Terima salam sapa dariku sobat...
Kuliah semester ini aku menyadari waktu 24 jam sehari ternyata sangat cukup bagiku. Biasanya aku selalu mengeluh tidak cukup, terlalu sibuk dengan kegiatan. Kini kusadari waktu itu aku manfaatkan dengan sebaik mungkin akan jauh lebih dari cukup. Akhir-akhir ini diriku mulai menggila dengan mengerjakan tugas. Aku menjadi sangat rajin. Sangat senang akan hal ini.
Aku takkan pernah membiarkan mereka menyakitiku lagi.
Aku takkan pernah menyerahkan diriku bagi mereka.
Aku takkan pernah ditaklukkan mereka.
Aku takkan pernah mengalah dengan mereka lagi.
Cukup sudah aku bersabar menghadapi semuanya.
Cukup sudah membuat diriku sakit dan tersiksa.
Cukup sudah membuat aku hampir gila.
Cukup sudah semua ini terjadi.
Aku akan mendiam... membisu... sibuk dengan dunia yang kuciptakan sendiri dimana tidak ada mereka di sana... dimana aku bisa mendapatkan kebebasanku sepenuhnya... dimana aku dapat mengekspresikan diriku...
Aku takkan peduli lagi dengan apapun yang berkaitan dengan mereka. Mereka tidak akan pernah menggantikan arti sebuah keluarga. Mereka bahkan tidak akan pernah menggantikan arti sebuah sahabat. Tidak ada penghargaan sedikitpun.
Kalau memang tidak berjodoh maka jodoh itu tak perlu dipaksakan. Biarlah begini adanya. Kali ini sungguh aku telah lelah. Lelah menghadapi semua kemunafikan ini. Aku enggan menghadapi kondisi yang sama dari waktu ke waktu. Inilah titik akhir dari semua.
Masih banyak teman di luar sana yang menghargai dan menerima diriku apa adanya. Aku tak perlu bermuka manis di depan mereka. Masih banyak sosok-sosok yang lebih layak dikatakan keluarga.
Terima kasih kuucapkan pada dosen-dosen yang memberikan tugas, pada teman-temanku yang tidak mengerjakannya, bagi kepanitiaan, sehingga aku bisa mengambil alih semua untuk membunuh suasana mencekam ini. Aku memiliki kalian yang menemani diriku. Bantuan yang menghabiskan konsentrasi serta tenagaku sehingga membuatku lelah dan tertidur tanpa memikirkan, tanpa tersakiti.
Akan kucari lagi kesibukan di luar sana untuk membunuh perasaan ini juga. Aku tahu dia telah tidak menjalar namun tak bisa memastikannya jika ku tetap berada di sekitar dia. Meski ku telah mengontrolnya namun bisa saja dia nakal dan keluar dari jalur.
Thank you a lot... whatever you are... whereever you are.. whoever you are... whenever you are... you've helped me a lot...
Always be grateful
Just enjoy the path...
Dear YOU
Hello pals!
You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life
Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.
So, enjoy the pieces of mine ^^
Sunday, February 7, 2010
Tuesday, February 2, 2010
Gabut di pagi hari...
Halo sobat...
Hari-hariku dua minggu terakhir ini sangat teratur... ^^ Aku bangun pagi sekali mempersiapkan diri pergi ke kampus. Sepulang kuliah aku mandi dan mengerjakan tugas kemdian tidur lebih awal. Semoga aku dapat mempertahakan ini seterusnya ya. Alangkah senangnya semuanya serba teratur. Hari ini hingga minggu depan aku akan disibukkan oleh kepanitiaan kampus lagi. Maybe this is the last time i join... who knows?? Sudah tidak berencana beroraganisasi semester depan. Yah begitulah, rapat, IPO, n briefing the lasr the day... Sudah bosan kali ya.
Ah ya, aku berhasil mengontrol perasaanku untuk tidak menjalar lebih jauh. Dia tetap berada di sampingku untuk saat ini. Belum kubiarkan pergi menjauh. Aku bersyukur dengan ini. Aku tetap bisa fokus tanpa bayangan dia. Biarlah tetap begini hingga suatu saat ada yang memancingnya berkembang dan menjalar.
Kuakan tetap di tempatku...
Akan selalu sama...
Tidak akan berubah...
Tidak akan bergerak...
Hari-hariku dua minggu terakhir ini sangat teratur... ^^ Aku bangun pagi sekali mempersiapkan diri pergi ke kampus. Sepulang kuliah aku mandi dan mengerjakan tugas kemdian tidur lebih awal. Semoga aku dapat mempertahakan ini seterusnya ya. Alangkah senangnya semuanya serba teratur. Hari ini hingga minggu depan aku akan disibukkan oleh kepanitiaan kampus lagi. Maybe this is the last time i join... who knows?? Sudah tidak berencana beroraganisasi semester depan. Yah begitulah, rapat, IPO, n briefing the lasr the day... Sudah bosan kali ya.
Ah ya, aku berhasil mengontrol perasaanku untuk tidak menjalar lebih jauh. Dia tetap berada di sampingku untuk saat ini. Belum kubiarkan pergi menjauh. Aku bersyukur dengan ini. Aku tetap bisa fokus tanpa bayangan dia. Biarlah tetap begini hingga suatu saat ada yang memancingnya berkembang dan menjalar.
Kuakan tetap di tempatku...
Akan selalu sama...
Tidak akan berubah...
Tidak akan bergerak...
He's just not that into you
Quotes from " He's just not that into you"
Girls are taught a lot of stuff growing up. If a guy punches you he likes you. Never try to trim your own bangs and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, Every story we're told implores us to wait for it, the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule. But sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. How to tell from the ones who want us and the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. And maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe... it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. Maybe the happy ending is... just... moving on. Or maybe the happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment you never gave up hope.
Girls are taught a lot of stuff growing up: if a boy punches you he likes you, never try to trim your own bangs, and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. every movie we see, every story we're told implores us to wait for it: the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule. but sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. how to tell the ones who want us from the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. and maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. maybe the happy ending is just moving on. or maybe the happy ending is this: knowing after all the unreturned phone calls and broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment... you never gave up hope.
"If you can find him, then he can find you. If he wants to find you, he will."
He is a man made up entirely of your excuses. And the minute you stop making excuses for him, he will completely disappear from your life.
Men, for the most part, like to pursue women. We (men) like not knowing if we can catch you. We feel rewarded when we do.
Don't let the "honeys" and the "babys" fool you. His sweet nothings are exactly that. They are much easier to say than "I'm just not that into you." Remember, actions speak louder than, "There's no cell reception where I am right now."
He will always be able to play the "friend" card on you. He only has to be responsible for the expectations of a friend, rather than the the far greater expectations of a boyfriend. He's got the ultimate situation: a great friend with all the benefits of a girlfriend, whom he can see or not see whenever he wants to. He may be one of your closest friends, but I'm sorry to say ... as a boyfriend, he's just not that into you.
Beware of the word "friend". It can often be used by men or the women that love them to excuse the most unfriendly behavior. Personally, when I'm picking friends, I like the ones who don't make me cry myself to sleep.
I don't want to be "sort of dating" someone. I don't want to be "kinda hanging out" with someone. I don't want to spend a lot of energy suppressing my feelings so I appear uninvolved. I want to be involved. I want to be sleeping with someone I know I'll see again because they've already demonstarted to me that they're trustworthy and honorable -- and into me.
You can't blame a guy for having feelings. You love someone, you break up, you still have feeling. Thank God for that really. But having feelings don't mean you have to have sex.
Every man you have ever dated who has said he doesn't want to get married or doesn't believe in marriage, or has "issues" with marriage, will ... rest assured ... someday be married. It just will never be with you.
Everyone wants to be loved and needed, particularly by the person who just broke up with us. I understand. What could be better than hearing from the man who just told you he didn't want you in his life anymore ... his sad, wistful, "I miss you so much" voice on the other end of the phone? It's validating. It's exciting. It's irresistible. But resist you must.
Every man you have ever dated who has said he doesn't want to get married or doesn't believe in marriage, or has "issues" with marriage, will ... rest assured ... someday be married. It just will never be with you.
A man who wants to make a relationship work will move mountains to keep the woman he loves. If he's not calling you to tell you he loves you and wants you back, it should only be because he's showing up at your new residence to do it in person ... if he's not doing any of that, he may love you, he may miss you, but ultimately he's just not that into you. Stop taking his calls and let him know what it's like to live without you.
Don't be flattered that he misses you. He should miss you. You're deeply missable. However, he's still the same person who just broke up with you. Remember, the only reason he can miss you is because he's choosing, every day, not to be with you.
No matter how powerful and real your feelings may be for someone, if that person cannot fully and honestly return them and therefore actively love you back, these feelings mean nothing.
Life is hard enough as it is without choosing someone difficult to share it with.
You deserve to be with someone who is nice to you all the time.
A girl will never sleep with you if she calls you "cuddly" or "dependable", if she pops a zit in front of you, if her name is Amber or Christine, if she takes a dump in your bathroom, or if she takes leftovers on dates one, two, or three. I know it's not scientific, but I'm just saying, you were warned.
What if you meet the love of your life, are you supposed to let
them pass you by?
But sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. How to tell from the ones who want us and the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. And maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe... it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. Maybe the happy ending is... just... moving on.
Girls are taught a lot of stuff growing up. If a guy punches you he likes you. Never try to trim your own bangs and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. Every movie we see, Every story we're told implores us to wait for it, the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule. But sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. How to tell from the ones who want us and the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. And maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe... it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. Maybe the happy ending is... just... moving on. Or maybe the happy ending is this, knowing after all the unreturned phone calls, broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment you never gave up hope.
Girls are taught a lot of stuff growing up: if a boy punches you he likes you, never try to trim your own bangs, and someday you will meet a wonderful guy and get your very own happy ending. every movie we see, every story we're told implores us to wait for it: the third act twist, the unexpected declaration of love, the exception to the rule. but sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. how to tell the ones who want us from the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. and maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. maybe the happy ending is just moving on. or maybe the happy ending is this: knowing after all the unreturned phone calls and broken-hearts, through the blunders and misread signals, through all the pain and embarrassment... you never gave up hope.
"If you can find him, then he can find you. If he wants to find you, he will."
He is a man made up entirely of your excuses. And the minute you stop making excuses for him, he will completely disappear from your life.
Men, for the most part, like to pursue women. We (men) like not knowing if we can catch you. We feel rewarded when we do.
Don't let the "honeys" and the "babys" fool you. His sweet nothings are exactly that. They are much easier to say than "I'm just not that into you." Remember, actions speak louder than, "There's no cell reception where I am right now."
He will always be able to play the "friend" card on you. He only has to be responsible for the expectations of a friend, rather than the the far greater expectations of a boyfriend. He's got the ultimate situation: a great friend with all the benefits of a girlfriend, whom he can see or not see whenever he wants to. He may be one of your closest friends, but I'm sorry to say ... as a boyfriend, he's just not that into you.
Beware of the word "friend". It can often be used by men or the women that love them to excuse the most unfriendly behavior. Personally, when I'm picking friends, I like the ones who don't make me cry myself to sleep.
I don't want to be "sort of dating" someone. I don't want to be "kinda hanging out" with someone. I don't want to spend a lot of energy suppressing my feelings so I appear uninvolved. I want to be involved. I want to be sleeping with someone I know I'll see again because they've already demonstarted to me that they're trustworthy and honorable -- and into me.
You can't blame a guy for having feelings. You love someone, you break up, you still have feeling. Thank God for that really. But having feelings don't mean you have to have sex.
Every man you have ever dated who has said he doesn't want to get married or doesn't believe in marriage, or has "issues" with marriage, will ... rest assured ... someday be married. It just will never be with you.
Everyone wants to be loved and needed, particularly by the person who just broke up with us. I understand. What could be better than hearing from the man who just told you he didn't want you in his life anymore ... his sad, wistful, "I miss you so much" voice on the other end of the phone? It's validating. It's exciting. It's irresistible. But resist you must.
Every man you have ever dated who has said he doesn't want to get married or doesn't believe in marriage, or has "issues" with marriage, will ... rest assured ... someday be married. It just will never be with you.
A man who wants to make a relationship work will move mountains to keep the woman he loves. If he's not calling you to tell you he loves you and wants you back, it should only be because he's showing up at your new residence to do it in person ... if he's not doing any of that, he may love you, he may miss you, but ultimately he's just not that into you. Stop taking his calls and let him know what it's like to live without you.
Don't be flattered that he misses you. He should miss you. You're deeply missable. However, he's still the same person who just broke up with you. Remember, the only reason he can miss you is because he's choosing, every day, not to be with you.
No matter how powerful and real your feelings may be for someone, if that person cannot fully and honestly return them and therefore actively love you back, these feelings mean nothing.
Life is hard enough as it is without choosing someone difficult to share it with.
You deserve to be with someone who is nice to you all the time.
A girl will never sleep with you if she calls you "cuddly" or "dependable", if she pops a zit in front of you, if her name is Amber or Christine, if she takes a dump in your bathroom, or if she takes leftovers on dates one, two, or three. I know it's not scientific, but I'm just saying, you were warned.
What if you meet the love of your life, are you supposed to let
them pass you by?
But sometimes we're so focused on finding our happy ending we don't learn how to read the signs. How to tell from the ones who want us and the ones who don't, the ones who will stay and the ones who will leave. And maybe a happy ending doesn't include a guy, maybe... it's you, on your own, picking up the pieces and starting over, freeing yourself up for something better in the future. Maybe the happy ending is... just... moving on.
Friday, January 22, 2010
Sudah cukup...
Sudah cukup kamu hadir dalam sebulan terakhir ini…
Sudah cukup kamu menorehkan kenangan manis…
Sudah cukup kamu memberikan semangat yang mendorongku…
Sudah cukup kamu membagi sebagian kecil kisah hidupmu…
Sudah cukup kamu mulai memasuki bagian terpenting diriku…
Sudah cukup kamu mulai membuatku tertarik…
Sudah cukup kamu membuat aku rindu….
Sudah cukup kamu membuat resah diri ini…
Aku tak mengharapkan kekecewaan…
Itu sebabnya tak kulangkahkan kakiku…
Sudah cukup sampai di sini…
Sebelum ada luka terbentuk…
Aku ingin sekali melangkahkan kaki ini…
Namun pikiran membuat kusadar…
Jika tidak ingin sakit, jangan melangkah…
Aku akan tetap di sini…
Tahukah hal ini membuatku kacau…
Tahukah hal ini membuatku bimbang…
Perasaan ini menggangguku…
Kehadiranmu yang semu membuyarkanku…
Sudah cukup kubiarkan perasaan ini menjalar…
Aku harus berusaha melupakan ini…
Aku harus kembali ke tujuan semula…
Aku tak ingin kecewa akan perasaan ini…
Sudah cukup…
Sudah cukup…
Sudah cukup…
Sudah cukup…
Sudah cukup kamu menorehkan kenangan manis…
Sudah cukup kamu memberikan semangat yang mendorongku…
Sudah cukup kamu membagi sebagian kecil kisah hidupmu…
Sudah cukup kamu mulai memasuki bagian terpenting diriku…
Sudah cukup kamu mulai membuatku tertarik…
Sudah cukup kamu membuat aku rindu….
Sudah cukup kamu membuat resah diri ini…
Aku tak mengharapkan kekecewaan…
Itu sebabnya tak kulangkahkan kakiku…
Sudah cukup sampai di sini…
Sebelum ada luka terbentuk…
Aku ingin sekali melangkahkan kaki ini…
Namun pikiran membuat kusadar…
Jika tidak ingin sakit, jangan melangkah…
Aku akan tetap di sini…
Tahukah hal ini membuatku kacau…
Tahukah hal ini membuatku bimbang…
Perasaan ini menggangguku…
Kehadiranmu yang semu membuyarkanku…
Sudah cukup kubiarkan perasaan ini menjalar…
Aku harus berusaha melupakan ini…
Aku harus kembali ke tujuan semula…
Aku tak ingin kecewa akan perasaan ini…
Sudah cukup…
Sudah cukup…
Sudah cukup…
Sudah cukup…
Wednesday, January 20, 2010
Sedikit curahan hati...
Wahai sahabat mayaku... Ternyata telah lama saya tak bertukar kabar denganmu... Hidup saya belakangan ini cukup baik. Ternyata nilai saya tidak begitu hancur, saya tetap masih mampu mengambil mata kuliah yang lumayan banyak sehingga akan dipastikan nantinya akan sibuk sekali.
Ini sudah hari ketiga dimulai perkuliahan. Perasaan saya, saya ingin sekali cepat lulus, sobat. Saya ingin cepat meninggalkan ini semua, sobat. Saya merasa sedikit salah mengambil keputusan untuk menempuh kuliah di sini dan sangat memeras otak dan tenaga saya. Dengan begitu saya akan lebih berkembang bukan? Tapi saya merasa tidak nyaman dan merasa sedih bahkan menitikkan air mata setiap ingat akan hal ini. Dengan kondisi lingkungan yang kutempati sangat tidak kondusif,kian menyakiti hati ini. Saya rindu suasana rumah yang bersahabat. Mama dan papa yang selalu senantiasa melindungiku dan menjagaku. Saya sadar mereka tidak akan menjagaku selamanya dan suatu saat akan berpisah dengan saya. Hal yang saya yakin, mereka akan memberikan yang terbaik yang mampu diberikan. Mereka tidak akan menyakitiku dan membuatku menangis.
Saya hanya bisa memendam ini sendiri dan membagikannya denganmu sobat. Hanya kamu yang setia mendengarkanku. Oleh karena itu, tahukah kamu setiap kali saya mendapat masalah atau merasa kurang baik, pertama di oikiranku adalah engkau, tempat ku mencurahkan segalanya hingga ku merasa lebih baik. Saya tidak yakin akan bertahan tanpa engkau. Saya tidak bisa menceritakan pada mama. Meski beliau orang terdekat saya namun ada sesuatu dalam hati saya yang tak mampu kuceritakan dan tak ingin membuatnya mengkhawatirkanku di sini. Saya tidak bisa menceritakannya ke teman-teman dekat saya sekalipun karena mereka tidak akan pernah bisa mendengarkan dengan sepenuh hati karena memang tidak ada gunanya mendengar curahan hati saya.
Di saat saya memilih meninggalkan keluarga demi menimba ilmu, tahukah kamu banyak keinginan saya sobat? Saya berharap lebih bisa mandiri, bisa mendapatkan hal baru yang bermanfaat bagi saya, dan menerapkan seluruh ilmu saya nantinya. Iya, sekarang saya memang lebih mandiri. Saya mengerjakan semuanya sendiri, memiliki keberanian pergi sendiri, kadang suka menyendiri dan tidak bergantung pada orang lain sehingga kadang dikatakan aneh. Saya mendapatkan banyak hal baru yang membuka mata dan memperluas wawasan saya dan juga banyak hal baru yang menyakitkan yang memberikan tekanan dan membuatku terus mengeluarkan air mata. Sekarang, saya merasa saya tidak cocok di dunia akademis yang sekarang, tapi bukan saya namanya kalau mundur. Prinsip saya sekali ambil akan tetap ambil. Saya bukan orang rapuh yang merengek pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong atau pindah ke jurusan yang saya sukai dan menghabiskan waktu dan dana tambahan. Bukan saya namanya, hanya karena beberapa orang saya menjadi lemah dan tak berdaya. Di balik tangisan, saya harus memupuk kekuatan untuk memenangkannya.
Sering bertanya pada diri sendiri, semua temanku mendambakan seorang pacar. Apa gunanya sih seorang pacar? Orang yang setiap hari menelepon atau sekedar sms menanyakan kabarkah? Orang yang sering mengantarjemput kita kah? Orang yang selalu ada ketika kita membutuhkannya? Saya merasa tidak membutuhkan semua itu dari diri seorang pacar. Dia juga manusia yang punya kesibukan sendiri dan tidak setiap saat berada di samping kita. Atau seseorang yang dicintai? Benarkan selalu alasan cinta menjadi yang pertama dari sebuah hubungan? Kalau begitu mengapa begitu banyak perselingkuhan dan perceraian? Pernah terpikirkan lebih menyenangkan hidup sendiri lebih sederhana. Mama saya pernah mengatakan hidup sendiri mungkin akan menyenangkan namun tidak sempurna. Jadi, apa yang akan saya cari dalam sebuah hubungan? Saya belum bisa memastikannya. Saya orang yang bisa dikatakan pasif dan mungkin suatu saat akan ada orang yang aktif melengkapi saya. Bukankah begitukah yang disebut saling melengkapi?
If there's nothing missing in my life, why do these tears come?
Ini sudah hari ketiga dimulai perkuliahan. Perasaan saya, saya ingin sekali cepat lulus, sobat. Saya ingin cepat meninggalkan ini semua, sobat. Saya merasa sedikit salah mengambil keputusan untuk menempuh kuliah di sini dan sangat memeras otak dan tenaga saya. Dengan begitu saya akan lebih berkembang bukan? Tapi saya merasa tidak nyaman dan merasa sedih bahkan menitikkan air mata setiap ingat akan hal ini. Dengan kondisi lingkungan yang kutempati sangat tidak kondusif,kian menyakiti hati ini. Saya rindu suasana rumah yang bersahabat. Mama dan papa yang selalu senantiasa melindungiku dan menjagaku. Saya sadar mereka tidak akan menjagaku selamanya dan suatu saat akan berpisah dengan saya. Hal yang saya yakin, mereka akan memberikan yang terbaik yang mampu diberikan. Mereka tidak akan menyakitiku dan membuatku menangis.
Saya hanya bisa memendam ini sendiri dan membagikannya denganmu sobat. Hanya kamu yang setia mendengarkanku. Oleh karena itu, tahukah kamu setiap kali saya mendapat masalah atau merasa kurang baik, pertama di oikiranku adalah engkau, tempat ku mencurahkan segalanya hingga ku merasa lebih baik. Saya tidak yakin akan bertahan tanpa engkau. Saya tidak bisa menceritakan pada mama. Meski beliau orang terdekat saya namun ada sesuatu dalam hati saya yang tak mampu kuceritakan dan tak ingin membuatnya mengkhawatirkanku di sini. Saya tidak bisa menceritakannya ke teman-teman dekat saya sekalipun karena mereka tidak akan pernah bisa mendengarkan dengan sepenuh hati karena memang tidak ada gunanya mendengar curahan hati saya.
Di saat saya memilih meninggalkan keluarga demi menimba ilmu, tahukah kamu banyak keinginan saya sobat? Saya berharap lebih bisa mandiri, bisa mendapatkan hal baru yang bermanfaat bagi saya, dan menerapkan seluruh ilmu saya nantinya. Iya, sekarang saya memang lebih mandiri. Saya mengerjakan semuanya sendiri, memiliki keberanian pergi sendiri, kadang suka menyendiri dan tidak bergantung pada orang lain sehingga kadang dikatakan aneh. Saya mendapatkan banyak hal baru yang membuka mata dan memperluas wawasan saya dan juga banyak hal baru yang menyakitkan yang memberikan tekanan dan membuatku terus mengeluarkan air mata. Sekarang, saya merasa saya tidak cocok di dunia akademis yang sekarang, tapi bukan saya namanya kalau mundur. Prinsip saya sekali ambil akan tetap ambil. Saya bukan orang rapuh yang merengek pulang ke kampung halaman dengan tangan kosong atau pindah ke jurusan yang saya sukai dan menghabiskan waktu dan dana tambahan. Bukan saya namanya, hanya karena beberapa orang saya menjadi lemah dan tak berdaya. Di balik tangisan, saya harus memupuk kekuatan untuk memenangkannya.
Sering bertanya pada diri sendiri, semua temanku mendambakan seorang pacar. Apa gunanya sih seorang pacar? Orang yang setiap hari menelepon atau sekedar sms menanyakan kabarkah? Orang yang sering mengantarjemput kita kah? Orang yang selalu ada ketika kita membutuhkannya? Saya merasa tidak membutuhkan semua itu dari diri seorang pacar. Dia juga manusia yang punya kesibukan sendiri dan tidak setiap saat berada di samping kita. Atau seseorang yang dicintai? Benarkan selalu alasan cinta menjadi yang pertama dari sebuah hubungan? Kalau begitu mengapa begitu banyak perselingkuhan dan perceraian? Pernah terpikirkan lebih menyenangkan hidup sendiri lebih sederhana. Mama saya pernah mengatakan hidup sendiri mungkin akan menyenangkan namun tidak sempurna. Jadi, apa yang akan saya cari dalam sebuah hubungan? Saya belum bisa memastikannya. Saya orang yang bisa dikatakan pasif dan mungkin suatu saat akan ada orang yang aktif melengkapi saya. Bukankah begitukah yang disebut saling melengkapi?
If there's nothing missing in my life, why do these tears come?
Tuesday, January 5, 2010
Damn...
Berhadapan dengan komputer. Terdiam tak bersuara. Pagi-pagi ini aku mendapat kejutan saat bangun tidur. Sebuah kejutan yang membuatku lumayan terpukul. Apa yang sudah kulakukan? Mengapa hasilnya seperti ini? Meski tak sampai air mata mengalir namun hati ini terasa perih. Sepertinya keberuntungan tidak berpihak padaku lagi kali ini. Dia mungkin sudah lelah menemaniku selama satu tahun sebelumnya. Aku tak menyalahkan apapun dan siapapun. Aku tak mampu mencari alasan semua ini. Mungkin ini sepenuhnya salahku. Ataukah mungkin mereka dan mereka turut andil dalam kehancuran ini. Nilai semester ini merupakan nilai terjelek yang pernah kudapat. Aku tak menyangka yang kuprediksikan hancur malah lumayan bagus. Sementara yang aku yakin akan mendapatkan bagus karena aku bisa malah lumayan hancur. Ditambah lagi dia, dia mendapat nilai yang amat bagus. Aku merasa lebih terpukul lagi. Aku merasa minder dan tidak pantas. Apa yang bisa kubanggakan dari diriku? Aku tidak memiliki kelebihan yang menonjol. Yang ada pada diriku semuanya juga dimiliki orang-orang lain, adalah sesuatu yang normal. Aku tak tahu harus bagaimana. Setidaknya dengan nilaiku bagus, aku takkan seminder ini. Tapi, kenyataan berkata kebalikannya. Dia pasti tidak akan melihat diriku. Aku juga menyadari aku tak pantas untuk memimpikan posisi itu.
Ku menunggu dirinya
Aku mengaguminya sejak melihat dirimu.
Aku menyukaimu sejak berteman denganmu.
Aku menyayangiku sejak kutakut kehilangan dirimu.
Aku mencintaiku sejak kusadari kau bagian dari hidupku.
Dia gadis istimewa bagiku setelah ibuku. Mungkin menurut orang lain, dia hanyalah gadis yang biasa tapi bagiku dia gadis yang luar biasa. Tak bisa kujelaskan mengapa dia berhasil menempati bagian terpenting dalam relung hatiku. Pertama mengenalnya sudah membuat hati ini bergetar. Semakin mengenalnya ku semakin cocok dengannya hingga seakan tak mampu melepasnya lagi. Dia bukanlah gadis yang mudah untuk ditaklukkan. Jatuh bangun aku mengejarnya dan berusaha merebut hatinya namun hingga kini belum ada hasilnya. Pertama kali hati ini jatuh cinta, ingin rasanya berakhir bahagia. Apa daya sikapnya membuatku ragu akan perasaannya terhadapku. Keyakinan yang awalnya menggebu saat dia memberi sinyal mendadak kandas saat dia memilih lebih baik berteman. Tentu saja aku tak begitu mudah melepasnya. Aku merasa dia wanita paling cocok yang pernah kutemui. Ini pertama kalinya aku merasakan getar dan gejolak luar biasa dalam hatiku dan takkan kubiarkan berakhir sedih.
Kau begitu mempesona
Kau begitu anggun
Kau menggetarkan diriku dengan pesonamu
Kau mewarnai hatiku dengan anggunmu
Ingin sekali kugapai engkau
Ingin sekali kumerangkul dirimu
Ingin sekali ku menjadi pelindungmu
Ingin sekali ku menjadi pangeranmu, putri…
Akan kutunggu dirimu dengan sabar
Hati bekumu akan kubakar dengan semangatku
Ku sabar menanti saat itu tiba
Hingga ku menjadi pangeranmu sebenarnya…
Untuk seseorang yang sedang menunggu dirinya... Semangat yach!!!
Aku menyukaimu sejak berteman denganmu.
Aku menyayangiku sejak kutakut kehilangan dirimu.
Aku mencintaiku sejak kusadari kau bagian dari hidupku.
Dia gadis istimewa bagiku setelah ibuku. Mungkin menurut orang lain, dia hanyalah gadis yang biasa tapi bagiku dia gadis yang luar biasa. Tak bisa kujelaskan mengapa dia berhasil menempati bagian terpenting dalam relung hatiku. Pertama mengenalnya sudah membuat hati ini bergetar. Semakin mengenalnya ku semakin cocok dengannya hingga seakan tak mampu melepasnya lagi. Dia bukanlah gadis yang mudah untuk ditaklukkan. Jatuh bangun aku mengejarnya dan berusaha merebut hatinya namun hingga kini belum ada hasilnya. Pertama kali hati ini jatuh cinta, ingin rasanya berakhir bahagia. Apa daya sikapnya membuatku ragu akan perasaannya terhadapku. Keyakinan yang awalnya menggebu saat dia memberi sinyal mendadak kandas saat dia memilih lebih baik berteman. Tentu saja aku tak begitu mudah melepasnya. Aku merasa dia wanita paling cocok yang pernah kutemui. Ini pertama kalinya aku merasakan getar dan gejolak luar biasa dalam hatiku dan takkan kubiarkan berakhir sedih.
Kau begitu mempesona
Kau begitu anggun
Kau menggetarkan diriku dengan pesonamu
Kau mewarnai hatiku dengan anggunmu
Ingin sekali kugapai engkau
Ingin sekali kumerangkul dirimu
Ingin sekali ku menjadi pelindungmu
Ingin sekali ku menjadi pangeranmu, putri…
Akan kutunggu dirimu dengan sabar
Hati bekumu akan kubakar dengan semangatku
Ku sabar menanti saat itu tiba
Hingga ku menjadi pangeranmu sebenarnya…
Untuk seseorang yang sedang menunggu dirinya... Semangat yach!!!
Subscribe to:
Posts (Atom)