun di sekitarmu yang memahamimu?
Aku mengalaminya sekarang. Rasanya seperti orang aneh.
Aku benci saat ini. Ketika aku duduk diam sendiri. 
Aku benci saat ini. Ketika aku hanya bisa menatap ruang empat sisi ini.

Pernahkah kau merindukan kenangan manis yang pernah ada?
Aku merindukannya sekarang. Rasanya seperti orang gila.
Aku benci saat ini. Ketika pikiran ini terbang ke masa itu.
Aku benci saat ini. Ketika pikiranku mengajakku mengingatnya.

Pernahkah kau membenci kenangan pedih yang kamu harap takkan pernah ada?
Aku membencinya sekarang. Rasanya seperti iblis.
Aku benci saat ini. Ketika air mata kembali membasahi.
Aku benci saat ini. Ketika hati ini kembali perih.

Sunday, May 1, 2011

Tenth Month in 20th

Aku semakin tidak sabar untuk menulis kepadamu... Bulan lalu seminggu sebelum tanggal seharusnya aku tergesa-gesa menceritakan kepadamu, bulan ini juga demikian. Sebulan ini tercampur berbagai macam hal, senang, sedih, bete, dan menyenangkan. Dunia kampus seperti biasa dipenuhi dengan tugas, presentasi, dan kuis-kuis kecil. Aku harus menyelesaikan dua minggu yang sungguh membuatku letih sebelum berlibur ke negara Singa bersama teman-teman. Alhasil, sehari sebelumnya aku sempat sakit, penyakit lamaku kambuh, apalagi kalau bukan masalah kepala. Setiap kali aku terlalu lelah, dia selalu kambuh dan mengingatkanku untuk beristirahat. Hubunganku dengannya bisa dikatakan lumayan lancar, hingga kini aku masih menikmati proses demi proses. Seminggu liburan cukup melelahkan. Hampir tiap malam, aku baru bisa tidur menjelang tengah malam, dan kebiasaanku selalu bangun pagi tetap saja berjalan meski sudah berpindah negara. Teman-teman yang bersamaku menambah keletihanku. Jujur, aku tidak menikmati perjalanan kali ini. Namun demikian, itu semua telah berlalu dan biarlah menjadi pengalaman dan kenangan tersendiri. Aku merasakan bagaimana repotnya mengurusi orang yang tidak tahu apa-apa, aku yang mengarahkan padahal biasanya aku lebih memilih ikut paket tour agar tak usah mengurusi segala hal itu. Aku bukan orang yang terlalu berlebihan kekayaan sehingga akan mengunjungi tempat itu berkali-kali. Aku selalu pergi berlibur dengan uang jajanku sendiri dan aku merasa sedikit kecewa karena tidak puas bermain di sana dikarenakan masalah waktu yang terlalu diulur-ulur oleh mereka. Seharusnya lebih banyak lagi tempat yang bisa dikunjungi dan sepertinya dalam waktu dekat aku tak akan mengunjungi negara maju itu lagi. Kamu tahu mengapa? Itu bukan kota favoritku. Tujuanku mengunjungi suatu negara bukan untuk berbelanja seperti yang dilakukan hampir sebagian besar orang Indonesia yang berkunjung ke sana. Aku merasa kota itu tidak terlalu istimewa, hanya seperti kota metropolitan lainnya layaknya Jakarta. Kota kecil yang tidak terdapat begitu banyak tempat untuk dijelajah dengan kumpulan orang yang ramai tiap paginya di stasiun. Tersebar begitu banyak pusat perbelanjaan yang menggoda dan kalau bukan musim sale, aku tak akan membelinya. Yah, begitulah diriku, aku lebih memilih menggunakan uang jajanku untuk pergi berlibur daripada membeli barang yang bermerk. Prinsipku, kedua orangtuaku hanya bertanggungjawab untuk biaya kuliah dan biaya hidup sementara biaya untuk bersenang-senang seperti berlibur, itu bukan tanggungjawab mereka, sehingga aku akan menggunakan tabunganku sendiri. Kata mama, yang paling penting sehat dan mendapat waktu berlibur itu sudah cukup menyenangkan terlepas dari segala kekesalan dan kebetean yang terjadi, yang terpenting aku masih dalam keadaan baik pulang ke Indonesia. Mama sungguh orang yang bijak yang selalu menjadi pedoman hidupku. Sepulang liburan, kembali aku disibukkan oleh segala tugas dan presentasi yang harus dipersiapkan. Minggu ini akan menjadi minggu terakhir semester 6 ini. Kemarin, aku mengikuti workshop communication skill yang diisi oleh Mas Farhan dan Mas Client Wilfred. Mas Farhan yang notabene sudah menjadi MC yang terkenal di seluruh negeri itu membuat suasana yang sangat mantap dan membawakan materi mengenai interview secara menarik. Banyak quotes yang keluar dari mulutnya. Sementara Mas Ken, panggilan akrab Mas Client, dia mengajarkan teknik presentasi yang baik. Seusai acara aku melakukan booking pendaftaran untuk kelas public speaking school atau MC. Masih membingungkan antara dua pilihan itu, memang keinginanku sejak dulu bergabung dengan sekolah seperti itu. Minggu depan aku harus menghadapi Ujian Akhir Semester dan merencanakan mengambil athasila lagi dalam rangka UAS dan menyambut Waisak dua minggu lagi. Hanya berharap semuanya berjalan lancar. Seusai UAS, aku akan berlibur ke Bali dan Lombok bersama dengan teman-teman lagi. Tak sabar menunggu berakhirnya UAS yang menandakan usainya semester ini secara resmi... :D