Always be grateful

Always be grateful
Just enjoy the path...

Dear YOU

Hello pals!

You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life

Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.

So, enjoy the pieces of mine ^^

Sunday, June 12, 2011

It's over now but not the end

Dan inilah akhir dari semuanya...
Tangisan ikut memeriahkan perpisahan yang aku sendiri tak merencanakannya...
Aku tak ingin menyakitinya... namun sayangnya aku telah menyakitinya...

Dia tidak mampu menerima keputusanku untuk mengakhiri semuanya. Aku mengerti karena ini terlalu mendadak. Sebenarnya aku ingin sekali menunda pernyataanku. Tapi, aku takut, aku takut jika aku menunda semalam, aku tak menemukan waktu yang lebih tepat untuk menyatakannya lagi, atau aku bahkan tidak cukup kuat untuk menyatakannya sehingga membuatku semakin tertekan. Katakanlah aku ini egois, aku membuatnya shock mendadak, aku bahkan membuatnya menangis. Aku lebih memilih dia marah-marah seperti biasa daripada seperti ini. Lewat suara aku bisa merasakan kesedihannya. Oh, aku ini memang jahat sekali. Aku benar-benar tak kuasa untuk melanjutkannya. Aku sudah mempertimbangkan ini berhari-hari. Beberapa malam ini aku sering bergadang, tak bisa tidur nyenyak. Aku hanya merasa semalam akan lebih baik, setidaknya sebelumnya kami masih sempat pergi bersama. Namun, mungkin saja itu lebih sakit daripada ada masalah, beradu mulut, dan berakhir. Aku benar-benar tak bermaksud membuat semuanya menjadi lebih sakit, meski kenyataannya demikian. Dia harus benar-benar merelakanku. 

Ungkapan dia semalam membuatku menjadi semakin bersalah untuk menyatakannya. Meski dia tidak mengatakannya, aku sudah tahu semuanya. Diri ini tetap tak mampu melanjutkan. Mulai hari ini kami akan menjalani hari-hari masing-masing. Aku tahu pasti dia belum bisa melepasku. Aku yakin sang waktu akan menyembuhkan segalanya. Kembali kuberserah pada sang waktu. Tidak ada ucapan selamat pagi, tidak ada ucapan selamat malam, tidak ada yang menanyakan kabar. Aku pasti bisa melewati semuanya. Ini akan menjadi lebih baik. Aku harus yakin akan hal itu. Begitu juga dengan dia. Aku harus kuat. Everything will be ok in the end, if it's not ok, then it's not the end. 

Saturday, June 11, 2011

Benda Itu

Benda itu, hungga sampai tahap ini aku menyatakan aku membencinya. Aku tak akan menggunakannya hingga suatu saat aku dituntut pekerjaan untuk menggunakannya. Jujur, kuakui benda itu cukup bermanfaat bagi yang berjauhan untuk mendekatkan diri tentunya jika keduanya menggunakan benda itu. Jika tidak, malah akan menjauhkan yang mendekat. Hingga saat ini, aku belum menemukan alasan yang tepat mengapa harus menggunakannya. Hanya sekedar dekat dengan orang lain, hanya sekedar gosip, hanya sekedar ngobrol, dan aku harus menghabiskan biaya yang tetap setiap bulan untuk menggunakannya, belum lagi harga benda itu memang sudah cukup mahal. Alasan klise yang sangat kubenci adalah "agar lebih mudah berhubungan" dan "butuh buat pergaulan". Yah, budaya sini yang memang sangat mudah teracuni oleh sebuah tren membuat benda itu semakin bersinar.

Benda itu membuat perubahan drastis.
Benda itu mengubah kebiasaan orang.
Benda itu mendirikan dinding pemisah bagi orang lain yang tak menggunakannya.
Benda itu meningkatkan keegoisan seseorang.

Memang tidak semua orang begitu, tapi yang kualami hampir setiap dari temanku berlaku seperti itu. Yang tidak? Hanya bisa terhitung dengan jari. Sungguh, benda itu telah menghipnotis semua yang penting menjadi tidak penting dan semua yang tidak penting menjadi penting bagi sesama penggunanya. Gosip-gosip semakin gencar beredar dan omongan orang dari belakang sangat sukses berjalan terutama bagi orang yang tak menggunakannya. Aku tidak akan tahu apa omongan orang di belakangku dan bergosip menggunakan benda itu. Bukan berprasangka buruk, tapi kadang feeling merupakan suatu hal yang bisa membuat mu memiliki perasa yang lebih sensitif. Apabila itu terjadi beberapa kali dan sempat terbukti tepat beberapa kali, haruskah kamu mengenyahkan feeling yang kamu peroleh? Itu seperti anugerah bagi dirimu. Hingga saat ini dari orang-orang yang kukenal sebagai pengguna benda itu, hanya segelintir yang tidak berubah. Yang ketika aku membutuhkannya, tetap merespon. Sisanya, mereka akan bertindak seolah masa bodoh dengan kebutuhanku dan seakan diriku yang salah tidak menggunakan benda itu. Bukankah itu egois sekali? Yah, mungkin alokasi biaya yang dikeluarkan hanya untuk akses sesama pengguna. Aku sangat membenci itu. Mungkin persahabatan dan kedekatan dengan sahabat hanya sebatas benda itu juga. Salah seorang sahabatku telah menjadi penggunanya, kita lihat saja perubahan dari dirinya. Aku sungguh sudah mempersiapkan mental menghadapi kemungkinan terburuk yang akan terjadi. Seorang sahabat lagi masih tetap setia dengan benda yang dia miliki, untuk itu tidak ada masalah dengan cara kami berhubungan. 

Benda itu sungguh memiliki kuasa yang luar biasa...
Mendekatkan orang yang baru kenal...
Menjauhkan orang yang dulu dekat...
Kuakui kehebatan benda itu...

Dengan perawakan yang kecil...
Dengan segala yang dimilikinya...
Dia sukses membodohi diriku...
Dia sukses membuat perubahan drastis...

Dengan benda itu seolah orang membentuk dunia mereka sendiri...
Tak peduli dengan kebutuhan orang lain yang di luar lingkaran...
Aku terlihat seperti orang bodoh, yang memiliki feeling, tapi tidak bisa membuktikannya.
Au sungguh membenci benda itu.

Friday, June 10, 2011

Right Time, Right Moment, Right Place, but not Right Man

Dia hadir di saat aku mulai memberi kesempatan diri ini untuk berbagi dengan orang lain.
Dia hadir ketika aku telah meluangkan waktu untuk seseorang, tidak lagi egois, telah mundur dari segala aktivitas yang menghabiskan hampir semua waktuku.
Dia hadir di tempat yang aku butuh seseorang. untuk alasan yang klise, kemungkinan aku akan kesepian.

Untuk iu, ku mempersilahkannya untuk menapaki bagian dari hati ini yang cukup pribadi. Seiring berjalan waktu, ternyata semua tidak seindah anganan, ternyata perbedaan itu tak mampu tertutupi. Keegoisan masing-masing membuat jarak itu kian membesar. Hingga kini tak kutemukan jembatan yang sesuai untuk menghubungkannya. Aku lelah mengalah terus menerus. Aku letih diam ketika ada konflik. Aku tak kuat menganggap bahwa semuanya akan baik-baik aja. Kenyataan telah berkata lain. Keluarga dan teman-teman juga turut membantuku melihat bahwa segalanya tak bisa dipertahankan lagi. Sudah cukup segala keletihan, kekesalan, dan kebohongan terhadap diri sendiri. Mungkin memang semua harus usai dan melanjutkannya dengan cerita yang lain, bukan cerita yang selama ini kami ukir. Aku memiliki pemikiranku sendiri, perasaan, dan prinsip sendiri yang hingga saat ini tidak sesuai dengannya dan itu tak bisa dipaksakan. Bukankah masih banyak pilihan di luar sana? Kami hanya tidak bisa bersama untuk merangkai kisah yang satu ini. Dia hanya ibarat orang yang muncul di saat yang tepat ketika aku memulai menerima pribadi lain untuk singgah dalam hatiku tapi sayangnya bukan untuk menetap. Menyesal? Tidak. "Bagaimana kamu tahu rasa kue itu enak jika kamu tak pernah mencobanya?". Begitu juga dengan kisah ini, aku telah mencobanya, seluruh yang kurasakan, baik atau buruk, siapa yang tahu? Melihat sosok dirinya, aku mulai memperbaiki emosi dalam diri dan berusaha menekannya turun secara perlahan. Ketika melihat cerminan diriku dalam dirinya, aku belajar mengalah, diam, dan tidak membalas. Itu membuat pribadiku menjadi lebih baik. Setidaknya dari segala yang kualami, ada sesuatu yang bermanfaat bagi diriku. Meski pada awalnya banyak yang telah mengingatkan untuk tidak memulai kisah ini dengan dirinya, namun entah mengapa aku memberinya kesempatan. Atau mungkin lebih tepatnya kesempatan untuk diriku sendiri? Apapun itu, aku telah menjalani semuanya, aku telah melewatinya. dan telah berusaha yang terbaik. Sisanya, aku serahkan kembali kepada waktu untuk memutuskannya. Waktu kembali yang akan menjawab sebuah kata tanya "Kapan?" untuk benar-benar mengakhiri segalanya dan menyimpan sebagai salah satu kerangka kehidupanku yang berkesan.

Monday, June 6, 2011

I'm grateful that I still have them beside me...




We often enjoy saturday night together :D
Make up and dress beautiful for fun saturday night :p


being Lombok princess :p
memories in Bali :D
Once good Sunday 

@ Nusa Dua Beach Bali

@ Bali Safari

Having summer holiday at Paradise Island-Bali

We're happy :D

Eleventh Month in 20th

Sunset @ Senggigi Beach-Lombok

Terimalah salam hangat dariku, Sobat!
Bulan ini cukup berwarna. Setelah disibukkan dengan tugas dan kuis, akhirnya tiba saatnya Ujian Akhir Semester. Rasanya ingin segera membereskan semuanya. Rasanya malas sekali mengulang mata kuliah yg nilainya kurang bagus semester depan. Rasanya ingin menjadikan semester ini menjadi puncak klimaks perkuliahan. Lupakan sejenak soal nilai akhir semester ini. Tiga hari setelah bebas dari kesengsaraan semester ini, aku secara resmi menjadi pengangguran. Sendirian di kosan, tanpa kegiatan yang jelas, tak terurus, pikiran ke mana-mana, suntuk, hanya menatap layar segiempat di ruangan segiempat. Keberadaan dia? Tidak ada. Dia sukses membuat segalanya tambah runyam. Sungguh, hari itu aku sangat berharap dia tidak perlu muncul di kosanku dan menambah kehancuran diriku. Aku kembali merenung posisi dia. Setelah terpuruk selama tiga hari, saatnya aku memberi kesempatan diri ini bersenang-senang. Aku berlibur ke Bali dan Lombok bersama teman-teman cewekku.


  I ever had a dream that one day I'll go to Bali with my girls, and finally I was there.:D 

Sunset @ Bukit Malimbu-Lombok
Meski segalanya tak berjalan mulus awalnya karena segalanya butuh adaptasi dan hidup ini tak jauh dari masalah bukan? Namun segalanya berakhir dengan manis. Liburan ini terasa menyenangkan. Damn, till now i still miss Bali especially Lombok. I always love Lombok more than Bali. Selama liburan aku bertambah dekat dengan sahabatku yang gila, buka-bukaan, tak memasang wajah topeng lagi. Sungguh menyenangkan. Aku sangat bersyukur dia bisa menerimaku apa adanya. Aku tak bisa membohongi dirinya, Lombok menorehkan kisah cukup dalam bagiku. Apapun itu yang menjadi masa lalu seakan kembali hadir dalam kenyataan yang ada. Apa yang harus kulakukan, keadaan sekarang tidak lagi persis masa lampau. Segalanya telah berubah, segalanya telah tidak sama. Kenangan yang sama kembali terulang dalam ruang waktu berbeda dalam suasana berbeda dan dalam tempat yang berbeda. Jujur, ini semua lebih manis dan indah. Oh, mungkin aku sudah hampir gila. Mengharapkan sesuatu yang semu, yang hanya terjadi dalam angananku. Alam bawah sadarku tak ingin melepasnya meski kutahu kecil kemungkinan terwujud karena kondisi telah berbeda. Bahkan dua malam yang lalu aku sempat bermimpi, dalam mimpi aku memiliki kuasa untuk mewujudkannya. Aku hanya menyerahkannya pada waktu. Biarlah waktu menjawab segalanya. Biarlah waktu membuktikan mimpi itu menjadi nyata. Biarlah semuanya mengalir seiring waktu.

The sunset is awesome right? Like light from heaven. It's great! :D




Sunday, May 22, 2011

Waktu menyembuhkan segalanya...

Waktu menyembuhkan segalanya. Menyembuhkan perasaan tidak bisa sekilat makanan cepat saji. Butuh waktu, butuh proses. Akhirnya setelah sekian lama aku berusaha, aku berhasil, Sobat. Aku berhasil bangkit dan tak lagi merasakan perih itu. Semalam aku makan malam di sebuah restoran Jepang yang dulu setiap berkunjung ke sana aku selalu bersama dengan sahabatku. Aku belum pernah mengajak orang selain dia untuk pergi ke sana. Semalam untuk kali pertamanya aku mengajak orang lain ke sana dan apa yang kurasakan? Aku tidak merasakan kesedihan lagi bahkan perih yang dulu ada setiap mengingat tempat-tempat yang pernah kami kunjungi seakan meluap. Iya, waktu telah menyembuhkan segalanya. Cukup sudah kesedihan lebih dari satu semester. Kami telah ibarat dua penumpang yang berada di perahu berbeda dengan tujuan berlayar yang berbeda. Biarlah kami masing-masing menjalani dengan senang hati. Dia telah memilih dia untuk menemaninya, aku tidak memaksa, mungkin sampai di sanalah ikatan jodoh kita. Untuk ke depannya, aku tak akan membiarkan satu orang pun yang menggantikan posisinya lagi. Ini kedua kali aku merasakan trauma itu dan tak akan ada orang ketiga lagi. Meski setiap orang berbeda, namun aku tak mampu membiarkan diri ini mengambil peluang yang bisa menyebabkan luka untuk ketiga kalinya. Yah, beginilah diriku sekarang, perasaan sudah kebal terhadap semua kenangan tentangnya. Berterima kasih kepada sang waktu yang telah berhasil menyembuhkan segalanya. Aku berdoa semoga dia mendapatkan kebahagiaannya bersama dia yang mungkin dia tidak merasakannya saat bersamaku. 

Friday, May 13, 2011

Lensa Merekam Sesaat

Dulu aku bukan orang yang penggila foto segala hal, melainkan foto diriku sendiri, bisa dikategorikan narsis. Sekarang, entah mengapa aku lebih suka mengambil foto segala sesuatu yang ada di sekitarku. Aku merasa foto bisa merekam momen yang indah itu sesaat dan membuatnya abadi dalam wujud foto. Aku bisa dikatakan orang yang cukup mudah melupakan. Satu-satunya cara yang paling mudah membuatku mengingat kembali peristiwa masa lalu adalah lewat foto. Tahukah kamu sebuah foto bisa mengatakan beribu kata yang tak dapat terucap. Dia mampu membawa jiwa ini seakan terbang ke masa itu, masa yang menorehkan kenangan yang telah dilewati. Foto dapat membuat waktu seakan berhenti sejenak dan merekamnya. Ah, mungkin aku telah jatuh cinta pada foto. Iyah, aku tidak ingin melewatkan momen indah dan lucu di sekitarku. Aku tidak ingin lupa aku telah mencoba makanan dan minuman apa saja. Aku tidak ingin menyia-nyiakan waktuku bersama dengan orang-orang yang kusayangi. Aku tidak ingin tempat-tempat indah yang kukunjungi hanya sebatas melewati mata. Aku ingin membuatnya tetap nyata, tetap hidup, tetap berkesan, meski hanya berada dalam foto. Wajah ceria, senyum manis, makanan menggoda, minuman menyegarkan, tempat-tempat menarik, alam yang luar biasa indah, akan kujadikan abadi selamanya dalam foto. Tak peduli, bagus tidaknya karya fotomu, yang terpenting adalah ketika melihat kembali foto itu, kamu merasakan perasaan yang sama. Foto itu mengulang sesuatu yang telah lalu.

Lensa yang kecil mampu menangkap berbagai momen dalam hidup. Jadi teringat beberapa temanku yang gemar dengan dunia fotografi. Mereka terus berlatih menghasilkan karya-karya menakjubkan, menyajikan segala keindahan dunia ini mulai dari manusia, flora, fauna, hingga keseluruhan alam melalui sebuah karya foto. Lensa beberapa dari mereka sempat merekam wajahku, mengambil setiap garis wajahku, setiap gestur tubuhku, dan setiap senyumanku. Meski sekarang telah berpisah, momen itu akan tetap ada pada mereka, dan ada padaku tentunya.

Aku akan terus merekam lewat lensa dalam diam...
Dengan begitu aku tak akan melupakan...
Dengan begitu momen itu tetap akan kurasakan...
Seakan aku berkuasa akan waktu meski hanya sebatas memori...