Always be grateful

Always be grateful
Just enjoy the path...

Dear YOU

Hello pals!

You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life

Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.

So, enjoy the pieces of mine ^^

Wednesday, November 24, 2010

Think.. Think.. Think..


Kembali lagi dengan curahan hatiku sobat... Aku tahu kamu selalu menjadi pelampiasan di saat diriku sedang kesepian. Seperti sekarang ini, sepulang dari kampus, menikmati makan siang, kemudian berencana pergi untuk menjalankan aktivitas autisku, namun tiba-tiba hujan. Sekarang sedang hujan, dan aku duduk sendiri di kamar, menulis dan bercerita untukmu. Bukan karena tak ada hal yang bisa kulakukan, tugas untuk minggu depan telah menungguku menyapa namun aku benar-benar butuh bernafas setelah dua hari lalu kuliah padat dari pagi hingga sore dan tugas-tugas. Untuk itu, aku memilih menyapamu di sini, temanku yang paling setia...

Kemarin aku mendengar sebuah sharing dari salah satu dosenku. Usianya hanya terpaut beberapa tahun dariku, sehingga masih cukup muda. Dia bercerita mengenai orang-orang yang berani menentukan tujuan hidupnya sendiri. Orang-orang yang menjalani hidupnya dengan cara yang tak biasa. Menurutku, itulah orang-orang yang luar biasa, Keberanian, prinsip, dan idealisme mereka mendorong mereka untuk melakukan hal-hal luar biasa. Aku sependapat dengannya, mereka orang-orang yang benar-benar gila dan berani memutuskan jalan hidup mereka. Bagiku, itu benar-benar keren. 

Dari dulu aku memang tak begitu appreciate orang-orang yang masuk ke perusahaan besar karena IP yang memang sangat bagus, berprestasi, dan mendapatkan gaji yang nominalnya cukup besar kemudian mendapatkan kemewahan hidup. Bukan berarti itu semua tak penting, tapi entah mengapa aku merasa itu sesuatu yang biasa saja. Aku juga tak begitu suka dengan orang-orang yang pintar otaknya tapi tidak rendah hati, sungguh, bukan aku iri pada mereka. Aku hanya melihat mereka adalah orang-orang yang beruntung diberi kepintaran namun tak dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Aku lebih respect pada orang-orang yang tak begitu pintar namun mereka berusaha dan tetap rendah hati. Aku sering kali menyemangati teman-temanku yang penting bukanlah hasil tapi proses. Proses yang cepat untuk orang-orang pintar akan terasa diremehkan sementara proses yang kurang cepat untuk orang-orang yang kurang pintar akan dimanfaatkan sebaik mungkin. Ini juga bukan karena hasil tidak penting, tentu hasil adalah hal penting, karena jujur semua hal pasti dilihat dari hasil, namun makna sesungguhnya ada pada proses bukan pada hasil. Untuk apa mengejar nilai namun kamu melupakan hal-hal yang menjadi dasar kamu mendapatkan nilai itu. 

Aku memiliki seorang teman yang sangat mengejar nilai, tak heran IP nya sangat bagus bila dibandingkan dengan aku. Aku tak iri akan hal itu. Yang aku tak suka dia itu buta dalam mengejar IP. Memang IP itu penting dan dengan IP dia yang bagus, mungkin saja tak akan ada kesulitan bagi dia untuk melamar pekerjaan nantinya ataupun mengajukan beasiswa S2. Berbeda dengan IP ku yang hanya memenuhi standar saja, tak begitu menonjol, Namun orangnya begitu memperhitungkan dalam pengerjaan tugas dan suka iri pada orang yang nilainya lebih dari dia. Dia tidak puas jika ada yang nilainya lebih tinggi darinya. Setiap kali bekerja sama dengan dia di dalam satu kelompok seharusnya dia dengan IP sebagus itu mengerjakan bagian yang lebih banyak karena tentunya dia pasti lebih mengerti tapi kenyataan sebaliknya. Aku kembali berpikir untuk apa mengejar IP sampai sebegitunya. Memang itu hak tiap orang dan aku tak akan meneladani orang seperti dia. 

Setelah lulus nanti, jujur, aku masih belum memutuskan langkahku akan kemana, S2, atau menjalankan usaha, ataukah bekerja. Aku hanya ingin cepat-cepat menyelesaikan kuliahku ini. Hampir semua orang berkata masa kuliah adalah masa yang paling menyenangkan, sama halnya dulu orang mengatakan masa SMA adalah masa yang paling menyenangkan. Bagiku, semua masa dalam hidupku sama saja. Kehidupan SMA ku tak berwarna seperti lainnya, mungkin bagi yang lain malah datar, tidak ada gank, tidak pernah bolos, dan tidak berorganisasi, aku lebih fokus ke kegiatan organisasi di luar sekolah. Di masa kuliah ini, aku habiskan 2 tahun lebih untuk kehidupan organisasi dan sekarang aku mulai jenuh dan mempertanyakan apa benar yang kujalanni semua ini. Dosen-dosen mengatakan pentingnya mengasah softskill, dan dengan berbagai sertifikat yang kudapatkan dari berbagai acara yang kutangani, serta pengakuan kesuksesan dari orang-orang. Teman-teman memandangku sudah cukup berhasil baik dalam kuliah maupun organisasi. Mereka hanya melihat luarku saja. Film EAT PRAY LOVE yang membuatku berpikir seluruh pencapaianku selama ini akan berakhir di mana dan akan berguna untuk apa. Apa yang akan kulakukan seusai kuliah? Apa tujuan hidupku? Aku masih belum bisa menjawabnya. Di pertengahan semester 5 ini aku memutuskan untuk mundur dari semua kegiatan organisasiku, untuk organisasi yang masih kujabat, aku hanya mengurangi keaktifanku. Ini semua berawal dari suatu hari di saat aku melihat-lihat apresiasi dari kegiatanku yaitu berbagai macam sertifikat. Aku duduk termenung menatap berbagai penghargaan dari berbagai organisasi. Untuk apa ini semua? Apa benar-benar menambah value diriku? Apa yang kukejar dari ini semua? Apa aku bangga dengan ini semua? Dengan ini semua apa yang akan kulakukan? Aku hanya bisa diam membisu, tak mampu menjawab. Mungkin sudah saatnya aku benar-benar berhenti dan fokus pada kuliah untuk mengejar cepat lulus dan mulai sekarang memikirkan apa yang akan kulakukan seusai lulus nanti. Untuk benar-benar berhenti aku kadang ragu. Setiap saat kumemutuskan untuk berhenti selalu ada tawaran-tawaran menarik untuk ditangani lagi. Dan terlebih tawaran itu karena mereka mempertimbangkan kapasitas diriku dan mereka percaya padaku untuk melayani banyak orang, untuk memfasilitasi semua orang. Haruskah sisi egoisku muncul? Menolak semuanya dengan alasan sekarang ingin berfokus pada diri sendiri. Aku ingin menjawab, "Iyah ini saatnya, aku memikirkan diriku sendiri, apa yang kulakukan selanjutnya." Tapi di dalam sini kadang suka memberontak. "Kamu tidak boleh begitu, tidak boleh egois." Aku sulit sekali mengatakan "tidak" pada teman-teman yang membutuhkan bantuanku. Entah ini disebut kelemahan apa kekuatan.

Kadang aku suka bingung dengan diriku sendiri, perfeksionis juga bisa berarti positif dan negatif. Entah mengapa dalam diriku terdapat cukup banyak sifat-sifat yang bisa bermuka ganda sekaligus. Membuat diri ini sulit memutuskan batasnya. Pemikiran yang aneh juga sering muncul dan aku merasa aneh dengan diriku sendiri serta tidak percaya diri. Ketika semua orang mengatakan "A" aku malah mengatakan "B". Ketika semua orang menyukai "A" malah aku lebih memilih "B". Sering kali aku selalu bertolak belakang dengan kebanyakan orang dan pemikiran yang berbeda serta sudut pandang yang berbeda. Mungkinkah ada keanehan pada diriku? Jujur, aku tak tahu. Terkadang aku meragukan idealisme dan prinsipku, dan ingin mengikut arus meskipun kadang enggan. Entahlah aku sungguh bingung saat ini, menerima tawaran itu ataukah benar-benar berhenti dan mencari tahu apa sesungguhnya yang ingin kukejar. Mungkin sudah saatnya aku berhenti dan mulai mencati tahu apa tujuan hidupku.

Terima kasih sobat, aku bersyukur, aku memilikimu yang selalu setia setiap saat untuk menampung seluruh keluh kesahku, seluruh curahan hatiku dan tak pernah bosan mendengar celotehku. Aku tak akan merasa kesepian selama ada dirimu dan aku tak akan lama merasa tertekan karena adanya dirimu,

Thursday, November 18, 2010

Fourth Month in 20th

Mengawali bulan keempat ini dengan UTS yang berjalan selama 2 minggu. Semester 5 ini benar-benar sangat suram. Seakan-akan selama 2 bulan kurang tidak ada 1 mata kuliah yang berhasil saya kuasai benar-benar. Hasil UTS juga sudah pasrah. Biarlah begitu adanya. Setelah UTS, masuk minggu adem, belum ada tugas karena masih warming up setelah UTS. Minggu selanjutnya kegiatan saya diisi 2 event sekaligus. Menjadi staf acara di salah satu workshop sahamnya PIC dan peserta di Seminar Nasional, Mungkin kepanitiaan ini akan menjadi kiprah terakhir saya berorganisasi di dunia kampus. Mungkin, karena sejujurnya saya belum berani memastikannya. Lusanya, saya menjadi peserta, dalam waktu sesingkat itu saya berganti peran. Untuk pertama kalinya, saya merasakan bagaimana menjadi peserta. Mengeluarkan uang sendiri untuk mendaftar dan mengikuti seminar. Melihat kesibukan para panitia yang lalu lalang. Rasanya hati saya sangat plong saat itu, saya tak lagi sibuk, tak lagi sibuk melayani. Rasanya benar-benar tak ada beban, tak ada rasa nervous, tak ada tekanan, tak ada emosi. Semua halnya datar, stabil. Mungkin inikah yang saya cari setelah 4 semester sibuk mengurus ini dan itu, sudah tiba saatnya untuk diam menenangkan diri. Mencari tahu apa tujuanku ke depannya, mencari tahu apa saya sudah mendapatkan semuanya.

Saturday, November 13, 2010

DO I???

Do I really wanna quit from all the organization activities? Do I really can say "I'm off"? Do I really wanna try that something new? Do I really feel that feeling? Wanna share bout these two topics...

I'm tired... Tired being busy organize events.. Tired be active in organizations. Do i really reach the maximum tired point? I think the answer is maybe. I really wanna like some of my friends, the only thing they do is just studying. But, you know, even though i'm not joining in any organizations, i will not have that extra diligence to study every day. But I just wanna stop those kinds of activities and begin to think about my future. What is the point of my life? What is I really want in my life? What do I want to reach? After leaving campus, after i graduated, there is still nothing in my mind, no plan for my life after campus. Everything seems stuck. Now... in fifth semester my laziness increase, not really like my courses. Oh, what should i do now? The spirit begins to go away. 

Lots of my friends begin to being in a relationship. And me? Still the same. Still being single. Still choose being like this. My egoism is still high, all my time is just for me not for any of him. Sometime I feel that loneliness but try to ignore it. And now, can I survive? Is my egoism still that strong? I can't answer it. Be honest, I begin to open my heart, there is a feeling that I'll try being in a relationship, but the problem is who is that person i wanna be in that relationship? Still no answer. Has he disappeared? Or I should wait... Till when? Do i really can accept new one be a part of my life? No answer. Thanx to God, i don't choose him to become part of my life, but he has been succeed make me can't believe others.Thanx to God, i don't choose any of them because now they are happy with their choices. Hope someday I can believe someone be part of my life, sharing my time with him, and holding his hands to walk together...

Friday, November 5, 2010

Idealism vs Reality

Halo Sobat, diriku menyapamu kembali. Telah lama tak bersua.
Akhir-akhir ini aku lumayan sibuk dengan segala tugas dan ujian tengah semester. Hasilnya? Jangan tanya. Biarlah apa adanya. Sudah tidak peduli lagi bagaimana hasilnya. Yang penting sudah lewat, biarlah berlalu.

Kali ini aku akan mambahas mengenai topic idealism dengan kenyataan. Perbandingan pertama aku mengambil dari kisah nyataku sendiri. Delapan tahun yang lalu aku pernah mengami putusnya persahabatan dengan seorang cowok. Saat itu, idealisku goyah. Memang benar kata orang tak mungkin adanya persahabatan murni antara lawan jenis. Yah, putusnya persahabatan bisa dibilang karena masalah yang tak jelas dan dasarnya adalah rasa di luar persahabatan itu sendiri. Saat itu aku cukup terguncang, karena dia salah satu orang terpenting dalam hidupku, dia mengenal semua tentang diriku, dan kehilangan dia dalam keseharianku bukanlah sesuatu yang mudah. Setelah tiga tahun berlalu akhirnya luka itu telah tertutup. Datang lagi seorang yang ingin bersahabat. Awalnya aku sudah ingin menolaknya. Berdasarkan pengalaman silam yang amat menyakitkan rasanya memang terlalu idealis membangun persahabatan murni namun dia berhasil meyakinkanku hingga aku juga menerima kembali persahabatan itu dengan idealisku. Setelah berjalan hampir enam tahun, kini retak. Bukan alasan yang persis sama, dia tertarik dengan orang lain, dan seluruh perhatiannya “mungkin” tertuju pada orang itu, bahkan dia sangat tertutup soal cewek itu hingga aku tak mengetahuinya. Aku bahkan tak pernah melarangnya untuk menjalin hubungan dengan siapapun tapi sebagai sahabat bukankah wajar bercerita. Aku kadang juga sering bercerita mengenai cowok-cowok yang sedang mendekatiku. Sungguh, aku tak habis pikir. Kini dia meminta maaf dan menanyakan kesalahan dia apa. Dia bahkan tidak tahu masalahnya di mana, untuk itu aku juga malas membahasnya. Biarlah begini saja. Butuh waktu untuk menghancurkan persahabatan, butuh waktu juga untuk memulihkannya. Untuk saat ini, sangat sulit buatku untuk menerimanya lagi. Mungki untuk selanjutnya, aku takkan menerima cowok manapun sebagai sahabat lagi, cukup sebatas teman, tidak lebih. Biarlah idealisku hancur daripada hati ini yang sakit.

Topik selanjutnya beralih ke dunia kampus. Idealis sebagai seorang mahasiswa yang bagus dalam akademis dan organisasi. Memang nilai akademisku tak terlalu buruk juga tak terlalu baik. Hanya mencukupi standar yang dibutuhkan untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus. Meski kehidupan organisasi lumayan berwarna, tapi tetap tidak akan ada habisnya. Melewati hari-hari dengan organisasi cukup melelahkan, fokus terbagi ke sana. Menurutku tidak begitu mengganggu perhatian karena sejujurnya seluruh kegiatan organisasi vakum saat ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Satu acara demi satu acara aku lewati, satu semester demi semester dengan rentang nilai yang hampir berimbang. Yah, aku cukup sukses mempertahakan nilaiku selama aku aktif berorganisasi. Kesalahan utama nilaiku tidak melonjat tinggi karena kemalasan. Bisa dibilang nilaiku dicapai dengan keberuntungan. Harusnya aku mampu mencapai nilai yang jauh lebih tinggi seandainya aku lebih rajin, sering mengulang pelajaran dan menyicil menjelang ujian, bukan malah belajar pas hari H. Yah, jujur kehidupan organisasi itu lelah. Untuk menyeimbangkan antara kuliah dan organisasi tak mudah. Banyak teman yang memilih fokus pada kuliah dan tak mengikuti organisasi apapun dan nilai mereka sangat memuaskan. Itu pilihan setiap orang, pilihanku selama  5 semester ini masih menyeimbangkan keduanya dan mungkin di semester depan aku akan melepas dan fokus ke kuliah. Semoga aku bisa. Atau memang kehidupan lkampusku harus kombinasi keduanya? Who knows?

Dari awal aku masuk kuliah, aku selalu berkata pada diriku sendiri bahwa IP bukan segalanya. Idealisku berkata demikian, nilai bukan segalanya. Namun hingga kini, aku mulai goyah. Untuk mengajukan beasiswa S2 butuh IP yang sangat bagus yaitu top rank. Untuk mengikuti perlombaan-perlombaan bergengsi dan magang di perusahaan-perusahaan terkenal butuh IP yang sangat bagus. Aku menjadi ragu benarkan idealisku selama ini? Atau yang benar itu idealis teman-temanku yang mengejar IP tinggi dan nilai dengan cara apapun? Sungguh, hingga semester ini aku baru merasakan keraguan itu.

Karena kebosananku akan kuliah, aku ingin cepat lulus, itu berarti semester depan aku mengambil bidang kajian. Setelah menghitung poinku di seluruh bidang kajian, seperti biasa nilaiku rata-rata, standar, berimbang. Hanya kurang bagus di bidang kajian yang justru aku incar. Kembali ke topik IP sebelumnya. Apakah IP memang benar bukan segalanya untuk bersaing baik di kampus maupun di luar? Kajian yang mudah dan kajian yang sulit dengan kelululusan yang sama dan gelar yang sama, manakah yang akan dipilih?

Setelah lulus, aku belum memiliki tujuan yang jelas. Mungkin melanjutkan studi atau kerja. Tentunya aku menginginkan pekerjaan yang bagus dan mapan, namun di satu sisi idealis ini berkata untuk mendapatkan pekerjaan yang kusuka dan berkaitan dengan hobi travelling. Jika aku dihadapkan pada pilihan pekerjaan yang menawarkan gaji yang sangat tinggi dan bergengsi namun harus menetap dan membosankan dan pekerjaan yang selalu berpindah tempat dengan gaji yang secukupnya, jujur aku tidak tahu apa jawabannya.

Idealisme selalu bertolakbelakang dengan kenyataan yang ada. Mungkin memang selalu begitu hingga kadang membuatku ragu untuk melangkah. Semoga aku dapat memutuskan segalanya dengan benar, perlu berdoa untuk benar-benar tahu apa yang kuinginkan sebenarnya.

Friday, October 15, 2010

EAT PRAY LOVE


The stories is about.....

At 32 years old, Elizabeth Gilbert was educated and had a home, a husband, and a successful career as a writer. However, she was unhappy in her marriage and often spent the night crying on her bathroom floor. She has an affair, during which she separated from her husband and initiated a divorce, which he contested. The affair continued for some time but did not work out, leaving her devastated and alone. While writing an article on yoga vacations in Bali, she met a ninth-generation medicine man who told her she would come back and study with him. After finalizing her difficult divorce, she spent the next year traveling. She spent four months in Italy, eating and enjoying life (Eat). She spent four months in India, finding her sprituallity (Pray). She ended the year in  Bali, Indonesia looking for "balance" of the two and found love (Love) in the form of a dashing Brazilian factory owner. 

If you ask me, " How is EAT PRAY LOVE?" My answer is "EAT PRAY LOVE is GREAT. It's totally AWESOME..." Maybe others will have different opinion.. but for me it's one of movies that's meaningful and I got something watching this movie. it's not just for fun but I can learn something especially bout life. There are lots things I can't share with you... You must watch it yourself then get something or not. You know, sometimes there are things can't be spoken, can't be written by words. 

Here are my favorite quotes from this movie...

"This is a good sign, having a broken heart. It means we have tried for something. "

"Happiness is the consequence of personal effort. You fight for it, strive for it, insist upon it, and sometimes even travel around the world looking for it. You have to participate relentlessly in the manifestations of your own blessings. And once you have achieved a state of happiness, you must never become lax about maintaining it. You must make a mighty effort to keep swimming upward into that happiness forever, to stay afloat on top of it."


"Tis' better to live your own life imperfectly than to imitate someone else's perfectly."


"To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life."


"Your emotions are the slaves to your thoughts, and you are the slave to your emotions."


"Never forget that once upon a time, in an unguarded moment, you recognized yourself as a friend."


"Having a baby is like getting a tattoo on your face. You really need to be certain it's what you want before you commit."


"The only thing more unthinkable than leaving was staying; the only thing more impossible than staying was leaving."


"You need to learn how to select your thoughts just the same way you select your clothes every day. This is a power you can cultivate. If you want to control things in your life so bad, work on the mind. That's the only thing you should be trying to control."


“That’s the thing about a human life-there’s no control group, no way to ever know how any of us would have turned out if any variables had been changed."


"The more exquisitely and delightfully you can do nothing, the higher your life's achievement."


"Someday you're gonna look back on this moment of your life as such a sweet time of grieving. You'll see that you were in mourning and your heart was broken, but your life was changing..."


"God dwells within you, as you."


"The resting place of the mind is the heart. The only thing the mind hears all day is clanging bells and noise and argument, and all it wants is quietude. The only place the mind will ever find peace is inside the silence of the heart. That's where you need to go."


"Devotion is diligence without assurance"


"You must find another reason to work, other than the desire for success or recognition. It must come from another place."


“The only way I can recover, be touch with someone else.”


“Devotion is love.”


“Smile with face, smile with mind, and smile with heart.”



“Love is scary, dangerous.”


“Ruin is a gift. Ruin is the road to transformation.”

Liz Gilbert, i admire her. She is a brave woman, dare to speak up and even divorce because of unhappiness. She dare traveling to search what she want in her life, search for something she hasn't found yet. She teach her friend in Italy how to enjoy this life, eat what you want and enjoy the delicous food, no need to have a diet, if you become more fat, just buy a new bigger jeans. Simple like that. 

Most people like Bali's part, because she is falling in love there in a lovely place, beautiful scenery. For me, because i'm different and i often like something different from others. I like India part most. Why? It's the hardest part of her. She is finding the meaning of God and having a recovery there, learn to let go everything and everyone that makes suffer in her life. Trying to let go and begin a new life, a life that more meaningful and more shining. She find her life more balance.

Bali, is a romantic island and it's really contribute to anything about love. Falling in love in Bali, it's not weird thing. So does Liz Gilbert. She find a man from Brazil there. Of course, she is worry, unsure or maybe such a kind of trauma. She is afraid that love will make her life unbalance again. But one sentence make her realize, "To lose balance sometimes for love is part of living a balanced life."

It's a happy ending.. That's all moviegoers want right? Finally Liz Gilbert find her life's meaning, her spiritual life, and her love. It's not the end i think, it's a beginning. "Attraversiamo!" which means "Let's cross!"


Thursday, October 14, 2010

Mindfulness Day 10 Okt 2010

Hari ini merupakan hari dengan tanggal yang bagus bukan? 10.10.10. Banyak orang yang telah merencanakan banyak kegiatan dalam hari ini, pernikahan, pernyataan cinta, pergi bersama orang yang disayangi, dan sebagainya. Aku? Ingin melewati hari ini dengan kegiatan yang takkan kulupakan. Mindfulness Day! Hari penuh kesadaran yang akan dibawakan oleh 4 murid Master Thich Nhat Hanh. Acara ini diadakan di sebuah Villa Pinus Lembang. Tempat ini sangat mendukung, penuh kedamaian. Pemandangannya luar biasa menenangkan dan bagus sekali serta memiliki lapangan rumput yang lumayan luas dan bangunan yang dirancang unik. Acaranya dimulai pukul 9 pagi diawali dengan "walking meditation". Tahukah kamu perasaan saat kamu berjalan dalam kediaman dan menikmati tubuhmu merasakan angin sepoi-sepoi, merasakan matamu melihat sekeliling, alam yang begitu indah, merasakan kakimu menginjak rumput, batuan, dan jalan? Perasaan itu sungguh luar biasa, kamu benar-benar menikmati saat-saatmu sendiri, perhatian benar-benar fokus pada dirimu sendiri, bukan orang lain, bukan candaan orang lain, bukan curhatan orang lain. That time is yours! Selangkah demi selangkah akan kamu jalani dengan perasaan bahagia, bahkan aku berharap aku bisa terbang bersama dengan angin dan membawaku ke awan agar aku lebih bisa menikmati betapa indahnya alam ini dan betapa diriku tidak memperhatikannya.


Kemudian acara dilanjutkan dengan sesi sharing dari 4 murid Master TNH. Tak semuanya aku catat, hanya ada beberapa yang benar-benar menyentuh hatiku dan menurutku penting buat perubahan dalam diriku menjadi lebih baik. Setelah sesi sharing, kita melatih meditasi makan. Duduk makan di rumput ditemani dengan angin yang sepoi-sepoi dan mengunyah lama makanan yang masuk ke dalam mulutku. Sepertinya ini kali ini waktu makanku lebih dari 15 menit. Biasanya aku selalu cepat jalan, cepat makan, dan cepat segala hal. Hari ini at least saat ini aku lebih menikmati diriku sendiri. Setelah itu ada relaksasi berbaring di rumput. That's really wonderful!!! Seandainya aku bisa merasakan perasaan seperti ini setiap hari tak hanya hari ini. I will, one day. Need more practise..

Steps to Take Care of Anger:
1. Acknowledge and accept the seeds of anger
2. Let others know your anger ---> communication open
3. Ask others for help ---> menyentuh benih welas asih orang lain

Ketika kita memberitahu orang lain, bukankah itu menambah karma buruk kita? 
Ketika kita memberitahu dia bahwa dia telah menyentuh benih kemarahan kita, ini dimaksudkan agar tidak terulang lagi, orang lain lebih sensitif dan perhatian untuk tidak menyentuh benih kemarahan. Akan sangat baik untuk mengetahui kondisi apa saja yang menyebabkan kemarahan muncul. Ini adalah bentuk kerjasama yang baik, komunikasi lebih terbuka, dan tercipta keharmonisan.

True care and love to keep a relationship ---> keep your heart open

Eating practise :
1. Chew 30 times in mouth
2. See and stare the food before you eat it ---> thinking about the process of the food till it's in front of me
3. Eat in silence (inside&outside) 

Eating is the only one thing but impact part of daily life.

Relaksasi dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Hanya berfokus pada nafas masuk dan nafas keluar. Kadang, kita terlalu cepat dalam menjalani hidup kita sehari-hari. Makan dengan cepat, berjalan dengan cepat, bekerja dengan cepat. Itu bagus, tapi alangkah lebih baik jika diperlambat. Dengan begitu tubuhmu akan lebih tidak mudah lelah. Kecepatan yang terlalu membuat tubuhmu lelah dan kamu tidak bisa menikmati hari-harimu. 

Being slow help us to know about our body.
But we practise skilfully in our environment.

Laziness is very wonderful thing in our life.
1. Physical ---> take care about ourselves
2. Mental ---> day dream, our mind not clear, pikiran ke mana-kemana.

In order to clarify our mind, we need to exercise our body, it will help a better mind.
Look back into your daily life, reorganize! Practise mindfulness, the seeds of wisdom be cultivated and grow... 

Mindfulness seed is aware about what is happening.
The more practise, the more we have mindfulness seeds.
Meditation is easy as long as we know what we are doing.
The more we practise, the more mindfulness grows, concentration about thing sin daily lifes grows. 

Present moment is a foundation of future moment, building future, a foundation for everything.
Embrace the practise and bring it home. Ourselves is land to practise.

PS from brother and sister :
Each step in mindfulness for brother and sister. Keep awareness alive and we are in touch through practise in present moment.   


 
 


Peace Is Every Step 09 Okt 2010

Hari ini sudah kutunggu-tunggu dari sebulan yang lalu, bahkan menjelang hari H aku merasakan nervous... Bahkan aku bolos 1 mata kuliah. Padahal jatah bolosku juga harus disisakan buat Workshop 2 minggu yang lalu. And, this time, I feel back.. where there's Buddha Dharma, there's a way...Bertepatan hari Workshop kuliah ditiadakan dan bertepatan dengan hari ini, dosennya berhalangan hadir sehingga digantikan dengan dosen lain yang mengajar dengan sangat tidak jelas, sehingga tidak akan pengaruh besar jika aku tidak mengikutinya. Perjalanan ke Jakarta membutuhkan waktu yang lumayan panjang. Dari Bandung, aku berangkat bersama beberapa teman vihara dan sudah mengalami kemacetan yang lumayan, tiba di Jakarta, bukan Jakarta namanya kalau tidak macet, dan tidak lupa adanya acara tersasar terlebih dahulu sebelum kami tiba di Gedung Kemayoran. Kami terlambat dan di sana telah duduk ribuan orang. Alhasil, kami duduk di baris terakhir. Setelah acara pembukaan dengan meditasi duduk dilanjutkan dengan persembahan lagu Avalokitesvara oleh para murid Master Thich Nhat Hanh, inilah sesi yang paling kutunggu-tunggu. Melihat beliau dari jauh dan mendengar suara beliau dari microphone saja aku telah merasakan kedamaian itu, dan itu sudah cukup bagiku. Kuakui susah sekali untuk berkonsentrasi mengenai apa yang disampaikan beliau di tengah suara peserta yang hadir di sana, suara orang yang terlambat, suara orang yang membuka plastik berisi roti dan dengan keadaan loudspeaker yang suara kecil dan tidak jernih. Butuh perhatian jauh lebih besar untuk tetap fokus terhadap beliau. Namun, aku tidak akan menyesal mengingat lusa aku akan menghadapi 2 uts dan telah bolos 1 mata kuliah. Ini kesempatan berharga bertemu beliau. Salah seorang temanku tidak berkesempatan bertemu dengan beliau. Dia mengatakan mungkin saja suatu hari nanti dia yang akan berkunjung ke Prancis. Jika aku di posisi dia, aku benar-benar menyangsikan akan hal itu. Ketika aku telah berkesempatan terbang begitu jauh, ke Eropa benua impianku dari dulu, terlalu banyak tempat untuk dikunjungi dan ketika aku mengikuti paket tour, Plum Village tidak terdapat dalam daftar perjalanan. Aku belum cukup kekuatan untuk benar-benar menenggelamkan diriku dalam mempelajar Dharma, butuh waktu yang tidak singkat. Berikut ini intisari yang kudapatkan dalam talkshow "Peace Is Every Step":
Cinta : Maitri, Karuna, Upeksha, dan Mudita.

When you love someone, you are there with her/him. How can you love if you are not there?

Langkah pertama mencintai seseorang yaitu hadir (memiliki waktu) untuk seseorang. Jika kita terlalu sibuk, bagaimana kita memiiki waktu untuk bersamanya. Melatih kesadaran itu berarti full presence. 

The most precious thing you can offer to your beloved one is presence.

Kemudian, mendengarkan penderitaannya dan memahami penderitannya, kemudian mengubahnya. Inilah yang disebut karuna.

If you can't understand, you can't love.
If you can't understand his/her suffering, you can't love and make him/her happy. 

Ucapan yang penuh cinta kasih dan mendengar dengan penuh kesadaran akan memulihkan komunikasi.

To understand others' sufferings, you have to understand your own suffering before.

Understanding have karma to transform healing. 

If others make us suffer, because they don't know how to handle their suffer.
He is living in his own suffering and you are affected to his suffering.
He needs help, not punishment.
He is the one who need help and I'll help him.
I'll go to him and in front of him listen to his suffering with heart.
If you have compassion, you'll not feel suffering.
He has the same suffering that we have.

When you love someone, his suffering become your own suffering.
When you love someone, his happiness become your own happiness.

Buddhism is a flower. The elements are non Buddhism and non discrimination.