Always be grateful

Always be grateful
Just enjoy the path...

Dear YOU

Hello pals!

You come from everywhere...
Here are some stories of mine...
Puzzles that i keep searching through my life

Hope my writing will inspire you...
Make you figure out, when you're sad, there's someone worse than yours.
Make you realize that happiness is something you should share to others.

So, enjoy the pieces of mine ^^

Friday, December 18, 2009

Sedih...

Sedih... air mata... Beberapa hari ini ku melihat bertaburan air mata dari beberapa temanku. Mereka sedang berteman baik dengan kesedihan itu. Aku pun bertanya dalam hati sepertinya saya cukup kuat untuk masalah yang dihadapi mereka. Hati saya ikut merasaka kesedihan mereka. Ingin sekali ku menggantikan posisi mereka karena sku merasa aku lebih kuat menghadapi daripada mereka yang begitu rapuh. Namun di satu sisi mereka tetap harus menjalaninya agar mampu menghadapi sesuatu yang lebih besar, membentuk mental mereka. Beberapa nasihat kulontarkan pada mereka. Akan tetapi, sebenarnya aku sendiri juga memiliki masalah yang tak kunjung selesai dan terus berulang-ulang dari satu waktu ke waktu lain. Yang oleh orang lain dikatakan aneh. Memang benar, mungkin banyak kebiasaanku aneh menurut orang lain, namun itulah cara aku dapat bernafas bebas, dengan cara seperti itu aku dapat merasakan detik-detik yang kulewati, dan dengan cara seperti itu aku dapat belajar untuk kuat melewatinya dan menganggao itu sebagai latihan. Latihan dan proses untuk menjadi sosok yang lebih baik dan dapat menopang seluruh temanku.

Air mata... Sedih... engkau membuat seseorang belajar...
Membuat seseorang berani menghadapi...
Namun bisa membuat seseorang jatuh terpuruk...
Tak berani bangkit...

Kurang dari dua minggu lagi kita semua akan menutup tahun ini. Dari lubuk hatiku yang terdalam berharap seluruh temanku dapat berada dalam zona kebahagiaan untuk mengakhiri tahun ini agar memiliki api semangat untuk melanjutkan ke tahun berikut.

Friday, December 11, 2009

Masa, jalan, tapak, detik

Kukembali hadir dengan jejak-jejak tangan…
Semoga tidak bosan-bosannya engkau mendengar curahan hatiku…
Di mana pun engkau berada… siapapun engkau…
Wahai makhluk-makhluk di luar sana…
Mungkin aku tak mengenalmu… bahkan tidak mengetahui namamu…
Dengan tulus sepatah kata terima kasih kuucapkan…
Untukmu orang yang begitu istimewa membaca curahan ini…

Lebih dari dua minggu, tidak sampai tiga minggu lagi diri ini akan berjalan melangkah ke sebuah masa yang lain… ke suatu waktu yang lain. Angka terakhir pada tahun bertambah satu. Hanya satu setelah perjalanan panjang selama duabelas masa. Setelah kelelahan menempuh limapuluh dua jalan dan juga cucuran tenaga melangkah tigaratus enampuluh lima tapak. Sesampainya di penghujung masa, di tepi jalan, di tapak terakhir, perasaan ibarat campur warna di galaksi, panas, penuh warna, menggejolak, sangat luar biasa. Penantian lama tak sanggup bertahan untuk tidak meledak. Terciptalah perayaan yang sungguh meriah, kembang api mewarnai angkasa menggambarkan warna hati sesungguhnya. Pesta yang menggambarkan perjalanan hidup. Di saat mempersiapkannya akan ada banyak halangan, rintangan, cobaan. Di saat menikmatinya rasa bahagia memuncak dan melepas semua beban di hati ini. Di saat pesta telah usai, yang ada hanyalah rasa lelah namun bahagia. Terompet ditiup riang memeriahkan suasana. Dalam perjalanan hidup, kadang kala kita merasa bosan, perlu ada teriakan-teriakan menghidupkan suasana. Itulah orang-orang di samping kita yang senantiasa mendukung. Kadang kalanya kita merasa tuli atau tidak sadar akan apa yang kita lakukan. Itulah orang-orang di samping kita yang akan mengingatkan kita. Terompet itulah orang-orang di sekitar kita. Detik-detik menuju pergantian tahun, acara “countdown” selalu tak pernah terlewatkan. Berkumpul bersama dengan orang-orang yang kita sayangi bahkan orang yang tak kita kenal sekalipun. Dalam menjalani sehari-hari kita tidak hanya butuh orang-orang yang kita kenal tapi juga orang-orang asing untuk mendukung kita. Saat menghitung bersama, detik-detik itu detik-detik yang sama di saat kita melangkah setapak, di saat kita berjalan hanya saja sekarang kita beralih ke sebuah masa. Detik-detik itu mengajarkan pada kita begitu berharganya bukan hanya untuk sebuah masa yang akan dijalani, melainkan juga untuk jalan yang kita lalui dan langkah tapak kita. Detik-detik itu persis sama dengan tigaratus enampuluh lima tapak yang telah kita jalani. Yang saat dia berlalu, tidak akan pernah bisa menggapainya lagi. Detik-detik ini menjadi sangat berharga hanya karena dia berada pada skala yang lebih besar yaitu masa bukan pada jalan maupun tapak. Ini jarang kita sadari dalam kehidupan kita, seringkali kita menganggap sesuatu hal itu istimewa hanya karena suatu kondisi padahal sesuatu yang sama itu pernah kita dapatkan bahkan jauh lebih sering dan sering tidak dihargai. Setelah angka tahun itu bertambah, kita sibuk mengucapkan “selamat” kepada semua orang yang kita kenal bahkan pada semua orang yang bersama dengan kita pada saat itu. Kata “selamat” merupakan satu kata yang sangat bagus. Dia memiliki kekuatan menghargai prestasi seseorang, dia juga memiliki aura membuat orang bahagia, juga membuat orang puas akan kerja kerasnya. Untuk itu, kata tersebut hendaknya diucapkan ke semua orang tanpa terkecuali mengingat efeknya yang luar biasa. Namun sering kali, kita melakukannya hanya pada orang-orang dekat atau yang dikenal saja. Jauh di alam bawah sadar kita dapat melakukannya terhadap semua orang. Sebagai buktinya, ucapan selamat saat menyambut tahun baru. Kebahagiaan saat tiba di tahun yang baru melambangkan tak peduli siapapun, kebahagiaan yang kita dapatkan kita dapat membagikannya ke semua orang, keceriaan yang ada merangkul semua orang. Semangat membara yang ada untuk menjalani tahun ini lebih baik dari tahun sebelumnya seakan-akan kita menyalurkannya ke banyak orang. Bersama-sama dengan semangat, menopang, saling mendukung, tersenyum satu sama lain, bahkan kadang air mata mengalir sebuah kepercayaan akan lebih baik dari sebelumnya.

Mengamati proses penyambutan masa yang baru, tahun yang baru, mengandung arti yang sangat mendalam. Bertambahnya usia, bertambahnya segala hal membuatku merenungkan akan berkurangnya usia, berkurangnya segala hal, karena pada dasarnya tidak ada yang kekal di dunia ini. Masa depan itu tidaklah pasti. Ekspektasi yang berlebihan akan membuatmu jatuh dan merasakan sakit yang mendalam. Mimpi adalah khayalan. Memang benar, tapi tidak akan selamanya menjadi khayalan jika kamu berhasil mewujudkannya menjadi kenyataan. Jadi, bebas bermimpi asal kamu mampu mewujudkannya, jika tidak sanggup maka janganlah bermimpi. Sama halnya dengan ekspektasi, jika kamu berani berharap demikian maka harus berani juga mewujudkannya. Di saat kamu tidak memiliki keberanian itu ekspektasi dan mimpimu hanya akan menjadi khayalan dan selamanya akan menjadi mimpi yang tak pernah kamu gapai. Selama setahun ini aku belajar mengenai ini. Jangan meletakkan ekspektasimu terlalu tinggi karena di saat kamu jatuh kamu bisa saja tak mampu bangkit. Tetapi berusahalah menjalani apa yang sedang kamu hadapi sebaik mungkin karena mungkin saja hasilnya akan jauh lebih dari ekspektasimu bahkan mimpimu karena kamu sepenuh hati menjalaninya. Who knows? Masa depan tidak dapat diramalkan. Kita hidup di masa sekarang, menghargai detik-detik yang sedang kita lalui adalah yang paling berharga. Mengabadikan setiap momen baik yang bahagia, sedih, terpuruk, bangkit, berhasil, gagal, merupakan hal terindah dalam hidup, kombinasi warna yang sungguh istimewa. Tidak akan ada bahagia jika tidak ada sedih. Tidak akan ada bangkit, jika tidak ada terpuruk. Tidak ada berhasil jika tidak ada gagal. Dualisme itu tak mampu dipisahkan. Bersyukurlah pernah mengalami dan menjalani semuanya. Jatuh bangun seperti ini akan membuat hidup lebih bermakna dan jantungmu berpacu. Inilah hidup. Nafas yang keluar, nafas yang masuk, darah yang mengalir, indera yang menangkap rangsangan, ekspresi, tenaga, perasaan, alangkahnya sempurnanya hidup ini. Untuk itu berkaryalah seakan detik-detik sangat berharga dan takkan pernah kamu dapatkan lagi di detik esok…

Mengutip beberapa baris kalimat yang pernah sesorang utarakan dan sangat menginspirasi saya…
Kutipan dari seorang penulis sukses:
“Tuhan menciptakan api sebagai penyeimbang keteduhan air, penyakit untuk menghargai kesehatan, kematian untuk menghargai kehidupan.”
Pertanyaan dari seseorang:
“Kapan waktu paling penting?”
“Saat ini.”
“Siapa orang paling penting?”
“Orang-orang yang sedang bersama Anda.”
“Perbuatan apa paling penting?”
“Peduli.”

Makna

Sampai pada hari ini…
Menemukan sebuah arti…
Mendalam… Mengesankan… Mengharukan…
Makna hunusan pisau ke ulu hati…

Makna yang kosong… hampa… tak berinti…
Sedalam sebiru seluas hamparan lautan…
Setinggi sebiru seluas hamparan angkasa…
Tanpa batas… tanpa lingkung… tanpa ruang…

Mekar bunga harum semerbak…
Hijau daun segar bertumbuh…
Buah segar bergantung…
Batang kokoh mengayungi...

Adakah yang tahu makna ini?
Mengapa ada makna ini?
Bagaimana mengatasi makna ini?
Siapa pemilik makna ini?

Thursday, December 10, 2009

Autis day and first experience

Tertanggal 10 Desember 2009 saya menjalani hari ini dengan autisme tingkat tinggi. Tidak tahu mengapa, hanya ingin menjalani hari ini dengan begitu. "Sedang ingin sendiri" mungkin itulah pernyataan yang cocok. 2 matkul UAS hari ini tidak bisa dikatakan sukses. Untuk itu saya melepas stress ke salah satu mall untuk menonton film The Reader. Can't you imagine I'm alone? Sebenarnya selain film itu saya ingin nonton dari dulu juga karena saya merasa film ini akan tidak begitu banyak penontonnya. Ternyata dugaan saya benar. Ternyata juga ada yang orang yang senasib dengan saya. Dia cowok lagi, nonton sendiri. Dia duduk tepat di sebelah saya.

Setelah itu saya belanja makanan di supermarket kemudian pulang. Untung saja tak lama kemudian turun hujan deras. Sepertinya hari ini keberuntungan masih berada di pihak saya. Merenungkan pagi hari ini. Salah satu dari mereka kembali membuat saya kecewa. Apa susahnya menanyakan pada saya? Saya sungguh heran. Mengapa selalu begitu? Semuanya ditanyakan satu per satu bahkan yang sedang sibuk sendiri sekalipun. Sedangkan saya, kalau sibuk takkan ditanyakan lagi karena saya sedang tidak sibuk saja tidak akan ditanyakan. Seperti malam ini, hiruk pikuk di luar kamar. Semuanya asik merayakan ulang tahun. Susahkan sebuah sms pemberitahuan akan hal itu? Sudahlah, saya lelah membahas kejadian demi kejadian yang mengulang dari waktu ke waktu dan tidak pernah mengalami perbaikan ke arah lebih baik. Saya hanya bisa menerimanya semuanya dengan lapang dada and sure I'll go on my way...

Sunday, November 22, 2009

Bad Day

Hari ini saya benar-benar menelan banyak kekesalan. Dimulai dari sarapan hingga makan malam. Hari yang luar biasa mengesalkan. Pagi hari yang cerah dengan suasana hati yang bagus rusak karena hal yang itu-itu lagi. Apa sih susahnya menanyakannya padaku. Menanyakan dan mengajak orang lain sarapan di hadapanku. Sama sekali tidak menanyakan padaku. Ingin sekali saya tidak memiliki telinga saja agar tak perlu mendengar semuanya. Berangkat ke kebun binatang yang tidak tepat waktu, hujan yang lumayan deras yang mengacaukan seluruh rencana bahkan menyantap makan siang di tempat yang sangat tidak nyaman. Jadwal pulang yang sangat telat dari yang dijanjikan dengan acara yang membuat saya bosan. Sekarang makan malam. Andai saya tidak berjanji untuk makan malam bersama maka saya tidak perlu menelan kekesalan lagi. Sayangnya saya terlanjur janji. Bahkan untuk makan malam saja saya mesti menunggu. Benar-benar menguji kesabaran saya. Jika say membatalkannya akan dikatakan tidak menghargai sehingga dengan TERPAKSA menunggu. Mengapa hari ini hari saya kacau dibuat oleh mereka-mereka. Today is really a bad day...

Saturday, November 21, 2009

Mereka

Mereka jarang mengajakku…
Aku tak tahu apa alasannya…
Aku berusaha membuka diriku pada mereka…
Aku juga sering megajak mereka…
Jawaban yang kudapat adalah sebuah penolakan…
Bahkan sering kali mereka tidak peduli terhadap perasaanku…
Merencanakan pergi ke suatu tempat di depan mataku…
Tentu saja tidak menanyakan bahkan mengajak…
Sering kali juga seluruh personil ditanyai satu per satu…
Dan aku akan menjadi yang terlupakan…
Itulah mereka…
Mau kumembuka diri hingga bagaimanapun…
Aku akan tetap berada di luar lingkaran itu…
Mereka telah mengisolasinya…
Aku harus memupuk kesabaran melihat semua itu…
Aku harus berlapang dada mendengar semua itu…
Agar tidak terjadi konflik lagi…
Biar saja aku yang diam dan memendam semuanya…
Dan juga kuputuskan…
Tak akan mengajak daripada kecewa…
Tak akan bersuara daripada tak dihiraukan…

Sunday, November 1, 2009

Dua


Diri ini tak berdaya, selalu menatapnya hanya dari jauh
Tanpa berani bergerak dan berpindah tempat.
Dia terlalu jauh dan tinggi untuk diraih.
Dia dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Aku mampu menerima sosok dirinya.
Aku sering merindukannya bahkan terbayang olehnya.
Membawa wajahnya dalam mimpi.
Terbangun dengan kenyataan tak semanis itu.

Sosok yang lain lagi hadir di samping dia.
Tak sadar aku mulai membandingkan mereka.
Aku hanya mengenalnya sekilas.
Yang kutahu tentang dirinya jauh lebih sedikit dari dia yang awal.
Dia menarik perhatianku sejak pertama kali bertemu sama seperti dia yang awal.
Segala kelebihan yang dia miliki membuatku merasa tak pantas di hadapannya.
Dia juga terlalu tinggi untuk kuraih.

Aku menyukai keduanya.
Kadang bahkan merasa diri ini egois.
Apa mau dikata, mereka berdua menarik.
Aku menyukai mereka dengan segala kelebihan dan kekurangan.
Selalu hanya menatap dari jauh tanpa berani mendekat.
Takut hati ini sakit, takut hati ini terluka.
Keadaan sekarang sudah baik.
Berharap suatu hari akan bersama salah satu dari mereka.
Ataukah mungkin ada sosok lain yang mampu membuatku menoleh lagi.