Sudah berhari-hari aku menjadi pelanggan tetap café ini. Alasan sebenarnya aku di sini bukan untuk makan dan minum karena itu bisa aku dapatkan di tempat lain. Aku menghabiskan waktuku di sini untuk sesuatu yang tak jelas. Hanya duduk termenung ditemani segelas cappuncino kadang sebuah buku. Namun entah mengapa aku sangat betah berada di sini. Di sini aku bisa menemukan ketenangan dari hiruk pikuk kehidupanku, tak ada yang menggangguku, tak ada yang menghiraukanku, hanya kusendiri di sini.
Tak terhitung berapa hari lamanya, mungkin sekitar seminggu aku sering berkunjung ke café ini. Sebenarnya café ini hampir sama konsepnya dengan café pada umumnya. Tempat orang makan dan minum atau nongkrong dan gosip, tapi sayangnya bukan itu yang kucari di sini. Di sini aku mendapat sebuah tempat untuk kuberdiam dan hanyut dalam kegiatanku sendiri. Menulis, itulah pelampiasanku yang terutama. Aku sangat senang melakukannya karena terus terang aku bukan orang yang mudah mempercayai orang lain jadi tulisanlah tempat kumencurahkan isi hatiku. Aku selalu membawa laptop kesayanganku dan duduk manis di sini ditemani segelas cade latte.
Selama dua tiga hari ini aku selalu melihat gadis itu di sini. Dia selalu datang dengan laptopnya dan duduk di pojok café. Mungkin dia butuh konsentrasi untuk memindahkan apa yang ada dalam pikirannya. Aku duduk di pojok yang satunya lagi dapat melihat dengan jelas gadis iu. Wajahnya cukup manis, putih dan lembut. Rambutnya sebahu dan tubuhnya dapat dikategorikan proporsional. Secara keseluruhan dia termasuk kategori cewek yang diidamkan para cowok. Dia selalu datang dan pergi sendirian. Gayanya sangat santai tapi aku merasakan bahwa dia amat rapuh.
Entah ingatan aku yang sedang buruk atau aku yang terlalu peka, mengapa aku merasa melihat pria yang sama di pojokan sebelah sana akhir-akhir ini. Terus terang dia salah satu dari sekian orang yang menarik perhatianku. Dia selalu ada sebelum aku datang dan hingga aku beranjak dia tetap duduk di sana dalam keheningan. Dia cowok yang lumayan menjadi idaman para cewek dengan tinggi tubuhnya yang menjulang dan proporsional, garis wajahnya tegas, hidung mancung, alis matanya yang tebal, dan lesung pipi menghiasi wajahnya dengan cukup sempurna. Dia seperti larut dalam dunianya sendiri dan aku merasa bahwa dia sedang merasa bimbang, tak tahu arah dan merasakan kekosongan dalam hatinya.
Hari ini aku memutuskan untuk mengikuti gadis itu. Seperti biasanya aku memesan segelas cappucino dan kebetulan aku membawa sebuah buku untuk menemaniku hari ini. Sekitar setengah jam kemudian gadis itu terlihat di pintu masuk menyapa ramah pelayan dengan senyum manisnya dan berjalan ke pojokan seakan itu memang khusus disediakan untuknya. Dia memesan segelas café latte dan memulai kegiatannya mengetik dengan wajah yang membuat hatiku hanyut. Tak berapa lama aku mengamatinya, setetes, dua tetes, dan tetes-tetes air mata berikutnya membasahi pipinya. Ingin sekali aku menghampirinya dan merangkulnya serta menghapus air matanya.
Saat kumemasuki café aku kembali melihat pria itu duduk di pojokan yang biasa dengan segelas cappucino tetapi hari ini dia tidak duduk termenung tetapi sedang membaca sebuah buku yang aku tak bisa menangkap dengan jelas tentang apa. Aku pun memulai kegiatan menulisku dan semakin menyatu di dalamnya hingga tak terasa air mata ini ikut keluar dari persembunyiaannya. Aku melirik pria itu, dia sedang tenggelam dalam bacaannya dengan wajah serius dan tetap aku merasakan dalam dirinya itu ada kekosongan. Hari sudah mulai gelap dan aku memutuskan untuk pulang.
Aku tak berhasil mengikutinya karena begitu dia meninggalkan café, dia menaiki angkutan umum dan aku tak mungkin menaiki angkutan umum yang sama. Aku tak ingin dia mencurigai aku mengikutinya. Aku hanya diam terpaku melihat angkutan umum itu membawanya semakin jauh.
Sudah dua minggu aku melihat pria yang sama di pojokan itu sepertinya dia juga penggemar café ini sama seperti aku. Saat kulangkahkan kakiku memasuki café aku tertegun sejenak, dia tidak ada di sana. Biasanya dia selalu duduk diam di sana. Sebersik rasa rindu akan kehadirannya tiba-tiba muncul. Aku segera mengenyahkan perasaan itum aku bahkan belum mengenal dirinya sama sekali.
Akhir-akhir ini aku datang agak sore ke café karena ada kuliah tambahan. Seharusnya gadis itu masih ada di café namun sudah beberapa hari ini dia tidak berada di sana, muncul semacam rasa kehilangan akan dirinya. Aku merasa diriku sangat aneh, aku bahkan belum mengenalnya.
Seminggu berlalu tanpa kehadirannya, hari ini aku agak terlambat ke café dari seharusnya karena aku harus mengerjakan beberapa tugas kelompok di kos temanku. Untunglah café ini letaknya lumayan dekat kampus dan tempat favoritku di pojokan seakan terisolasi dari sisi lain café itu sehingga aku tidak merasa terganggu. Aku agak lelah hari ini. Aku tidak memulai kegiatan menulis hanya duduk tenang dengan segelas café latte.
Saat kumemasuki café aku melihat pesanan gadis itu , café latte, karena biasanya dia memesan itu, baru diantarkan pelayan. Itu berarti dia baru saja tiba di café, tak seperti biasanya dia datang agak sore seperti ini. Aku memutuskan untuk menghampirinya. Tak tahu muncul keberanian dari mana. Aku ingin sekali berbicara dengannya dan mengenalnya lebih dalam.
“Hai, boleh aku duduk di meja ini?”
Aku tertegun sejenak. Pria itu menghampiriku dan ingin duduk semeja denganku. Aku melirik pojokan tempat biasa dia duduk. Meja itu masih kosong.
“Sepertinya mejamu masih kosong.”
Jawabannya membuatku terkejut. Dia tahu selama ini aku duduk di pojokan itu. Dia memperhatikanku.
“Oh… bukankah kalau ada teman bicara itu akan lebih baik,” kataku melemparkan senyuman tulus.
“Maaf. Tapi aku sedang ingin sendiri,” ucapan itu keluar dari mulutku tanpa kubisa mengontrolnya.
“Baiklah kalau begitu.”
Beberapa hari selanjutnya suasana aku dan gadis itu diselimuti awan dingin. Setiap kali aku menatapnya, dia memalingkan wajahnya dan kembali mengetik. Dia menghindari kontak mata denganku. Dia seakan menutup dirinya untukku. Aku dapat merasakan di balik kekerasan itu terdapat kerapuhan. Aku ingin sekali menghampirinya dan merengkuhnya, membenamkan wajahnya di dadaku dan mengatakan padanya bahwa aku selalu berada di sini bersamanya. Aku ingin sekali mengusap rambutnya, membelai lembut pipinya dan mengatakan padanya bahwa jangan menodai pipi mulus itu dengan air mata karena aku akan memberikannya kebahagiaan.
Aku tak mengerti dengan diriku sendiri. Sejak kalimat penolakan kulontarkan, kami seakan terpisah jarak meski tak saling mengenal. Aku selalu mengalihkan pandanganku jika tak sengaja bertatapan dengannya. Di sisi terdalam hatiku, aku ingin sekali dia datang menghampiriku dan duduk bersamaku. Aku ingin sekali mengisi kekosongan yang meliputi hatinya. Aku ingin memeluknya dan memberi sinar keceriaan kepadanya. Aku ingin berlindung di dalamnya.
Akhirnya aku tak kuasa menahan gejolak dalam diriku. Aku memutuskan untuk mencobanya lagi karena aku merasakan dia sebenarnya merasakan hal yang sama denganku.
“Sore Mas, Mbak nya sudah ada di dalam,” sapa pelayan café itu dengan senyuman seakan dia mampu menebak pikiranku.
“Bolehkah aku duduk di sini?” tanyaku ramah kepada gadis itu.
Sore ini dia tampak manis sekali. Dia berhenti mengetik dan memandangiku.
Suaranya menghentikan kegiatan menulisku. Aku terpaku memandanginya. Dia sangat tampan sekali. Aku merindukannya, aku mengakuinya. Aku merindukan sosok sepertinya untuk menemani aku. Meski aku tak mengenal dia namun hati ini merasa nyaman bisa melihatnya tersenyum seperti itu.
“Maaf, bolehkah?” kubertanya sekali lagi karena tak ada jawaban dari mulut gadis itu.
“Sss… Silakan.”
“Terima kasih. Kenalkan nama saya Lexiano. Biasanya dipanggil Leno.”
Akhirnya setelah sekian lama menunggu, aku berhasil berkenalan dengannya. Namanya Sangueennia. Teman-temannya memanggilnya Nia. Aku lebih suka memanggilnya San-San. Kami bercerita banyak mengenai dunia kampus hingga dunia pertemanannya dia. Ternyata San-San tidak sependiam itu dan benar dia serapuh itu. Keras di luar, rapuh di dalam. Aku akan menguatkannya jika dia mengijinkanku suatu hari nanti.
Namanya Lexiano biasanya dipanggil Leno, aku lebih suka memanggilnya Lexi. Ternyata aku cepat sekali akrab dengan dia. Kami bercerita banyak tentang perkuliahan hingga pertemanan. Tebakanku benar bahwa dia merasa kosong dan kesepian dan aku akan mengisinya jika dia mengijinkannya suatu hari nanti.
Aku kembali ke café ini dengan kegiatan menulisku. Ada seseorang menarik kursi di hadapanku dan duduk. Itu Lexi. Sejak perkenalan itu kami duduk bersama jika kebetulan berada di café dan tentunya kembali ke kegiatan masing-masing. Dia dengan segelas cappucino dan duduk manis memandangiku bukan lagi tatapan kosong.
Kulihat dia sedang mengetik seperti biasanya, aku segera menghampirinya dan duduk di depannya. Tak ada yang berubah. Dia tetap dengan laptop dan segelas café latte hanya kerapuhan dalam dirinya aku merasa berkurang sedikit entah itu karena aku ataukah sesuatu hal lain.
“Lho, ga duduk pisah lagi ya Mas ma Mbak. Begini lebih bagus jadi ga sendiri-sendiri. Ada teman kan lebih asik,” kata pelayan itu sambil meletakkan café latte dan cappucino di meja kami.
Bandung, 31 July 2009
Always be grateful
Just enjoy the path...
Dear YOU
Hello pals!
You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life
Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.
So, enjoy the pieces of mine ^^
Saturday, October 17, 2009
sebuah arti
batang pohon sekokoh apapun suatu saat akan ada yang mengalahkannya.
arus laut sederas apapun suatu saat akan tiba saatnya dia reda.
hati seseorang sekuat apapun suatu saat akan sampai waktunya dia tergoyahkan.
mental seseorang sekuat apapun suatu saat akan tiba waktunya dia tergoyahkan.
sepertinya aku sedang merasakan fase seperti ini. saat-saat yang diam, tak berdaya, pikiran dan hati kosong, meski tak terpuruk tetap saja tak ada makna. sesaat ku menginjakkan kaikiku di kota pilihanku ini aku disibukkan oleh kegiatan kampus. namun beberapa hari kemudian di saat kegiatanku hanya beberapa dan tak begitu padat, di saat aku memiliki banyak waktu untuk dinikmati, malah muncul sebuah pikiran bahwa kesibukan lebih baik dari keadaan itu. meski aku telah mengisi waktu kosongku dengan berjalan-jalan dan bersenang-senang bersama teman-temanku tetap saja hatiku terasa mati, tak ada tanda kehidupan sama sekali. ada apa dengan aku ini? aku tak pernah seperti ini sebelumnya. setahun yang lalu aku sangat menikmati suasana di kota ini dengan berbagai hal baru yang menantang. kini terasa hitam putih tak berwarna. adakah dalam diriku yang salah? kuakui segala sesuatunya berubah lumayan pesat. kehidupan kampusku dimana aku mengenal lebih banyak teman, dosen, dan hal yang berkaitan dengan tempat kumenimba ilmu itu. kehidupan rumahku yang kini berubah menjadi kos. aku tak lagi memakai kata "rumah" karena sesungguhnya aku tak menemukan makna rumah apapun di sana. bahkan kadang aku merasa seperti suatu tempat yang membuatku bagaikan ikan yang harus bernapas dengan labirin di lumpur atau seekor burung di sebuah kebun binatang yang hanya bisa menunjukkan keindahannya pada pengunjung yang datang. aku ingin seperti ikan di laut yang bisa bernapas sewajarnya dan mengitari samudera yang luas dan aku juga ingin menjadi burung yang terbang bebas di angkasa membuat terpukau semua orang. kadang aku merasa aku mengalah di sisi lain mereka merasa aku egois. kadang aku merasa mereka egpis di sisi lain mungkin mereka merasa telah mengalah. apapun itu tidaklah penting, yang terpenting mereka tak merasakan tersiksa dan sakit itu sedang aku merasakannya. pertahananku pernah roboh dan aku menatanya kembali. kali ini aku merasakannya roboh lagi. mungkin karena inilah apapun yang kunikamati di luar sana setelah kembali tetap aja hatiku kosong. aku rindu rumahku sendiri meski aku ditegur bahkan dimarahi sekalipun tak pernah ada dendam. dulunya besar harapanku aku akan menemukannya namun jangankan menemukannya bahkan hak untukku bernafas tak sepenuhnya kumiliki. kesalahan mungkin ada padaku tapi bahkan aku sendiri tak mengerti di mana letak kesalahanku itu. selama aku mash bisa bertahan aku berjanji pada diriku dan keluargaku pasti aku bertahan. namun jika pertahananku tak lagi bisa kubangun aku juga tak berdaya lagi. itulah saatnya aku pergi, mungkin di luar sana aku akan bernafas lebih lega dan tak sesakit ini.
arus laut sederas apapun suatu saat akan tiba saatnya dia reda.
hati seseorang sekuat apapun suatu saat akan sampai waktunya dia tergoyahkan.
mental seseorang sekuat apapun suatu saat akan tiba waktunya dia tergoyahkan.
sepertinya aku sedang merasakan fase seperti ini. saat-saat yang diam, tak berdaya, pikiran dan hati kosong, meski tak terpuruk tetap saja tak ada makna. sesaat ku menginjakkan kaikiku di kota pilihanku ini aku disibukkan oleh kegiatan kampus. namun beberapa hari kemudian di saat kegiatanku hanya beberapa dan tak begitu padat, di saat aku memiliki banyak waktu untuk dinikmati, malah muncul sebuah pikiran bahwa kesibukan lebih baik dari keadaan itu. meski aku telah mengisi waktu kosongku dengan berjalan-jalan dan bersenang-senang bersama teman-temanku tetap saja hatiku terasa mati, tak ada tanda kehidupan sama sekali. ada apa dengan aku ini? aku tak pernah seperti ini sebelumnya. setahun yang lalu aku sangat menikmati suasana di kota ini dengan berbagai hal baru yang menantang. kini terasa hitam putih tak berwarna. adakah dalam diriku yang salah? kuakui segala sesuatunya berubah lumayan pesat. kehidupan kampusku dimana aku mengenal lebih banyak teman, dosen, dan hal yang berkaitan dengan tempat kumenimba ilmu itu. kehidupan rumahku yang kini berubah menjadi kos. aku tak lagi memakai kata "rumah" karena sesungguhnya aku tak menemukan makna rumah apapun di sana. bahkan kadang aku merasa seperti suatu tempat yang membuatku bagaikan ikan yang harus bernapas dengan labirin di lumpur atau seekor burung di sebuah kebun binatang yang hanya bisa menunjukkan keindahannya pada pengunjung yang datang. aku ingin seperti ikan di laut yang bisa bernapas sewajarnya dan mengitari samudera yang luas dan aku juga ingin menjadi burung yang terbang bebas di angkasa membuat terpukau semua orang. kadang aku merasa aku mengalah di sisi lain mereka merasa aku egois. kadang aku merasa mereka egpis di sisi lain mungkin mereka merasa telah mengalah. apapun itu tidaklah penting, yang terpenting mereka tak merasakan tersiksa dan sakit itu sedang aku merasakannya. pertahananku pernah roboh dan aku menatanya kembali. kali ini aku merasakannya roboh lagi. mungkin karena inilah apapun yang kunikamati di luar sana setelah kembali tetap aja hatiku kosong. aku rindu rumahku sendiri meski aku ditegur bahkan dimarahi sekalipun tak pernah ada dendam. dulunya besar harapanku aku akan menemukannya namun jangankan menemukannya bahkan hak untukku bernafas tak sepenuhnya kumiliki. kesalahan mungkin ada padaku tapi bahkan aku sendiri tak mengerti di mana letak kesalahanku itu. selama aku mash bisa bertahan aku berjanji pada diriku dan keluargaku pasti aku bertahan. namun jika pertahananku tak lagi bisa kubangun aku juga tak berdaya lagi. itulah saatnya aku pergi, mungkin di luar sana aku akan bernafas lebih lega dan tak sesakit ini.
Sepenggal pembelajaran sehari semalam
Sabtu siang tepatnya tanggal 18 Jili 2009 aku berkumpul di himpunan bersama dengan teman-teman himpunan lainnya untuk mengiikuti diklat yang akan berlangsung hingga besok siang. Perasaanku saat itu sulit ditebak seperti apa. Aku tidak begitu gugup, tidak begitu tenang. Setibanya di sebuah vila di Istana Bunga dengan no. F-11 kami mulai melihat kamar yang akan ditempati selama semalam. Acara dimulai dengan ice-breaking yaitu games. ada yang namanya Zip Zap Flip Flop dan aku termasuk salah satu yang kalah. Kemudian dilanjutkan ke permaiinan yang kedua. Dari masing-masing permainan dicari lima orang yang kalah untuk menjalani hukuman meniiup balon hingga pecah. Balonku tidak berhasil pecah dan dipecahkan. Sebenarnya sebelum aku sudah pernah melakukan ini bukan untuk hukuman melainkan salah satu rangkaian acara dari seorang motivator. Selanjutnya ada istirahat dimana perut-perut mulai keroncongan sehingga ada sebagian yang jajan cuanki. Kami berkumpul kembali untuk makan malam dan selanjutnya dilanjutkan dengan presentasi dari tiap program. Hingga pertengahan kami kedarangan tamu yaiitu anggota -anggota himpunan periode sebelumnya. Mereka berbagi pengalaman dan menceritakan sedikit kisah yang mereka ukir di himpunan. Setelah sesi sharing tersebut, kami dbagi empat kelompok dengan warna masing-masing dan diturunkan di tengah jlalan untuk mencari potongan warna tersebut dan mengkuti petunjuk selanjutnya. Aku berada di kelompok ungu dan tiba kembali di vila paling cepat. Ternyata ada petunjuk-petunjuk kelompok lain yang kurang jelas sehingga ada diantara mereka yang tersasar. Akibatnya, mereka merasa kesal akan hal itu. Kemudian acara hari ini diakhiri dengan makna dari permainan terakhir.
Pagi yang sejuk membuat aku bersemangat. Acara dibuka dengan senam pagi bersama. Kemudian sarapan dan mandi, dilanjutkan presentasi yang kemarin sempat terhenti. Keseluruhan acara diklat ditutup dengan pesan-pesan dan evaluasi dari ketua dan wakil himpunan.
Hanya dalam satu hari satu malam aku merasakan aku banyak memetik pembelajaran.
Aku belajar untuk mendengarkan berbagai tipe orang yang berbicara. Apapun gaya mereka itulah karakter yang bisa kupelajari.
Aku belajar untuk mengamati perilaku masing-masing dari para temanku yang akan bergandengan tangan bersamaku menyongsong masa depan.
Aku belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Aku sadar aku bukan orang yang terlalu mudah untuk beradaptasi tapi setidaknya aku berusaha untuk beradaptasi meski mungkin masih kurang.
Aku belajar untuk membuka diri dan ikut dalam kehebohan-kehebohan yang diciptakan.
Aku belajar untuk mengerti kebiasaan-kebiasaan tiap orang.
Aku belajar untuk mengerti bahwa apapun program yang dipegang seseorang memiliki tingkat kesuilitan yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan.
Aku belajar untuk mengerti bahwa ke depannya aku akan menghadapi kesulitan-kesulitan dan aku harus mampu mengatasinya.
Yang terpenting aku belajar untuk berbagi dan bekerja sama dengan terman-temanku.
Beberapa motivasi yang dapat aku petik juga.
KIta harus berjalan ke luar dari kotak.
Peraturan itu ibarat pasir. Oleh karena tidak dapat menggenggamnya terlalu keras ataupun tidak menggenggamnya.
Kita harus menjadi seseorang yang proaktif dan memiliki inisiatif sendiri.
Jika kita telah berusaha semaksimal mungkin kegagalan yang didapat takkan menjadi suatu masalah yang besar.
Kegagalan yang sebenarnya adalah di saat kita berhenti untuk berusaha.
Meski belum tentu orang-orang yang turut dalam diklat membaca ini namun aku tetap ingin berterimakasih. Aku menghanturkan sepatah kata terima kasih untuk seluruh temanku yang telah menyusun acara ini sedemikian rupa yang meski hanya singkat waktunya namun jika kita benar-benar menyelaminya banyak yang bisa kita ambil sebagai masukan.
Bukan hanya kenangan yang terukir namun pembelajaran juga ikut tergores.
Tak ada tujuan tertentu untuk menulis ini, tulisan ini hanyalah curahan hatiku yang menyukai dunia menulis.
Bandung, 19 Juli 2009
Pagi yang sejuk membuat aku bersemangat. Acara dibuka dengan senam pagi bersama. Kemudian sarapan dan mandi, dilanjutkan presentasi yang kemarin sempat terhenti. Keseluruhan acara diklat ditutup dengan pesan-pesan dan evaluasi dari ketua dan wakil himpunan.
Hanya dalam satu hari satu malam aku merasakan aku banyak memetik pembelajaran.
Aku belajar untuk mendengarkan berbagai tipe orang yang berbicara. Apapun gaya mereka itulah karakter yang bisa kupelajari.
Aku belajar untuk mengamati perilaku masing-masing dari para temanku yang akan bergandengan tangan bersamaku menyongsong masa depan.
Aku belajar untuk beradaptasi dengan lingkungan yang benar-benar baru. Aku sadar aku bukan orang yang terlalu mudah untuk beradaptasi tapi setidaknya aku berusaha untuk beradaptasi meski mungkin masih kurang.
Aku belajar untuk membuka diri dan ikut dalam kehebohan-kehebohan yang diciptakan.
Aku belajar untuk mengerti kebiasaan-kebiasaan tiap orang.
Aku belajar untuk mengerti bahwa apapun program yang dipegang seseorang memiliki tingkat kesuilitan yang berbeda sehingga tidak bisa dibandingkan.
Aku belajar untuk mengerti bahwa ke depannya aku akan menghadapi kesulitan-kesulitan dan aku harus mampu mengatasinya.
Yang terpenting aku belajar untuk berbagi dan bekerja sama dengan terman-temanku.
Beberapa motivasi yang dapat aku petik juga.
KIta harus berjalan ke luar dari kotak.
Peraturan itu ibarat pasir. Oleh karena tidak dapat menggenggamnya terlalu keras ataupun tidak menggenggamnya.
Kita harus menjadi seseorang yang proaktif dan memiliki inisiatif sendiri.
Jika kita telah berusaha semaksimal mungkin kegagalan yang didapat takkan menjadi suatu masalah yang besar.
Kegagalan yang sebenarnya adalah di saat kita berhenti untuk berusaha.
Meski belum tentu orang-orang yang turut dalam diklat membaca ini namun aku tetap ingin berterimakasih. Aku menghanturkan sepatah kata terima kasih untuk seluruh temanku yang telah menyusun acara ini sedemikian rupa yang meski hanya singkat waktunya namun jika kita benar-benar menyelaminya banyak yang bisa kita ambil sebagai masukan.
Bukan hanya kenangan yang terukir namun pembelajaran juga ikut tergores.
Tak ada tujuan tertentu untuk menulis ini, tulisan ini hanyalah curahan hatiku yang menyukai dunia menulis.
Bandung, 19 Juli 2009
Aku rindu,,,
Aku berbaring di kasurku menyiapkan diri ini untuk tidur namun entah mengapa malam ini aku ingin sekali menangis. Tak mampu untuk tidur dan aku memutuskan untuk mencurahkan perasaanku kembali di sini. Malam ini air mataku tak berhenti mengalir dan aku sendiri juga tak tahu apa alasannya. Aku sudah kembali ke kehidupan sehari-hari yang telah kupilih dengan rutinitas yang telah terjadwal. Liburanku di kampung halaman telah usai namun aku ingin melanjutkannya. Rasanya ingin membohongi diri sendiri bahwa ada koma di sana bukanlah titik. Ragaku sudah berada di sini tetapi jiwaku masih berada di sana. Apakah rasa ini yang sering diceritakan teman-temanku dan mereka mengatakannya dengan istilah "homesick"? Aku kira aku tak akan merasakannya karena sudah setahun lamanya aku meniti kehidupanku di sini. Malam ini entah mengapa pertahananku roboh juga. Aku merasakannya sama seperti teman-temanku.
Aku rindu rumahku...
Aku rindu keluargaku... papa.. mama.. adikku..
Aku rindu suasana rumahku...
Aku rindu masakan mama...
Aku rindu nasehat papa..
Aku rindu semuanya yang ada di rumahku...
Aku rindu teman-teman baikku...
Aku rindu jalan-jalan bersama mereka...
Aku rindu menghabiskan waktu dengan mereka...
Aku rindu canda tawa mereka...
Aku rindu mereka memanggil namaku...
Aku rindu kota itu meski cuacanya sangat panas...
Aku rindu masakannya yang tak ada tandingannya...
Aku rindi lalu lintas yang tak beraturan...
Aku rindu melihatnya tak banyak berubah...
Oh, tidak.. air mata ini semakin deras.. pandanganku telah kabur... mata ini telah membengkak...
Semuanya itu takkan tergantikan dengan keadaan di sini...
Tapi aku tak ingin menyesal aku berada di sini...
Setahun lamanya aku mampu menjalaninya...
Mengapa perasaan seperti ini tiba-tiba muncul dan mengacaukan perasaan yang telah kutata dengan kokoh...
Selemah inikah aku...
Sebodoh inikah aku...
Setidakberdaya inikah aku...
Aku rindu suara papa yang tegas...
Aku rindu suara mama yang lembut...
Aku rindu suara adik yang berat...
Aku rindu suara teman-teman baikku...
Aku iingin kembali bersama mereka...
Apa dayaku... ini jalan yang telah kupilih...
Aku rindu rumahku...
Aku rindu keluargaku... papa.. mama.. adikku..
Aku rindu suasana rumahku...
Aku rindu masakan mama...
Aku rindu nasehat papa..
Aku rindu semuanya yang ada di rumahku...
Aku rindu teman-teman baikku...
Aku rindu jalan-jalan bersama mereka...
Aku rindu menghabiskan waktu dengan mereka...
Aku rindu canda tawa mereka...
Aku rindu mereka memanggil namaku...
Aku rindu kota itu meski cuacanya sangat panas...
Aku rindu masakannya yang tak ada tandingannya...
Aku rindi lalu lintas yang tak beraturan...
Aku rindu melihatnya tak banyak berubah...
Oh, tidak.. air mata ini semakin deras.. pandanganku telah kabur... mata ini telah membengkak...
Semuanya itu takkan tergantikan dengan keadaan di sini...
Tapi aku tak ingin menyesal aku berada di sini...
Setahun lamanya aku mampu menjalaninya...
Mengapa perasaan seperti ini tiba-tiba muncul dan mengacaukan perasaan yang telah kutata dengan kokoh...
Selemah inikah aku...
Sebodoh inikah aku...
Setidakberdaya inikah aku...
Aku rindu suara papa yang tegas...
Aku rindu suara mama yang lembut...
Aku rindu suara adik yang berat...
Aku rindu suara teman-teman baikku...
Aku iingin kembali bersama mereka...
Apa dayaku... ini jalan yang telah kupilih...
Sepotong kisah semalam di Simalem
Sebuah perjalanan yang belum pernah dilakukan YADers ini memacu semangat semuanya. Jumat, 3 Juli YADers berangkat ke S3S, rumah yang amat dikagumi. Setibanya di sana, kami disambut hangat oleh Suhu Light, sejie, sesiong dan disajikan makan malam. Kegiatan malam itu dilanjutkan dengan acara foto dimana fotografernya Suhu Light dan para modelnya cewek-cewek YADers. Para cowok sedang asik bermain di kamar mereka. Kemudian tibalah suatu saat yang sangat dihindari oleh YADers yaitu acara minum bandrek alias air jahe. Panasnya membuat tenggorokan menjadi panas. Dengan perjuangan akhirnya semuanya dapat menghabiskan gelas masing-masing. Ada kejadian yang sangat memacu jantung para cewek. Ketukan di pintu kamar yang disambut dengan wajah mengerikan membuat ketakutan para cewek yang pada akhirnya ternyata adalah topeng yang dikenakan salah satu cowok. Hal ini membuat salah satu cewek yang membuka pintu dan terkejut akan topeng itu menangis dan membuat heboh cewek lainnya. Kejadian ini sebagai pemanasan untuk besok yang belum bisa diprediksikan akan bagaimana jadinya. 3 Juli 2009.
Pagi yang cerah mengawali semuanya dengan sangat sempurna. YADers dan Suhu Light sarapan bersama dan bersiap untuk berangkat tentunya dengan wajah yang sumringah. Semangat yang masih segar terdapat pada tiap individu. Perjalanan memakan waktu dua jam lebih dikarenakan terjadi sedikit kemacetan. Setibanya di sana, kami bertemu dengan para pemimpin outbound camping ini. Setelah membuang simpanan di toilet yang berkaca transparan itu kami meneruskan berkeliling di kawasan yang dikenal dengan “Pearl of Lake Toba ini”. Di bawah kawasan ini adalah kawasan tao Silalahi dimana memiliki kedalaman 1000 m. Pertama kami berfoto di sejejeran batu yang bertuliskan nama yang sangat mengagumkan ini kemudian beralih ke Tongging point. Kawasan itu terdapat amphitheater yang belum sempurna dibangun dan direncanakan adalah tempat untuk diadakan pertunjukan atau festival dan sejenisnya kemudian juga ada tempat dijualnya cinderamata (Tongging Mart). Matahari yang bersinar sangat terik membuat kami tidak bisa berlama-lama di sana. Oleh karena itu setelah diambil beberapa foto oleh fotografer Suhu Light, kami melanjutkan ke sebuah vihara yang belum selesai dibangun. Vihara ini katanya menyerupai sebuah vihara kuno di Cina, ornamen-ornamennya juga didatangkan dari Negeri Tirai Bambu itu. Kami memutuskan tidak melihat-lihat ke dalam karena vihara tersebut belum memasuki tahap penyelesaian. Acara berkeliling diakhiri dengan makan siang di Toba café. Makan siang yang enak menambah semangat kami untuk melanjutkan ke acara outbound. Sebelumnya kami mengunjungi Kodon Kodon café yang pemandangannya lebih bagus dari Toba café yang sebelumnya kami kunjungi. Barang-barang kami yang berat dikumpulkan di sana untuk diangkut ke kawasan camping.
Setelah semuanya bersiap maka kami pun berangkat memasuki sebuah hutan yang bernama Sibuaten. Sibuaten ini dalam bahasa Batak artinya saling mengambil karena di hutan ini masih terdapat banyak penghuninya sehingga mereka sering mengambil nyawa orang asing, yang masih belum dikenali. Jika sedang berjalan di tengah hutan kadang orang tersebut bisa menghilang, itu kata Pak Ramona, pemimpin outbound kami. Cuaca yang sangat bagus mendukung perjalanan trekking kami, tanahnya kering sehingga memudahkan kami. Dalam hutan digali banyak pengetahuan mengenai dunia botani. Terdapat berbagai jenis flora yang tumbuh dengan sendirinya di hutan. Rencananya akan diteliti lebih lanjut untuk dinamai masing-masing. Ada anggrek hutan yang jika hendak dirawat amatlah sulit, kaktus hutan yang berwarna merah menyerupai buah strawberry dan menempel di tanah, ada jamur kuping yang melekat pada batang-batang pohon, ada sejenis tumbuhan paku yang menyerupai tumbuhan paku yang biasanya hidup di air, kemudian ada pohon kemenyan, ada pohon beringin yang sangat unik dimana batang luarnya akan memakan habis batang dalamnya dan seterusnya, dan yang paling banyak ditemui dalam hutan ini adalah tumbuhan rotan yang berduri. Sambil melihat keunikan alam tak terasa kami telah tiba di air terjun kembar yang istilah kerennya “Twin Waterfall”. Ada dua buah air terjun yang dibatasi oleh batu-batu yang besar. Tak ketinggalan acara foto-foto dengan mencari spot-spot yang bagus. Ada salah satu cewek yang tak sengaja tercebur ke dalam air sehingga baju, celana beserta jaketnya ikut basah. Sekitar setengah jam kami menghabiskan di air terjun dan kami melanjutkan perjalanan ke kawasan camping. Kami menemukan lubang ular pemakan semut di tengah perjalanan. Kata Pak Ramona hutan ini juga terdapat banyak siamang yang kadang-kadang menampakkan dirinya. Sesampainya di kawasan camping, kami sibuk melihat kemah yang akan kami tempati selama semalam, kamar mandi yang akan kami gunakan selama semalam, dan daerah sekitar sana yang akan menemani kami selama semalam. Ternyata di depan kemah kami terdapat aliran sungai yang cukup jernih. Kami diijinkan mandi di sana tetapi dengan tidak menggunakan sabun. Kamar mandinya cukup bersih dan kemahnya cukup nyaman untuk ditempati. Kami menghabiskan sore dengan bermain permainan. Keceriaan menghiasi permainan kami. Canda dan tawa tak luput dari pembicaraan kami yang diselingi cemilan-cemilan. Saat yang kami nantikan yaitu makan malam karena cacing di perut telah melakukan demonstrasi. Sajiannya tidak begitu lezat, sebelumnya kami juga makan jagung rebus yang tak begitu nikmat. Sangat berterimakasih kepada sejie yang telah menyediakan sebutir telur bagi tiap orang sehingga setidaknya masih ada lauk yang dapat kami makan. Acara dilanjutkan dengan nyanyi-nyanyi. Berbagai jenis lagu kami nyanyikan dari lagu kebangsaan negara tercinta, lagu pop Indonesia, lagu Mandarin dan Barat hingga lagu daerah dan yang tak ketinggalan bernostalgia dengan lagu-lagu masa lalu yang bahkan kami belum lahir. Ternyata ada seorang cowok YADers yang lumayan tahu tentang lagu-lagu zaman orangtua kami dan ada dua orang cewek yang bahkan mahir menyanyikan lagu daerah Batak. Sungguh sebuah kenangan yang amat manis. Di sela itu ada sebuah permainan menyanyikan lagu “Di sini senang, di sana senang” dengan mengubah huruf vokal menjadi a, e,I, o, u. Dua belas YADers dibagi menjadi lima kelompok yang dimenangkan oleh kelompoh berhuruf vokal i. Saat bermain suasana sangat heboh dan terjadi teriakan-teriakan sebagai wujud luapan emosi bahagia kami. Malam yang kian larut ditutup dengan sebuah tidur istimewa di tempat yang luar biasa. 4 Juli 2009.
Pagi hari yang indah dan adem menyambut hari kami. Matahari pun tersenyum ceria mengucapkan selamat pagi. Saat membuka mata, mungkin ada diantara kami yang tersentak kaget tak mengenali keadaan sekeliling. Hal ini wajar karena bermalam di sebuah tempat asing yang sangat sederhana dimana sangat berbeda dengan keadaan rumah kami. Suasana pagi yang sangat bersahabat memberi angin kesegaran baru bagi kami. Santapan sarapan pagi yang dihidangkan tepat mengisi perut kami yang mulai bernyanyi. Kami membawa sarapan dan duduk di pinggir sungai. Mungkin ini pertama kalinya bagi kami menyantap sarapan sambil menikmati keindahan alam pada pagi hari. Selesai berbenah, kami menyeberangi sungai. Butuh konsentrasi untuk menyeberanginya karena batu-batu sangat licin. Kemudian kembali memasuki hutan yang lebih menantang dari hari sebelumnya. Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di jalanan dan melanjutkan dengan jalan panjang yang semakin menanjak hingga akhirnya kembali ke Kodon Kodon café tempat kami memulai outbound kemarin. Ini ibarat sebuah perlombaan yang dimulai dan diakhiri di tempat yang sama. Perjalanan pulang ke S3S kami bercerita banyak dan bernyanyi-nyanyi. Tak sedikitpun tercermin kelelahan di wajah kami. Kami menyantap makan siang di Tebu Manis dan kembali ke S3S. Sore harinya, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Medan. Sekitar empat jam kami habiskan karena kemacetan yang luar biasa. Namun, kami mengisi perjalanan dengan bernyanyi sepuasnya seakan di lain waktu kami tak bisa bernyanyi bersama lagi. Mungkin saja, karena segala hal di dunia ini tidak pasti. Oleh karena itu, semasih bisa kami berkumpul bersama maka kami akan menikmati saat-saat itu dan menjadikannya potongan-potongan kenangan yang akan mendiami hati masing-masing. 5 Juli 2009.
“Back To Nature” sebuah istilah yang bisa menggambarkan keseluruhan aktivitas YADers kali ini. Dari kegiatan ini, kami masing-masing mendapat banyak pelajaran. Satu hal yang pasti, kami akan lebih bersyukur dan lebih menghargai serta menikmati hidup ini.
Di kala memasuki hutan yang penuh dengan rintangan, akan terpikir betapa mudahnya kita pergi ke mana saja dengan mobil ber-AC yang membuat kita terlindung dari segala debu dan kotoran.
Di saat makan lauk yang seadanya serta rasa masakan yang aneh, akan terpikir betapa mudahnya selama ini kita mendapatkan makanan enak yang bahkan kadang kita menyia-nyiakannya.
Di kala tidur di sebuah kemah dengan banyak orang di dalamnya, akan teringat betapa nyaman dan empuknya tempat tidur kita beristirahat selama ini.
Di saat tersedia kamar mandi yang seadanya dan air yang diragukan kebersihannya, akan teringat betapa kita tak menikmati setiap aktivitas di kamar mandi yang selama ini dilakukan.
Di kala kita harus hidup dengan berbagi dan berdampingan dengan orang lain, akan teringat betapa egoisnya diri kita selama ini dan kadang tak menghargai sebuah jodoh.
Di saat keberadaan kita begitu dekat dengan alam, akan teringat betapa selama ini kita secara tak langsung ikut merusaknya dengan segala aktivitas dan kebutuhan kita.
Di kala dan di saat kita menyadari keindahan alam dan menikmatinya, kita akan menyadari juga bahwa kehidupan yang nyaman dan berkecukupan takkan mampu kita lepaskan. Keindahan alam takkan mampu melampauinya. Kisah ini hanya akan menjadi sebuah pembelajaran tentang penghargaan akan perjuangan hidup.
Pada akhirnya setelah pulang kita merasa terusik dengan kekotoran tubuh kita, harus kita sadari itulah diri kita yang tak luput dari kekotoran batin sehingga saat kita ingin segera membersihkan tubuh kita, maka harus kita sadari kita juga harus berusaha menjaga kebersihan batin kita.
Mungkin kita menganggap ini semua hanyalah sebuah aktivitas mengisi waktu liburan namun kehidupan seperti ini masih dijalani oleh saudara-saudara kita di daerah lain maupun belahan dunia yang lain. Mereka mampu menghadapi semua rintangan dan cobaan serta berjuang untuk hidup hari demi hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita bersyukur akan apa yang telah mudah kita peroleh selama ini yang telah jauh dari sebuah kata “sederhana” dan mengerti akan sulitnya berjuang untuk hidup. Dengan demikian, kita tidak akan menyia-nyiakan hidup ini dan mewarnainya dengan berbagai kegiatan yang berguna bukan hanya untuk diri sendiri melainkan orang banyak. “Hidup adalah perjuangan” sebuah kalimat sederhana yang saya rasa layak menutup kisah ini.
Pagi yang cerah mengawali semuanya dengan sangat sempurna. YADers dan Suhu Light sarapan bersama dan bersiap untuk berangkat tentunya dengan wajah yang sumringah. Semangat yang masih segar terdapat pada tiap individu. Perjalanan memakan waktu dua jam lebih dikarenakan terjadi sedikit kemacetan. Setibanya di sana, kami bertemu dengan para pemimpin outbound camping ini. Setelah membuang simpanan di toilet yang berkaca transparan itu kami meneruskan berkeliling di kawasan yang dikenal dengan “Pearl of Lake Toba ini”. Di bawah kawasan ini adalah kawasan tao Silalahi dimana memiliki kedalaman 1000 m. Pertama kami berfoto di sejejeran batu yang bertuliskan nama yang sangat mengagumkan ini kemudian beralih ke Tongging point. Kawasan itu terdapat amphitheater yang belum sempurna dibangun dan direncanakan adalah tempat untuk diadakan pertunjukan atau festival dan sejenisnya kemudian juga ada tempat dijualnya cinderamata (Tongging Mart). Matahari yang bersinar sangat terik membuat kami tidak bisa berlama-lama di sana. Oleh karena itu setelah diambil beberapa foto oleh fotografer Suhu Light, kami melanjutkan ke sebuah vihara yang belum selesai dibangun. Vihara ini katanya menyerupai sebuah vihara kuno di Cina, ornamen-ornamennya juga didatangkan dari Negeri Tirai Bambu itu. Kami memutuskan tidak melihat-lihat ke dalam karena vihara tersebut belum memasuki tahap penyelesaian. Acara berkeliling diakhiri dengan makan siang di Toba café. Makan siang yang enak menambah semangat kami untuk melanjutkan ke acara outbound. Sebelumnya kami mengunjungi Kodon Kodon café yang pemandangannya lebih bagus dari Toba café yang sebelumnya kami kunjungi. Barang-barang kami yang berat dikumpulkan di sana untuk diangkut ke kawasan camping.
Setelah semuanya bersiap maka kami pun berangkat memasuki sebuah hutan yang bernama Sibuaten. Sibuaten ini dalam bahasa Batak artinya saling mengambil karena di hutan ini masih terdapat banyak penghuninya sehingga mereka sering mengambil nyawa orang asing, yang masih belum dikenali. Jika sedang berjalan di tengah hutan kadang orang tersebut bisa menghilang, itu kata Pak Ramona, pemimpin outbound kami. Cuaca yang sangat bagus mendukung perjalanan trekking kami, tanahnya kering sehingga memudahkan kami. Dalam hutan digali banyak pengetahuan mengenai dunia botani. Terdapat berbagai jenis flora yang tumbuh dengan sendirinya di hutan. Rencananya akan diteliti lebih lanjut untuk dinamai masing-masing. Ada anggrek hutan yang jika hendak dirawat amatlah sulit, kaktus hutan yang berwarna merah menyerupai buah strawberry dan menempel di tanah, ada jamur kuping yang melekat pada batang-batang pohon, ada sejenis tumbuhan paku yang menyerupai tumbuhan paku yang biasanya hidup di air, kemudian ada pohon kemenyan, ada pohon beringin yang sangat unik dimana batang luarnya akan memakan habis batang dalamnya dan seterusnya, dan yang paling banyak ditemui dalam hutan ini adalah tumbuhan rotan yang berduri. Sambil melihat keunikan alam tak terasa kami telah tiba di air terjun kembar yang istilah kerennya “Twin Waterfall”. Ada dua buah air terjun yang dibatasi oleh batu-batu yang besar. Tak ketinggalan acara foto-foto dengan mencari spot-spot yang bagus. Ada salah satu cewek yang tak sengaja tercebur ke dalam air sehingga baju, celana beserta jaketnya ikut basah. Sekitar setengah jam kami menghabiskan di air terjun dan kami melanjutkan perjalanan ke kawasan camping. Kami menemukan lubang ular pemakan semut di tengah perjalanan. Kata Pak Ramona hutan ini juga terdapat banyak siamang yang kadang-kadang menampakkan dirinya. Sesampainya di kawasan camping, kami sibuk melihat kemah yang akan kami tempati selama semalam, kamar mandi yang akan kami gunakan selama semalam, dan daerah sekitar sana yang akan menemani kami selama semalam. Ternyata di depan kemah kami terdapat aliran sungai yang cukup jernih. Kami diijinkan mandi di sana tetapi dengan tidak menggunakan sabun. Kamar mandinya cukup bersih dan kemahnya cukup nyaman untuk ditempati. Kami menghabiskan sore dengan bermain permainan. Keceriaan menghiasi permainan kami. Canda dan tawa tak luput dari pembicaraan kami yang diselingi cemilan-cemilan. Saat yang kami nantikan yaitu makan malam karena cacing di perut telah melakukan demonstrasi. Sajiannya tidak begitu lezat, sebelumnya kami juga makan jagung rebus yang tak begitu nikmat. Sangat berterimakasih kepada sejie yang telah menyediakan sebutir telur bagi tiap orang sehingga setidaknya masih ada lauk yang dapat kami makan. Acara dilanjutkan dengan nyanyi-nyanyi. Berbagai jenis lagu kami nyanyikan dari lagu kebangsaan negara tercinta, lagu pop Indonesia, lagu Mandarin dan Barat hingga lagu daerah dan yang tak ketinggalan bernostalgia dengan lagu-lagu masa lalu yang bahkan kami belum lahir. Ternyata ada seorang cowok YADers yang lumayan tahu tentang lagu-lagu zaman orangtua kami dan ada dua orang cewek yang bahkan mahir menyanyikan lagu daerah Batak. Sungguh sebuah kenangan yang amat manis. Di sela itu ada sebuah permainan menyanyikan lagu “Di sini senang, di sana senang” dengan mengubah huruf vokal menjadi a, e,I, o, u. Dua belas YADers dibagi menjadi lima kelompok yang dimenangkan oleh kelompoh berhuruf vokal i. Saat bermain suasana sangat heboh dan terjadi teriakan-teriakan sebagai wujud luapan emosi bahagia kami. Malam yang kian larut ditutup dengan sebuah tidur istimewa di tempat yang luar biasa. 4 Juli 2009.
Pagi hari yang indah dan adem menyambut hari kami. Matahari pun tersenyum ceria mengucapkan selamat pagi. Saat membuka mata, mungkin ada diantara kami yang tersentak kaget tak mengenali keadaan sekeliling. Hal ini wajar karena bermalam di sebuah tempat asing yang sangat sederhana dimana sangat berbeda dengan keadaan rumah kami. Suasana pagi yang sangat bersahabat memberi angin kesegaran baru bagi kami. Santapan sarapan pagi yang dihidangkan tepat mengisi perut kami yang mulai bernyanyi. Kami membawa sarapan dan duduk di pinggir sungai. Mungkin ini pertama kalinya bagi kami menyantap sarapan sambil menikmati keindahan alam pada pagi hari. Selesai berbenah, kami menyeberangi sungai. Butuh konsentrasi untuk menyeberanginya karena batu-batu sangat licin. Kemudian kembali memasuki hutan yang lebih menantang dari hari sebelumnya. Sekitar setengah jam kemudian kami tiba di jalanan dan melanjutkan dengan jalan panjang yang semakin menanjak hingga akhirnya kembali ke Kodon Kodon café tempat kami memulai outbound kemarin. Ini ibarat sebuah perlombaan yang dimulai dan diakhiri di tempat yang sama. Perjalanan pulang ke S3S kami bercerita banyak dan bernyanyi-nyanyi. Tak sedikitpun tercermin kelelahan di wajah kami. Kami menyantap makan siang di Tebu Manis dan kembali ke S3S. Sore harinya, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Medan. Sekitar empat jam kami habiskan karena kemacetan yang luar biasa. Namun, kami mengisi perjalanan dengan bernyanyi sepuasnya seakan di lain waktu kami tak bisa bernyanyi bersama lagi. Mungkin saja, karena segala hal di dunia ini tidak pasti. Oleh karena itu, semasih bisa kami berkumpul bersama maka kami akan menikmati saat-saat itu dan menjadikannya potongan-potongan kenangan yang akan mendiami hati masing-masing. 5 Juli 2009.
“Back To Nature” sebuah istilah yang bisa menggambarkan keseluruhan aktivitas YADers kali ini. Dari kegiatan ini, kami masing-masing mendapat banyak pelajaran. Satu hal yang pasti, kami akan lebih bersyukur dan lebih menghargai serta menikmati hidup ini.
Di kala memasuki hutan yang penuh dengan rintangan, akan terpikir betapa mudahnya kita pergi ke mana saja dengan mobil ber-AC yang membuat kita terlindung dari segala debu dan kotoran.
Di saat makan lauk yang seadanya serta rasa masakan yang aneh, akan terpikir betapa mudahnya selama ini kita mendapatkan makanan enak yang bahkan kadang kita menyia-nyiakannya.
Di kala tidur di sebuah kemah dengan banyak orang di dalamnya, akan teringat betapa nyaman dan empuknya tempat tidur kita beristirahat selama ini.
Di saat tersedia kamar mandi yang seadanya dan air yang diragukan kebersihannya, akan teringat betapa kita tak menikmati setiap aktivitas di kamar mandi yang selama ini dilakukan.
Di kala kita harus hidup dengan berbagi dan berdampingan dengan orang lain, akan teringat betapa egoisnya diri kita selama ini dan kadang tak menghargai sebuah jodoh.
Di saat keberadaan kita begitu dekat dengan alam, akan teringat betapa selama ini kita secara tak langsung ikut merusaknya dengan segala aktivitas dan kebutuhan kita.
Di kala dan di saat kita menyadari keindahan alam dan menikmatinya, kita akan menyadari juga bahwa kehidupan yang nyaman dan berkecukupan takkan mampu kita lepaskan. Keindahan alam takkan mampu melampauinya. Kisah ini hanya akan menjadi sebuah pembelajaran tentang penghargaan akan perjuangan hidup.
Pada akhirnya setelah pulang kita merasa terusik dengan kekotoran tubuh kita, harus kita sadari itulah diri kita yang tak luput dari kekotoran batin sehingga saat kita ingin segera membersihkan tubuh kita, maka harus kita sadari kita juga harus berusaha menjaga kebersihan batin kita.
Mungkin kita menganggap ini semua hanyalah sebuah aktivitas mengisi waktu liburan namun kehidupan seperti ini masih dijalani oleh saudara-saudara kita di daerah lain maupun belahan dunia yang lain. Mereka mampu menghadapi semua rintangan dan cobaan serta berjuang untuk hidup hari demi hari. Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita bersyukur akan apa yang telah mudah kita peroleh selama ini yang telah jauh dari sebuah kata “sederhana” dan mengerti akan sulitnya berjuang untuk hidup. Dengan demikian, kita tidak akan menyia-nyiakan hidup ini dan mewarnainya dengan berbagai kegiatan yang berguna bukan hanya untuk diri sendiri melainkan orang banyak. “Hidup adalah perjuangan” sebuah kalimat sederhana yang saya rasa layak menutup kisah ini.
di saat memilih untuk melepas
"hidup adalah pilihan" itulah kalimat yang sering dilontarkan banyak orang. pilihan berkaitan dengan suatu objek yang akan dipilih. namun bukankah memutuskan untuk tidak memilih objek apapun itu jugalah sebuah pilihan. dalam memlih kita sering bimbang, bingung, takut memilih sebuah keputusan yang salah. setelah memilih pun kadang kita masih bisa menyesal dan bertanya-tanya apakah sudah paling benar, tepat, salah, keliru. apapun itu pada akhirnya kita telah memilih.
suatu sabtu pagi aku berencana pergi dengan teman-temanku setelah sekian lama tidak pergi dengan mereka namun apa dayaku rencana tinggallah rencana. seseorang yang sangat kukasihi, kusayangi, yang menjagaku dari diriku masih bayi hingga diriku beranjak dewasa menghembuskan nafas terakhirnya. setibanya aku di ruangan itu suasana diliputi aura dukacita. terasa sekali awan kelabu memayungi kami semua. tak kuasa aku menahan dua anak sungai yang mengalir deras membasahi pipiku. sejam kemudian aku mulai mampu mengontrol air mataku dan memperkuat diriku untuk tidak mengeluarkannya. berpisah dengan orang yang sangat kita kasihi tentulah bukan suatu hal yang mudah terlebih bagi mereka yang memiliki darah yang sama dengan orang yang telah terbujur kaku. di sisi lain aku merasa bahagia karena dia telah bebas dari penderitaan duniawi yang penuh dengan sengsara. kehilangan tentu saja dirasakan karena dia akan pergi ke suatu dunia yang tak diketahui siapapun untuk memulai kehidupannya yang baru di sana. namun aku sadar dengan aku menangis dan terpuruk dalam kesedihan maka lingkungan sekelilingku akan terpengaruh dan membuat keadaan lebih buruk. aku harus lebih kuat agar bisa menjadi sandaran bagi orang-orang yang di sekelilingku dan menghibur mereka yang jauh lebih sedih dan merasa lebih kehilangan. saat itu juga aku memutuskan sebuah pilihan untuk melepas. aku yakin dia akan menemui jalannya di sana.
percayalah, jika orang yang berpisah dengan kita tidak ada ikatan batin yang erat dengan kita maka kita tak akan merasa begitu kehilangan. perasaan kehilangan tak akan dimengerti orang yang tak pernah merasakannya. terpisahkan oleh dua dunia yang berbeda bukanlah suatu hal yang mudah diterima oleh setiap orang terlebih bagi mereka yang berpisah dengan seorang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendidik mereka. perasaan tidak rela pasti dirasakan. namun "hidup tetap harus berjalan". meski tak mudah tapi pasti ada caranya. kematian seseorang itu sudah pasti. keputusan yang telah dibuat jangan lagi disesali apapun itu. yang bisa dilakukan bagi mereka yang telah meninggalkan dunia samsara ini hanyalah berdoa bagi mereka dan melimpahkan jasa kebajikan. semoga mereka mendapat kehidupan yang lebih baik. bukankah apakah yang dialami kita dalam kehidupan ini baik berada di sisi orang yang kita kasihi ataupun berpisah dengan yang kita kasihi itu juga merupakan sebuah proses belajar. "hidup adalah belajar" itu juga yang sering banyak orang katakan.
suatu sabtu pagi aku berencana pergi dengan teman-temanku setelah sekian lama tidak pergi dengan mereka namun apa dayaku rencana tinggallah rencana. seseorang yang sangat kukasihi, kusayangi, yang menjagaku dari diriku masih bayi hingga diriku beranjak dewasa menghembuskan nafas terakhirnya. setibanya aku di ruangan itu suasana diliputi aura dukacita. terasa sekali awan kelabu memayungi kami semua. tak kuasa aku menahan dua anak sungai yang mengalir deras membasahi pipiku. sejam kemudian aku mulai mampu mengontrol air mataku dan memperkuat diriku untuk tidak mengeluarkannya. berpisah dengan orang yang sangat kita kasihi tentulah bukan suatu hal yang mudah terlebih bagi mereka yang memiliki darah yang sama dengan orang yang telah terbujur kaku. di sisi lain aku merasa bahagia karena dia telah bebas dari penderitaan duniawi yang penuh dengan sengsara. kehilangan tentu saja dirasakan karena dia akan pergi ke suatu dunia yang tak diketahui siapapun untuk memulai kehidupannya yang baru di sana. namun aku sadar dengan aku menangis dan terpuruk dalam kesedihan maka lingkungan sekelilingku akan terpengaruh dan membuat keadaan lebih buruk. aku harus lebih kuat agar bisa menjadi sandaran bagi orang-orang yang di sekelilingku dan menghibur mereka yang jauh lebih sedih dan merasa lebih kehilangan. saat itu juga aku memutuskan sebuah pilihan untuk melepas. aku yakin dia akan menemui jalannya di sana.
percayalah, jika orang yang berpisah dengan kita tidak ada ikatan batin yang erat dengan kita maka kita tak akan merasa begitu kehilangan. perasaan kehilangan tak akan dimengerti orang yang tak pernah merasakannya. terpisahkan oleh dua dunia yang berbeda bukanlah suatu hal yang mudah diterima oleh setiap orang terlebih bagi mereka yang berpisah dengan seorang ibu yang melahirkan, membesarkan, dan mendidik mereka. perasaan tidak rela pasti dirasakan. namun "hidup tetap harus berjalan". meski tak mudah tapi pasti ada caranya. kematian seseorang itu sudah pasti. keputusan yang telah dibuat jangan lagi disesali apapun itu. yang bisa dilakukan bagi mereka yang telah meninggalkan dunia samsara ini hanyalah berdoa bagi mereka dan melimpahkan jasa kebajikan. semoga mereka mendapat kehidupan yang lebih baik. bukankah apakah yang dialami kita dalam kehidupan ini baik berada di sisi orang yang kita kasihi ataupun berpisah dengan yang kita kasihi itu juga merupakan sebuah proses belajar. "hidup adalah belajar" itu juga yang sering banyak orang katakan.
aku kembali ke kampung halamanku dengan perasaan tak menentu. suatu kabar kurang baik memaksa aku untuk kembali yang sebelumnya tak direncanakan. salah satu orang yang sangat kukasihi yang menjaga aku dari diriku masih bayi hingga dewasa ini sedang terbaring tak berdaya di atas kasur putih dengan berbagai macam selang mengelilingi dan menancap di berbagai sisi tubuhnya. dia terlihat sangat lemah dan tak sadarkan diri. hal pertama yang kulakukan ketika tiba di kota tercintaku adalah menjenguknya. namun hingga larut malam aku baru diperbolehkan melihat keadaannya karena ada beberapa orang yang sedang bertempur melawan kematian juga pada saat itu. untuk pertama kalinya aku melihat wajahnya yang pucat pasi setelah beberapa bulan meninggalkannya. aku menyentuh tangannya dan memanggilnya, berkata padanya bahwa aku telah kembali. perlahan dengan sisa kekuatannya dia berusaha keras membuka matanya untuk melihat aku. setetes air mata ikut mengalir keluar. dia menangis melihat aku kembali. hari kedua aku menjenguknya dia membuka matanya lebih lebar dan memandangku dalam diam, tak mampu bersuara. hari ketiga aku memanggilnya kembali, dia tidak membuka matanya namun terisak dan mengeluarkan air mata yang membuat hatiku semakin lemah dan sedih. hari selanjutnya aku tak menjenguknya lagi. keesokan harinya saat aku menemuinya, da sudah bebas dari segala macam selang yang membantunya menyambung nyawanya itu. dia terlihat bernapas lebih tenang dan hingga hari ini keadannya masih seperti itu. tidur pulas dan nafas yang teratur.
mungkin aku akan menyesal sekali jika aku bersikeras tidak kembali saat dikabari. aku tak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya jika terjadi sesuatu padanya. beberapa hari aku berkunjung ke gedung dengan bau menyengat dan serba putih itu aku dapat melihat berbagai macam penderitaan orang, dari muda hingga tua. aku tak kuasa melihatnya, lututku lemas, bagaimana jika yang dialami orang-orang itu terjadi pada diriku. mungkin suatu saat akan benar terjadi mengingat kehidupan manusia itu ada lahir, tua, sakit, dan mati. aku sangat bersyukur aku masih utuh dengan tubuhku untuk hiudp saat ini karena aku tak dapat mengetahui kapan aku kehilangan tubuh ini yang hampir menemaniku selama duapuluh tahun.
kehilangan orang yang benar-benar aku kasihi mungkin akan sakit, namun hati aku lebih sakit dan lebih tak kuat melihat keadaan dirinya yang bertahan hidup oleh karena nafas yang dipacu oleh sebuah mesin. aku lebih merelakannya daripada melihat keadaannya yang begitu menderita. meski aku tak tahu apa yang dirasakannya karena dia tidak berbicara hanya matanyayang sesekali terbuka. tubuhnya juga terbujur kaku di atas kasur. aku benar tak kuasa melihatnya lebih lama lagi tergantung pada mesin seperti itu yang menancap di bagian tubuhnya. sakit memang jika kehilangan dirinya tapi akan lebih sakit bagiku melihatnya tetap bernafas namun dalam keadaan menderita seperti itu.
kini hanyalah menunggu waktu karena kesedihan tak lagi mampu dirasakan. air mata juga sudah mengering. tak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. akankah dia sadar kembali atau meninggalkan dunia penuh derita ini. apapun yang akan terjadi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa agar keadaan hatinya selalu dalam keadaan tenang tanpa kekhawatiran.
mungkin aku akan menyesal sekali jika aku bersikeras tidak kembali saat dikabari. aku tak bisa melihatnya untuk terakhir kalinya jika terjadi sesuatu padanya. beberapa hari aku berkunjung ke gedung dengan bau menyengat dan serba putih itu aku dapat melihat berbagai macam penderitaan orang, dari muda hingga tua. aku tak kuasa melihatnya, lututku lemas, bagaimana jika yang dialami orang-orang itu terjadi pada diriku. mungkin suatu saat akan benar terjadi mengingat kehidupan manusia itu ada lahir, tua, sakit, dan mati. aku sangat bersyukur aku masih utuh dengan tubuhku untuk hiudp saat ini karena aku tak dapat mengetahui kapan aku kehilangan tubuh ini yang hampir menemaniku selama duapuluh tahun.
kehilangan orang yang benar-benar aku kasihi mungkin akan sakit, namun hati aku lebih sakit dan lebih tak kuat melihat keadaan dirinya yang bertahan hidup oleh karena nafas yang dipacu oleh sebuah mesin. aku lebih merelakannya daripada melihat keadaannya yang begitu menderita. meski aku tak tahu apa yang dirasakannya karena dia tidak berbicara hanya matanyayang sesekali terbuka. tubuhnya juga terbujur kaku di atas kasur. aku benar tak kuasa melihatnya lebih lama lagi tergantung pada mesin seperti itu yang menancap di bagian tubuhnya. sakit memang jika kehilangan dirinya tapi akan lebih sakit bagiku melihatnya tetap bernafas namun dalam keadaan menderita seperti itu.
kini hanyalah menunggu waktu karena kesedihan tak lagi mampu dirasakan. air mata juga sudah mengering. tak ada seorangpun yang bisa menebak apa yang akan terjadi selanjutnya. akankah dia sadar kembali atau meninggalkan dunia penuh derita ini. apapun yang akan terjadi yang bisa kulakukan sekarang hanyalah berdoa agar keadaan hatinya selalu dalam keadaan tenang tanpa kekhawatiran.
Subscribe to:
Posts (Atom)