Always be grateful

Always be grateful
Just enjoy the path...

Dear YOU

Hello pals!

You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life

Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.

So, enjoy the pieces of mine ^^

Wednesday, November 9, 2011

4th month in 21st

I'd like to tell you time moves extremely fast this month. I really wish I can make it slower or even stop it. That's impossible, even in a  dream I can't stop the time.

Mengapa aku lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Jawabannya sangat sederhana, negara ini, Indonesia, tanah kelahiranku, dalam darahku mengalir dan aku dibesarkan di Indonesia, Dengan demikian, menulis dalam bahasa sendiri bukankah yang paling mudah? Mungkin sebagian orang menemukan bahwa akan lebih mudah menulis dalam bahasa asing lainnya. Itu juga hal yang sangat bagus, karena dapat berlatih dan memiliki kemampuan bahasa asing yang lain. Entah mengapa dari dulu aku tetap menyenangi menulis dalam bahasa yang sudah mendarah daging ini.

Baiklah, mari kuberbagi cerita mengenai bulan keempat. Seperti di awal kuutarakan bulan ini berjalan cepat, bulan ini juga kusebut sebagai bulan pemulihan. Bukan karena aku ingin aku lama pulih sehingga ingin waktu berjalan lambat, ini semua dikarenakan aku menghabiskan sebagian bulan ini kembali ke kampung halaman, Yah, diriku memilih melarikan diri sejenak dari semua rutinitas dan kehidupan di Bandung secara mendadak. Aku memilih tidak mengumbar kepulanganku, hanya segelintir orang yang mengetahuinya. Begitu juga dengan teman-temanku di Medan yang sedikit kaget mendengar berita kepulanganku. Sesungguhnya aku bukan sengaja menyinggung dan mengecewakan semua orang yang merasa pantas diberitahu soal ini. Aku hanya butuh waktu sendiri untuk menenangkan diri, untuk berpikir jernih, untuk meluapkan segala tekanan, dengan berkumpul bersama mama, orang yang paling tidak bisa kubayangkan bagaimana perasaanku jika aku kehilangan beliau. Katakanlah ini kemelekatan,. Aku menyadari secara penuh, perpisahan itu akan datang dan kini aku belum siap, aku masih membutuhkannya berada di sampingku dan mendukungku sepenuhnya. Dua minggu kuhabiskan hanya bersama kedua orangtuaku dan empat orang temanku yang sungguh menunjukkan niat yang benar-benar ingin bertemu denganku, Sama sekali aku tak bermaksud mengatakan yang lain kurang berniat, sesungguhnya setiap orang memiliki kesibukan dan prioritas berbeda, No hurt feeling. Kepulanganku kali ini benar-benar mengistirahatkan tubuh dan jiwaku secara total. Sakit hati itu mungkin untuk yang terakhir kalinya. Berterimakasih kepada dia yang pernah menjadi sahabatku yang paling baik telah memberikan pukulan keras dan menorehkan luka terdalam sehingga membuatku setegar dan sekuat ini untuk ke depannya. 

Mama selalu mengajarkan padaku "memberi lebih baik menerima" dan mengajarkan arti berbagi yang sesungguhnya. Menolong orang yang benar-benar membutuhkan perhatian dan kasih sayang kita, bukan hanya sebagai pujian. Nilai-nilai yang ditanamkan di keluargaku membuatku yakin bahwa selama yang kulakukan tidak merugikan orang lain maka pada akhirnya akan ada sesuatu yang baik menunggu. That's called karma. Aku mencurahkan segala tenaga, pikiran, dan semangat untuk pekerjaan ini. Saatnya telah tiba menyerahkannya kepada orang lain, Meski yang kuperoleh tak seberapa, namun aku belajar banyak hal. Aku bersyukur mendapat kesempatan itu,. Pekerjaan ini telah kuanggap bagai anakku sendiri, Aku ingin orang lain yang mengambil alih kewajibanku mampu menyayangi dan menjaganya layaknya diriku bahkan lebih baik sehingga membuatnya berkembang menjadi lebih baik lagi. 

Memasuki bulan November aku melamar ke beberapa perusahaan, dan beberapa dari mereka mengundangku untuk menjalani tes dan wawancara. Target jangka pendekku hanya lulus di bulan Februari nanti, utuk ke depannya aku belum tahu ke mana kakiku melangkah. Mama, dosen, dan kakakku berkata padaku untuk mencoba semua kesempatan dan ikutilah jalan, aku akan menemukan jalan yang ingin kutempuh nantinya. 

Kembali lagi aku mengucap kata "bersyukur" memiliki orang-orang seperti mereka yang mendukungku dengan tulus, 
Untuk teman-teman yang memandang rendah diriku dan secara tidak sengaja mengejekku aku juga bersyukur karena aku akan membuktikan bahwa aku punya nilai tersendiri yang patut diperjuangkan, 
Untuk teman-teman yang tidak mendukungku, tidak apa-apa, aku tetap bersyukur karena kalian mengajariku untuk berusaha sendiri dan mengandalkan diri sendiri.
Untuk teman-teman yang merasa bersaing denganku, aku bersyukur aku memiliki saingan, tetapi bukankah semua orang memiliki porsinya masing-masing.
Untuk teman-teman di Sekolah Luar Biasa, aku bersyukur diberi kesempatan bagiku untuk berbagi setiap bulan. Meski tak bertemu langsung, aku bahagia kalian menerima pemberianku.
Untuk semua orang yang melayani diriku dari hari ke hari, aku bersyukur karena tanpa kalian aku akan makin repot mengurusi keseharianku.

Pengarang buku "9 Summers 10 Autums" , Iwan Setiawan dan Billy Boen, motivator dan orang sukses muda di Indonesia memberikan pandangan yang membuatku merasa yakin bahwa aku memiliki "sesuatu" yang tidak dimiliki orang lain, Berharap suatu saat aku bisa menjadi orang-orag hebat seperti mereka tentunya dengan pemikiran-pemikiran hebat yang menginsiprasi banyak orang. Mereka tidak peduli dengan ejekan, cibiran, dan cemooh orang lain di masa lalu, Mereka hanya tekun menjalani apa yang mereka yakini. And you see guys, they are great people with great ideas. Nothing's wrong! It's just not the moment in the past, but now and future, enjoy the result.

Bersabarlah, semua akan indah pada waktunya, everything happens for reason, you just need to figure out the reason.
Sebaris kalimat menutup bulan keempat ini dengan senyum hangat dan pribadi baru yang telah pulih dan lebih tegar.

Wednesday, October 12, 2011

3rd month in 21st

Tak terasa sudah bulan ketiga. Bulan September terasa amat sangat cepat karena banyak hal manis dan pahit bercampur menjadi satu. Satu kata untuk menghibur diri "bersyukur". Merelakan dia yang telah pergi, menyambut yang telah datang, dan berbagi dengan mereka yang kekurangan. Bulan ini aku menjalani ketiga hal tersebut. Masih disibukkan dengan pekerjaan dan kuliah, keseharian yang akan segera berakhir beberapa bulan ke depan. "Sudah cukup" mendampingi kata "bersyukur" di atas yang membuatku tidak lagi menuntut banyak hal. Bulan ini bulan yang cukup menyenangkan. :D

Saturday, October 1, 2011

Welcome October! Different Side of Thinking

No offense... Just a sharing...

Tadi pagi mendapat inspirasi menulis. Sudah lama tidak mendapat ide untuk menulis. Yah, seperti biasa, ide selalu didapat saat aktivitas di kamar mandi :D


Atasan vs Bawahan
Yang dimaksud di sini bukan pasangan dalam berpakaian lho, tetapi dalam makna lain yaitu dalam hubungan pekerjaan. Kadang seorang bawahan lebih hebat dari atasan. Mengapa? Seorang atasan seringkali hanya memerintah dan ingin tahu semuanya beres sesuai dengan jadwal dan tentunya sesuai dengan keinginannya. Padahal tak jarang, banyak hambatan selama proses pengerjaan. Kadang seorang atasan berharap terlalu banyak terhadap bawahan untuk mengerjakan sesuai dengan keinginannya tanpa melihat kemampuan bawahannya. Sebenarnya bawahan merupakan orang yang lebih hebat, karena lebih memahami yang sedang dijalani atau dikerjakannya, menghadapi hambatan untuk menyelesaikannya tepat waktu dan berusaha untuk memenuhi keinginan atasannya.  Meski bagi atasan, itu hal yang sepele, yang bisa dikerjakan dengan mudah, tidak demikian bagi bawahan, yang membutuhkan waktu dan tenaga untuk mengerjakannya dengan sungguh-sungguh agar hasilnya memuaskan. Seorang atasan kerap kali menuntut banyak hal kepada bawahannya dan memarahi jika tidak diselesaikan sesuai dengan keinginannya. Sekali lagi, jika bawahan lebih pintar daripada atasan dan kemampuannya lebih, dia tidak akan menjadi bawahan. Di sini kita tentunya tidak membahas faktor keberuntungan. Mungkin bagi seorang atasan itu hal yang sangat mudah, amun karena tidak turut dalam pengerjaan, tidak akan menyadari betapa rumitnya dan masalah yang muncul dari hal sederhana itu. Menyepelekan merupakan hal harus dihindari, karena dengan adanya rasa seperti itu kita tidak akan pernah bisa memposisikan di posisi orang lain. Meski secara garis besar itu hal yang sederhana, bisa saja komponen-komponen di dalamnya rumit. Oleh karena itu, tak heran banyak bawahan yang kemudian menjadi atasan, sementara tidak semua atasan mampu menjadi bawahan.

Baik vs Jahat
Definisi baik dan jahat yang kumaksudkan di sini bukan baik dan jahat yang berkaitan dengan kriminal yang membahayakan nyawa orang lain, melainkan bagaimana seseorang mengenakan topeng di panggung sandiwara dunia ini. Orang yang baik disenangi oleh orang lain dan memiliki banyak teman di sekitarnya karena dirinya akan sering membantu dan selalu menyenangkan hati orang lain. Itu hal yang baik, bukan? Sementara orang yang jahat akan dihindari dan ditakuti oleh orang lain karena dia tidak ringan tangan dan tak segan menegur serta teman-temannya hanya sedikit karena yang bisa bertahan dengannya adalah orang-orang yang benar-benar mengenal dirinya. So which mask do you choose? Banyak orang mengatakan susah menjadi orang baik. Aku melihat kebalikannya, lebih susah menjadi orang jahat. Banyak orang bisa berpura-pura baik meski sebenarnya tidak sebaik itu. Tetapi, tak sering orang bisa berpura-pura jahat padahal sebenarnya tidak sejahat itu. Aku sungguh kagum terhadap orang yang memilih mengenakan topeng jahat sehingga dia dibenci dan ditakuti banyak orang karena sering menegur dan mengomel. You know, sometimes we need those kind of persons. Kita kadang butuh orang-orang seperti itu untuk mengingatkan kita bahwa apa yang kita kerjakan ada salahnya dan tidak selalu sempurna atau dipuji hanya sekedar untuk membuat kita bahagia. Kita butuh orang yang membuat kita takut untuk melanggar suatu aturan yang membosankan. Kita butuh orang seperti itu untuk merendahkan hati kita bahwa apa yang kita kerjakan bisa saja tidak berarti bagi orang lain. Mereka tidak membantu ketika jatuh, malah menyuruh kita untuk bangkit sendiri, karena sesungguhnya kita mampu untuk bangkit. Aku mengenal beberapa orang seperti itu, dengan segala sikap yang ditunjukkannya, itu bagi kebaikan semua orang, hanya bergantung pada cara kita menerimanya. Aku tak pernah membenci, menghindar, atau bahkan takut dengan orang seperti iu, sebaliknya aku kagum terhadap mereka. Mereka orang-orang yang kuat dan hebat. Mereka harus menelan banyak makian, kebencian, dan penghindaran orang-orang. Mereka harus memiliki mental untuk menghadapi teror dari orang yang membenci mereka. Semua itu merupakan tekanan luar biasa yang harus mereka hadapi untuk mengenakan topeng sebagai orang yang dianggap jahat. Di luar mereka harus terlihat judes dan tegas, tetapi di dalamnya mereka mengorbankan sisi baik mereka dan memunculkan sisi jahat untuk mendidik orang-orang di sekitar agar menjadi lebih baik. Aku sungguh kagum dengan orang-orang seperti itu. Menurutku, jauh lebih susah berperan sebagai orang jahat, karena di dunia ini hampir semua orang ingin berperan menjadi malaikat bukan?

Pada dasarnya semua hal baik, hanya tergantung cara kita memandang, apapun pilihan yang kita pilih dan apapun peran kita, tetaplah bersyukur.


Bersyukur kusadari sebagai hal yang penting. Ketika bersyukur, tidak akan ada kesedihan, kekecewaan, kehilangan, karena masih banyak orang lain yang lebih sedih, lebih kecewa, dan lebih kehilangan.
Bersyukur membantu mengontrol diri dari keserakahan. Saat kita bersyukur, kita akan cukup dengan kekayaan, pekerjaan, dan fisik yang kita miliki, karena masih banyak orang lain yang susah hidupnya, menganggur, dan cacat.
Bersyukur setiap detik nafas kehidupan masih bisa dihirup, jantung masih berdetak, nadi masih berdenyut, panca indra masih bergerak, seluruh fungsi tubuh masih beraktivtas.
Bersyukur hingga saat ini masih beruntung dengan segala keadaan.
Bersyukur masih memiliki orang-orang yang disayangi di sekitar.


Melepas atau merelakan tidak kalah penting. Ibarat pasangan dari bersyukur menurutku. Di samping kita bersyukur, kita harus mampu melepas karena tidak ada yang kekal di dunia ini.
Melepas kekecewaan dan sakit hati.
Melepas kekayaan yang hilang.
Melepas orang-orang yang dikasihi yang telah meninggal.
Sungguh susah melepas karena pada dasarnya manusia memiliki sifat kemelekatan akan suatu objek. Dengan berlatih terus menerus, akan mampu melepas karena tak ada satupun yang abadi.


Ada satu ayat yang kuingat ketika aku terpuruk, yaitu:
"Mencari, maka Anda tidak akan menemukan."
"Berharap, maka Anda akan kecewa."
"Memiliki, maka Anda akan kehilangan."
"Sadari dan kembangkan agar batin seimbang."

Wednesday, September 14, 2011

2nd month in 21st

Maafkan keterlambatan diriku untuk bercerita padamu. Bulan ini jadwalku lumayan padat. Aku harus membereskan banyak kerjaan sebelum liburan lebaran. Setelah pekerjaan beres, aku harus berangkat ke Surabaya selama seminggu untuk masalah pekerjaan. Jujur, aku bersyukur dapat menginjakkan kaki ke kota itu setelah sekian lama, namun aku kurang menikmati karena harus megurus pekerjaan. Yah, liburan terasa tidak berlibur. Aku merasa berat melakukannya karena itu seharusnya tidak menjadi tanggung jawabku karena pekerjaan itu bukan bagianku. Orang-orang yang justru di bagian itu malah asik berlibur. Aku merasa ini tidak adil. Tapi bagaimanapun aku menjalaninya. Surabaya, kota yang sangat panas, kaya akan kuliner, dan tempat shopping yang cukup banyak. Aku pun tergoda menghedon di sana, Kepulanganku ditunda sehari dan sangat tidak beruntung pesawatku didelay. Malam pukul 10 aku baru tiba di Bandung. Sepulang dari Surabaya, aku harus membereskan laporan-laporan dan membereskan pekerjaan yang kutinggalkan di Bandung. Setelah itu aku kembali disibukkan dengan kegiatan kuliah. Aku mengambil skripsi dan seminar di semester ini dan sangat malas untuk memulainya. Mungkin aku memang tipe deadiners sejati. Bulan kedua ini merupakan bulan yang sibuk.

Thursday, August 18, 2011

1st month in 21st

Salam hangat kuhaturkan kepadamu, Sobat!

Bulan pertama di usiaku yang ke-20 sungguh sangat padat dan berwarna. Minggu pertama aku merayakannya dengan teman-teman di Sekolah Luar Biasa yang sudah kuceritakan di tulisan sebelumnya. Minggu-minggu selanjutnya aku disibukkan dengan persiapan menjelang pembukaan cafe. Kabar baiknya adalah proposal skripsi ku telah diterima dan aku akan memulai karyaku. Pekerjaanku berjalan dengan lancar dan menguras hampir seluruh energiku. Rasanya selama tiga bulan ini aku tidak merasakan liburan yang sesungguhnya. Bulan ii juga diriku menikmati setiap orang-orang yang berada di sampingku. Orang-orang yang tak kusangka akan menemani bulan istimewaku. Terima kasih kepada mereka semua, terlepas dari mereka yang meninggalkanku. Jika bisa menghentikan perjalanan bulan ini, aku sungguh ingin dan itu adalah hal yang tidak mungkin. Aku harus berjalan dan melangkah ke bulan berikutnya. Semoga di depan sana akan lebih banyak hal manis lagi yang menanti dan segala hal pahit mampu kuatasi dengan sebaik mungkin.

Friday, August 5, 2011

i am weird.

Sobat, ini bukan kali pertama aku merasakan diriku ini aneh. Aku pernah menceritakannya kepada mama bahkan sambil bercanda aku berpikir bahwa mungkin aku perlu berkonsultasi ke psikolog untuk mengecek apakah diriku termasuk anak autis. Aku jarang menyukai hal yang disukai orang lain. Entah mengapa, aku selalu berbeda pandangan dengan orang lain. Mungkin aku memiliki keanehan sendiri. 

Mereka memilih magang di Kantor Akuntan Publik yang bergengsi, diriku malah memilih magang di perusahaan kecil yang masih CV yang bahkan tidak mendapat gaji.

Mereka memilih bercerita ke teman-teman ceweknya ketika ada masalah, kamu tahu tempat kumenceritakan keluh kesah, hanya kepadamu.

Mereka memilih berteman dengan teman-teman yang asyik, diriku memilih berteman dengan orang-orang yang kesepian dan membutuhkanku, yang pada akhirnya ketika mereka bangkit aku akan ditinggalkan.

Mereka memilih baju-baju indah dan bermerk untuk dikenakan, aku memilih menabung untuk pergi berlibur.

Mereka memilih pergi berlibur ke tempat-tempat terkenal akan shopping dan kehidupan modernnya, diriku memilih berlibur ke tempat tenang atau terkenal dengan keindahan alam dan sejarahnya.

Mereka tidak perlu susah memikirkan berapa uang yang habis bulan ini, sementara aku harus mengatur pengeluaran untuk menabung.

Mereka tidak perlu takut kehidupan setelah kuliah nanti, sementara aku harus mulai memikirkan dari sekarang karena papa sudah mewanti-wanti.

Mereka mengejar IP dan nilai yang sesempurna mungkin dan menghalalkan segala cara, aku malah menuntut tinggi sebuah kejujuran.

Mereka memilih bergaul dengan yang sebaya karena lebih nyaman, aku memilih bergaul dengan yang jauh di atasku karena lebih nyaman.

Mereka memilih merayakan ulang tahun dengan pesta yang mewah, aku memilih berbagi kebahagiaanku bersama anak-anak di Sekolah Luar Biasa.

Mereka memilih memberi kejutan dengan mengerjai orang yang berulang tahun, aku lebih memilih hal unik yang mampu kupersembahkan.

Mereka merasa bahagia ketika yang berulang tahun basah-basahan dan muka penuh tepung, bagiku sebuah senyuman dan terima kasih dari dia telah berharga.

Mereka merasa tersanjung ketika diberi hadiah mewah, bagiku sebuah ucapan sudah lebih dari cukup.

Pandanganku selalu berbeda dari kebanyakan orang. Kepada siapapun yang membacanya, tidak perlu tersinggung kalau dirimu bukan bagian dari "mereka" yang kusebutkan di atas. Semuanya hanya berdasarkan pengamatan dan pengalaman sepihak, tidak ada maksud menyinggung siapapun. Aku hanya sekedar ingin berbagi dengan dirimu, Sobat. 

Terlepas dari segala keanehan yang ada pada diriku. Apakah aku tidak percaya diri? Iya, itu jawabannya. Meski berulang kali orang yang memahami diriku mengatakan bahwa seharusnya aku bangga dengan keunikan itu. Sungguh, diri ini bukan merasa unik melainkan aneh. Sebenarnya dua kata itu memiliki arti serupa hanya konotasi positif dan negatif yang membedakannya. Diriku juga begitu bagi sebagian orang yang menganggapnya positif akan memandang diriku unik, sementara yang lainnya akan berkata diri ini aneh. Aku tidak akan tersinggung. Ini karena aku sadar sepenuhnya diriku memang aneh. Pola pikir dan prinsip yang lain daripada sebagian besar membuat diri ini kadang merasa tidak nyaman. Tak jarang aku sedih akan hal itu. Namun untuk mengubah semua itu sungguh bukan hal yang mudah. Kalau kamu berpikir aku tidak mencoba mengubahnya, kamu salah besar Sobat. Banyak kebiasaanku yang tidak sama dengan lainnya dan sering kali aku mencoba belajar kebiasaan mereka. Tetap saja, diri ini merasa jauh lebih tidak nyaman. Banyak hal yang sangat sulit sekali diubah, dan ketika aku bertanya pada diriku "apakah salah". Aku tidak mampu menjawab dengan pasti sebuah jawaban "iya". Untuk itu, aku hanya menjalani proses ini dan berusaha menikmati serta mensyukuri semuanya.

Monday, August 1, 2011

Happiness and sadness is one packet

Hari ini permulaan sebuah minggu sekaligus bulan yang baru. Hari ini aku hampir menutupnya dengan sempurna jika hal itu yang tak sengaja kuketahui merusak semuanya. Yah, aku hanya manusia biasa yang memiliki hati yang rapuh. Hal itu berulang kali membuatku terpuruk. Aku ingin melupakannya sungguh. Aku ingin mengenyahkannya dari hidupku agar dia tidak lagi memporakporandakan hatiku. Aku benci hal itu berulang lagi terjadi. Tidak bosan-bosannya mengganggu ketenangan hidupku. Apakah hal itu? Hanya diriku yang tahu. Biarlah orang lain menebaknya, hanya diriku yang paling tahu. 

Aku benci dibohongi. Aku benci dengan hal yang disembunyikan dariku. Bagiku, itu jauh lebih sakit daripada sebuah keterusterangan. Tidakkah mereka tahu akan hal itu? Apakah begitu susah sebuah keterusterangan? Mungkin aku harus menebalkan perasaan agar tidak merasakan sakit. Aku menyesal tidak dapat menyelamatkan seluruhnya. Mungkin jodoh kami berakhir hingga di sini. Meski harapanku dulu jauh dari kenyataan ini, namun yang terjadi beginilah adanya. Aku lelah menyelamatkannya sementara di pihak lain tidak merespon. Sudahlah, ini semua lebih dari cukup menghancurkan diriku. Trauma? Mungkin saja, aku tak menemukan kata yang tepat untuk menggambarkannya. Yang pasti, aku tidak akan mempercayai siapapun hingga aku mempercayai dia dan dia. Berkali-kali, aku jatuh dan terbangun oleh orang yang menolongku. Orang yang kuinginkan terus di sampingku, ternyata hanyalah orang yang sementara datang untuk meninggalkanku pada akhirnya. 

Kebahagiaan dan kesedihan datang sepaket. Beginilah hidup, bukan? Ketika ada kebahagiaan datang, aku boleh berbahagia dan menikmatinya, tetapi di sisi lain aku harus bersiap menyambut kesedihan yang menyusul. Aku tahu benar bahagia atau sedih bergantung pada pikiran, yah kekuatan pikiran. Percayalah padaku, itu hal yang teramat susah dilaksanakan. Aku harus banyak berlatih agar ketika kesedihan itu bisa kutanggapi dengan hati lapang. Melepas, hal wajib yang harus dilakukan. Aku harus berkata pada diriku sendiri, aku bisa melepaskan dan aku harus melepaskan.

Melepas kejadian-kejadian manis yang pernah kami lalui...
Melepas kejadian-kejadian pedih yang pernah aku alami...
Melepas mereka yang pernah menjadi harapanku...
Melepas mereka yang tak lagi membutuhkanku...